
"Jangan berfikir yang aneh-aneh yah paman! Aku akan memberikan minyak panas kepada paman." karena Kania sudah terbiasa dengan pakaian seperti itu.
"Cepat lah ganti sebelum saya melakukan sesuatu yang tidak baik."
"Huh dasar pria mesum! aku yakin tidak akan ada perempuan yang mau sama paman!"
"Kata siapa? Kamu akan menjadi istri saya cepat atau lambat."
"Aku tidak mau." Kania langsung ke kamar mencari pakaian yang sedikit lebih besar.
Namun ternyata beberapa hari di sana pakaian yang dia bawa sudah habis.
Tidak ada pilihan lain dia memakai pakaian paman nya.
Setelah dia keluar dari kamar Vincent tertawa melihat Kania.
"Berhenti menertawakan aku!"
"Baiklah, ayo kita makan kalau begitu."
Tidak beberapa lama akhirnya selesai makan Vincent duduk di sofa depan TV. Dia baru sadar kalau Kania tidak ada di sana.
"Loh kemana Kania?"
Dia menyusui ke kamar.
"Kamu sedang apa?" tanya Vincent kepada Kania yang sedang duduk di atas kasur fokus dengan laptop nya.
"Aku sedang mengerjakan tugas."
"Ini sudah malam, kenapa kamu masih mengerjakan tugas?"
"Jangan ganggu aku paman, pergi lah jauh dari ku."
"Ckk kamu sangat kasar sekali."
Kania melihat Vincent yang memasang wajah cemberut.
"Aku boleh minta tolong?"
"Ada apa?"
"Humm aku tidak paham beberapa dengan soal yang ini, apa Paman tau?"
Vincent memeriksa nya, dan tentu saja dia paham dan langsung menjelaskan kepada Kania.
Cukup lama akhirnya tugas nya selesai.
Vincent menutup laptop Kania dan meletakkan nya di meja nakas.
"Ayo tidur." Ajak Vincent.
"Tapi aku belum ngantuk."
Vincent mengambil handphone Kania, "Saya minta kamu untuk tidur!"
Kania menghela nafas panjang.
"Baiklah." Kania berbaring di tempat tidur.
Vincent tersenyum. Tidak lupa juga Kania membuat pembatas di antara mereka berdua.
Tidak beberapa lama Vincent langsung tidur karena dia cukup lelah sepanjang hari bekerja.
Kania melihat handphone Vincent.
"Aku harus memastikan kalau paman Vincent tidak memiliki wanita."
Kania mau mengambil handphone Vincent namun Vincent Bergeliat dan langsung memeluk Kania sehingga Kania sulit bergerak.
"Kania... saya sangat mencintai kamu."
Vincent mengigau.
__ADS_1
Keesokan harinya...
Kania terbangun karena merasa hidup dan pipi nya di sentuh.
Perlahan dia membuka mata nya.
"Good morning cantik."
Kania bergeliat dia melihat jam ternyata sudah jam delapan.
"Kenapa Paman belum berangkat bekerja?"
"Apa kamu tidak mau ikut saya bekerja?"
Kania langsung duduk.
"Apa aku boleh ikut?"
Vincent mengangguk.
Kania tersenyum. "Baiklah kalau begitu aku akan mandi."
Vincent mengangguk sambil tersenyum. Vincent yang sudah mandi dari tadi langsung keluar dari kamar.
Tidak beberapa lama Kania siap dan sudah tampil cantik seperti biasa.
"Aku sudah selesai paman," ucap Kania.
Vincent tersenyum.
"Cantik, kalau begitu ayo makan dulu."
Kania mengangguk. Vincent selalu saja terpesona dengan kecantikan Kania yang sama sekali tidak membosankan.
Sesampainya di kantor Kania mengikuti Vincent bekerja bahkan sambil meeting juga dia melihat Vincent.
Namun ternyata Paman nya di kantor benar-benar sangat dingin dan juga sangat galak.
Kania di tawarin jus oleh Staf.
"Terimakasih banyak."
"Ngomong-ngomong setiap hari apa Paman Vincent selalu seperti itu?" tanya Kania.
Staf mengangguk.
"Biasanya jauh lebih galak."
"Tidak ada satu pun orang yang berani membantah nya atau berkomentar."
Kania mendengar mereka semua Kania seketika langsung terdiam."
"Sekarang Pak Vincent jauh lebih galak karena masalah nya, kami hanya bisa melakukan yang terbaik Tampa membebani nya."
Kania terdiam sejenak dia jadi merasa bersalah karena tidak memahami posisi Vincent.
Hari sudah siang Kania datang ke ruangan Vincent.
"Paman aku membawa kan makan siang dan juga minuman, Paman makan siang dulu," ucap Kania namun dia sangat kaget karena ternyata di ruangan itu ada Tia dan juga beberapa Staf lain nya.
"Maaf aku tidak tau kalau paman masih bekerja."
Vincent melihat ke arah Kania sambil tersenyum.
Para Staf dan orang yang ada di ruangan itu terkejut karena Vincent ternyata bisa tersenyum. Namun senyuman itu hanya kepada Kania.
Tia yang melihat nya saja cemburu.
"Kamu duduk lah, sebentar lagi akan selesai."
__ADS_1
Kania sedikit canggung masuk membawa makanan yang sangat banyak itu.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai.
"Tia terimakasih sudah membantu saya menyiapkan ini, kamu bisa istirahat."
"Baik pak, kalau begitu saya permisi dulu."
Setelah mereka semua keluar Vincent melihat Kania dan makanan yang sangat banyak di atas meja.
"Aku membeli semua makanan ini untuk Paman."
Vincent duduk di samping Kania membuka jas nya.
Kania menyiapkan makanan untuk Vincent.
"Paman aku dengar kalau dekat sini ada pantai, apa Paman mau mengajak ku ke sana?"
"Saya tidak bisa janji karena saya tidak tau kapan saya pulang."
"Humm bagaimana kalau aku bantuin paman bekerja?"
"Emang kamu bisa?"
"Humm aku rasa tidak ada salah nya sekalian belajar."
Vincent mendengar itu sangat senang sekali, Kania yang dia kenal adalah yang sangat benci bekerja sama seperti nya.
Vincent menatap wajah Kania.
Vincent menatap Kania yang hampir menghabiskan semua makanan yang dia beli sendiri.
"Aku sangat Lapar paman."
Vincent mengelus kepala Kania.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai Kania mulai belajar sedikit demi sedikit dengan Vincent.
"Wahh ternyata cukup sulit dan susah di mengerti juga." ucap Kania.
Vincent tersenyum. "Paman apa sebelum nya paman juga sangat kesusahan?"
Vincent menggeleng kan kepala nya.
"Dari saya kecil saya sangat suka berbisnis dan cita-cita saya menjadi pengusaha. Saya sangat suka itu sebabnya saya tidak kesusahan."
"Hum aku sangat penasaran dengan orang tua kandung paman, aku yakin mereka pasti sangat pintar karena Paman sangat pintar."
"Orang tua saya Omah dengan Opah, jangan membahas mereka lagi!"
Tiba-tiba Kania terdiam. Dia melihat wajah Vincent yang tiba-tiba datar.
"Maaf Paman, aku tidak tau kalau paman tidak mau aku membahas ini."
Mereka lanjut bekerja sampai tidak terasa sudah Sore saja.
"Yahh kita tidak jadi ke pantai melihat sunset yang bagus di sana."
"Yang saya tau semakin malam di sana semakin enak karena banyak lampu-lampu, apa kamu tetap mau pergi ke sana?"
Kania menatap paman nya.
"Tapi paman pasti sudah sangat lelah."
"Besok kamu sudah pulang, sebaik nya sekarang kita harus ke sana agar saya tidak memiliki hutang kepada kamu."
Kania tersenyum dan mengangguk. Dia sangat bersemangat.
"Humm sebaiknya paman duduk dengan tenang di sini, biar aku saja yang nyetir."
"Kamu yakin?" tanya Vincent terlihat sangat ragu.
"Kapan lagi paman memiliki supir cantik seperti ku."
__ADS_1
Mendengar itu Vincent tersenyum.
"Tu kan senyum lagi, Paman dari tadi cemberut." ucap Kania.