Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 226


__ADS_3

"Kita bisa naik bis," ucap Arka. "Tapi seperti nya aku akan di jemput sama Papah ku."


"Kamu bilang saja kalau kamu pulang sama aku, jadi gak repot-repot deh."


Mita segera menghubungi Papah nya. Namun ternyata papah nya sudah terlanjur datang dan membawa Mita pergi.


"Huff, baru saja mau merasakan naik bisa berduaan sama Mita, eh malah keburu udah di jemput duluan."


Shela segera pulang ke rumah nya. Sesampainya di rumah dia langsung ke kamar nya.


Langsung mandi karena sudah sangat gerah, begitu banyak aktifitas di sekolah yang dia lakukan walaupun tidak belajar.


Setelah selesai mandi dia membuka handphone nya berharap ada pesan dari kekasih nya. Namun ternyata tidak ada.


Dia tidak begitu kecewa, karena dia tau tugas kekasih nya sebagai ketua dan penanggung jawab pasti tidak sempat untuk membuka handphone nya.


Dia juga tau kalau kekasih nya sering kali meninggal kan handphone nya ketika sudah sangat sibuk.


Shela membuka Instagram dan melihat postingan para kakak kelas.


Orang yang pertama di cari oleh Shela di foto-foto itu adalah Saska.


"Ganteng banget sih dia," ucap Shela tergila-gila. Namun dia tidak suka karena apa-apa pasti dekat dengan Tina dan Tina juga di rangkul oleh Saska ketika sedang berfoto.


"Apa-apaan sih ini! Hufff," Shela kesal. Akhirnya dia memutuskan untuk keluar agar tidak terlalu pusing di rumah saja."


Seperti biasa dia akan mencari makanan di dapur, karena sudah ada Bibik jadi yang masak sekarang adalah Bibik. Dia mencari adik nya.


"Halo Laura... kakak sangat rindu kamu, apa kamu merindukan kakak?" tanya Shela ketika masuk ke kamar orang tua nya.


Jeki dan Minhui sedang tiduran di kasur. "Bagaimana nginap di rumah Tante Kania?" tanya Jeki.


"Seperti biasa pah, emang nya kenapa?"


"Gak apa-apa sih, hanya penasaran saja."


"Tumben Papah jam segini di rumah, mana sok romantis lagi tu," ucap Shela karena Jeki memeluk Minhui.


"Kamu cemburu? Makanya cari pacar," ucap Jeki. Mereka tertawa.


"Papah tidak punya kerjaan hari ini, Papah seharian di rumah istirahat bantu mamah jagain Laura." ucap Jeki.


"Pah, setelah ini gak usah punya anak lagi yah, Papah sama Mamah sudah tua, aku juga sudah dewasa apa kata teman-teman ku kalau aku masih punya adik di usia sekarang."


Jeki dan Minhui tersenyum. "Kalau rejeki tidak boleh di tolak, karena banyak anak banyak rejeki," ucap Jeki.


Minhui dan Jeki hanya bisa tertawa melihat wajah Shela yang prustasi.

__ADS_1


"Kamu sebaiknya istirahat gih, pasti lelah kan, sambil berdoa nilai kamu bagus," ucap Jeki.


"Humm Papah tidak percaya kalau nilai ku bagus?" tanya Serli. Jeki menggeleng kan kepala nya.


"Kalau aku mendapatkan nilai yang bagus, Papah harus memberikan aku Hadiah."


"Papah akan menuruti permintaan kamu."


"Aku mau mobil baru."


"baiklah kalau begitu," ucap Jeki.


"Bukan hanya itu, aku juga mau belajar nyetir sendiri."


"Humm kalau kamu sudah siap, Papah mengijinkan nya, hanya saja belum bisa ke jalan raya karena belum ada SIM," ucap Jeki.


Tidak terasa sudah satu Minggu..


Shela sudah menunggu di halte bersama Kania dan juga Vincent serta Arka menjemput Saska.


Shela tidak sabar bertemu dengan kekasih hati nya itu. Tidak beberapa lama bus nya berhenti di halte.


"Mamah sama papah sudah lama nungguin nya?" tanya Saska setelah selesai mengurus anggota yang ikut.


"sudah nak, kami sangat merindukan kamu, bagaimana perjalanan nya?" tanya Kania.


Shela hanya diam, Saska bahkan tidak menyapa nya. Saska lebih fokus kepada kedua orang tua nya.


Mereka pergi meninggalkan halte, karena Shela menggunakan mobil sendiri dia tidak ikut dengan mereka.


Shela menghela nafas panjang sambil masuk ke dalam mobil.


"Kenapa non?" tanya supir nya.


"Dia yang meminta ku datang menjemput nya ke sini, namun ternyata dia mengabaikan ku, sama sekali tidak menoleh ke arah ku."


supir hanya bisa tersenyum saja. "Mungkin Saska tidak mau membuat orang tua nya curiga dengan hubungan kalian," ucap pak supir.


"Iyah sih pak," ucap Shela.


"Kita mau kemana sekarang Non?" tanya supir. "Jalan-jalan saja pak, aku tidak mau pulang sekarang.


Tiba-tiba ada pesan masuk. "Tumben banget kamu dandan cantik seperti tadi, aku minta maaf yah harus mengabaikan kamu karena Mamah sama Papah ada."


Pesan itu membuat Shela yang tadi nya sangat sedih sekarang sedikit bahagia karena di puji cantik, jadi tidak sia-sia dia dandan dan beli baju baru.


"Iyah gak apa-apa kok."

__ADS_1


"Nanti malam aku mau ngajakin kamu makan malam, kamu bisa kan?"


"Pak, Saska ngajakin makan malam," ucap Shela senang kepada supir nya.


"Terima saja Non, saya ada rekomendasi tempat yang bagus untuk makan malam dan pasti cukup privasi."


Shela langsung mau dan memberikan tempat nya.


Di malam hari nya...


"Sayang.. kamu mau kemana dandan seperti ini?" tanya Minhui kepada Shela.


"Biasa mah, mau jalan-jalan sama Dewi."


"Tapi gak harus seperti ini, kamu terlalu berlebihan."


"Emang gak cantik yah?"


"Cantik sih, tapi kamu seperti pergi sama cowok saja."


"Siapa tau nanti di sana ada cowok mah, " ucap Shela mengalihkan pembicaraan agar mamah nya tidak curiga.


"Ya udah deh sana, jangan pulang terlalu malam."


"hufff, untung saja bisa lolos. Biasanya mamah tidak pernah perduli aku pergi malam, asal kan pulang tepat waktu saja, namun ini baru saja jam tujuh sudah di tanyain dan di intimidasi."


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di tempat.


"Bapak bisa pulang lebih dulu, aku akan pulang dengan kak Saska nanti nya," ucap nya kepada supir.


Sebelum masuk dia melihat mobil Saska sudah terparkir.


"Kok aku gugup yah, apa aku sudah cantik? Hum semoga saja aku tidak salah tingkah membuat aku malu nanti nya," ucap nya.


Dia masuk ke dalam restoran itu, tidak terlalu ramai namun sangat cantik seperti nya tempat baru.


Dari kejauhan dia melihat Saska duduk di meja yang sudah mereka pesan sebelum nya.


"Ya ampun, kak Saska ganteng banget sih pakai kemeja seperti itu, dia terlihat dewasa banget," batin Shela.


Saska berdiri melihat Shela dari atas sambil ke bawah kaki nya.


"Kenapa kak? Kakak gak suka yah?" tanya Shela karena tatapan Saska sangat aneh bagi nya.


Saska menggeleng kan kepala nya. "Bukan seperti itu, apa kamu tidak takut masuk angin memakai dress terbuka seperti itu? Bagaimana dengan heels mu? apa itu tidak terlalu tinggi?" tanya Saska.


"Aku rasa ini bagus dan aku sudah terbiasa. Kalau Kakak tidak suka aku tidak akan memakai dres seperti ini lagi," ucap Shela.

__ADS_1


__ADS_2