
Tomi memegang tangan Fani. "Dengarkan aku baik-baik, aku tau kamu pasti cemburu. Tapi saling percaya adalah hal yang utama agar hubungan kita langgeng," ucap Tomi.
"Huff iya deh, tapi sekali lagi kamu seperti itu, aku akan marah."
"Iyah sayang, enggak lagi, aku minta maaf."
Tomi tersenyum sambil mencubit pipi Fani.
Jeki menunggu adik nya bangun. "Kenapa Sarah sakit lagi Fadil?" tanya Jeki kepada Fadil yang sudah ada di sana sebelum Jeki datang.
"Aku juga tidak tau kak," ucap Fadil. Jeki terlihat sangat sedih melihat keadaan adik nya yang sekarang malah terlihat buruk dari sebelumnya.
Tidak beberapa lama Sarah bangun. "Kak Jeki.."
"Iyah dek, kakak di sini."
Sarah langsung di peluk oleh nya.
"Kamu kenapa bisa sakit lagi? Kakak sudah bilang agar kamu banyak istirahat dan jangan memikirkan hal yang aneh-aneh."
Sarah mengangguk. "Aku minta maaf sudah membuat kakak khawatir."
Jeki mengelus kepala Sarah. "Kalau kamu belum sembuh total, kakak belum bisa membawa Saska ke sini," ucap Jeki.
"Gak apa-apa kak, lagian aku tidak mau membahayakan keadaan nya."
Jeki tersenyum. "Kakak sebaiknya jangan lama-lama di sini, bagaimana dengan Saska?" ucap Sarah.
Sarah sudah tau Kalau anak nya bersama Jeki. "Kamu tidak perlu khawatir, dia ada sama Minhui sekarang."
"Minhui?" ucap Sarah.
"Kamu pasti masih ingat kan?"
"Minhui teman lama kakak kan?"
"Iyah, tapi sekarang dia sudah menjadi istri kakak."
"Istri?" tanya Sarah kaget.
"Sekarang dia sedang mengandung Keponakan kamu."
Sarah tersenyum. "Kakak tidak berbohong kan?" Jeki menggeleng kan kepala nya.
"Mana mungkin Kakak bohong sama kamu," ucap Jeki.
"Wahh kalau seperti itu sebentar lagi Saska akan memiliki teman."
"Benar banget," ucap Jeki.
"Setelah aku sembuh nanti, aku mau bertemu dengan mereka," ucap Sarah.
"Kalau begitu kamu harus semangat dan berjuang mau sembuh, jangan sampai kamu semakin sakit."
Sarah mengangguk. Dia menyadari keberadaan Fadil yang berdiri tidak jauh dari nya.
__ADS_1
"Maaf, aku lancang datang ke sini, dokter menghubungi aku agar segera melihat kamu."
"Iyah tidak apa-apa," ucap Sarah.
Hari semakin malam, Jeki tidak berhenti melihat jam di tangan nya.
"Ada apa kak? Kenapa kakak seperti nya melihat jam. dari tadi? Apa kakak memiliki janji?"
"Kalau sangat penting, sebaiknya kakak pergi saja, aku gak apa-apa kok. Lagian ada Fadil."
Jeki menoleh ke arah Fadil. "Percaya sama saya kak, saya akan menjaga Sarah."
"Baiklah kalau begitu terimakasih Fadil," ucap Jeki.
Dia langsung memesan taksi pulang ke penginapan yang tidak jauh dari rumah baru Sarah.
Tidak beberapa lama akhirnya dia sampai di depan hotel.
"Minhui... Saska... apa kalian sudah tidur?" tanya Jeki membuka pintu kamar hotel namun sangat kaget kenapa tidak ada siapa-siapa di sana.
Mencari ke balkon dan kamar mandi tidak ada siapa-siapa di sana.
"Kemana mereka?" ucap Fadil kaget, dia segera bertanya ke pihak hotel.
Dan ternyata yang dia cari ada di restoran hotel itu.
"Papah... Papah...." Saska melihat Jeki datang. Minhui pun menyadari kedatangan nya.
"Aku berfikir aku sudah kehilangan jejak kalian berdua, Kenapa tidak bilang kalau mau keluar?" tanya Jeki kepada Minhui.
"Bukan seperti itu, maksud aku, seharusnya kamu ngomong kalau mau keluar seperti ini kamu setidaknya tunggu aku atau bilang sama resepsionis."
"Saska sangat bosan di kamar saja, dia menangis tidak henti membuat kepala ku pusing itu sebabnya aku membawa nya keluar."
"Ya udah kalau begitu, aku minta maaf sudah marah. Tapi lain kali kamu harus ngomong, aku tidak mau kehilangan kalian bertiga," sambil mengelus perut Minhui.
"Bagaimana keadaan adik kamu?"
"Sudah membaik kok," jawab Jeki.
"Bagus deh kalau begitu, apa kamu sudah makan?" tanya Minhui.
Jeki menggeleng kan kepala nya, dia sama sekali tidak sempat untuk makan.
Akhirnya Minhui bantu pesan makan, Jeki Makan sangat lahap sekali walaupun di ganggu oleh Saska.
"Seperti nya Besok kita kembali ke Jakarta, adik ku tidak bisa di temui untuk sekarang," ucap Jeki.
"Secepat itu?" tanya Minhui.
"Iyah, kamu dan Saska pasti tidak nyaman di sini," ucap Jeki. Minhui terdiam.
Setelah selesai Jeki membayar nya dan segera membawa nya ke kamar hotel mereka.
"Aku mandi dulu," ucap Jeki. "Kenapa harus ijin? pergi saja mandi langsung!"
__ADS_1
Jeki menghela nafas panjang, Minhui terlihat kesal kepada Jeki.
Setelah Jeki selesai mandi dia melihat Minhui menemani Saska tidur.
Namun ketika melihat Jeki Saska langsung bangun.
"Ayo Bobo Saska! Jangan main lagi, ini sudah malam," ucap Minhui cukup kuat membuat Saska sedikit takut.
Tapi karena ada Jeki, dia minta perlindungan Jeki.
"Saska Ayo tidur! Jangan buat Tante marah."
"Kamu kenapa sih marah-marah sama Saska? Dari tadi kamu kelihatan kesal?" tanya Jeki.
"Ini sudah malam, dia harus tidur, besok harus pulang ke Jakarta," ucap Minhui.
Saska mendekati Minhui karena takut dan akhirnya tidur di samping Minhui.
"Apakah kamu sakit perut? Pinggang kamu sakit? Atau kamu mau sesuatu?" tanya Jeki.
"Aku baik-baik saja," jawab Minhui.
Jeki menghela nafas panjang. Dia melihat Saska seperti nya belum mau tidur.
"Dia belum mau tidur, biarkan dia main dulu,. sebaiknya kamu saja yang tidur aku akan menjaga nya."
Minhui menghela nafas panjang dia mengabaikan Saska dan memunggungi Jeki.
Jeki merasa ada yang tidak beres dengan Minhui.
"Aku tidak memiliki keajaiban yang bisa menebak apa yang kamu mau, mungkin sebagian aku paham tapi sekarang aku tidak tau, kalau aku memiliki kesalahan katakan saja," ucap Jeki.
Minhui tidak menjawab nya. Jeki menarik Minhui agar berbalik menatap nya.
"Apakah kamu marah karena aku pulang lama?"
Minhui menghela nafas panjang dia langsung duduk menatap Jeki.
"Kenapa kamu jadi laki-laki gak peka banget sih!"
"Aku minta maaf," ucap Jeki.
"Kenapa harus secepatnya itu kembali ke Jakarta? kamu membawa kami ke sini hanya untuk tidur di hotel ini? Aku Dengar banyak wisata yang bagus di sini," ucap Minhui.
Jeki langsung mengerti. Dia memeluk Minhui sambil minta maaf.
"Aku minta maaf, sebenarnya aku hanya memikirkan kamu dengan Saska yang tidak betah ikut aku lama-lama di sini, kalau begitu kamu mau kemana? aku akan membawa kamu ke sana."
"Aku tidak tau, kamu sudah lama tinggal di sini, kamu pasti lebih tau."
"Baiklah kalau begitu, besok kita akan pergi ke pantai yang tercantik di sini," ucap Jeki.
Minhui kembali tersenyum, dia sangat senang Jeki memahami nya kebahagiaan nya hanya sesimpel itu.
"Soal Saska tadi, aku juga minta maaf."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, tapi lain kali kalau kamu kesal pada ku, pukul aku saja, jangan marahi Saska, atau anak kita kelak," ucap Jeki.