
Setelah selesai belanja mereka pun langsung pulang. "Apa kamu marah kepada ku?" tanya Jeki.
"Aku sedang tidak mood untuk membahas itu, aku juga tidak mau membahas itu, sebaiknya kamu pergi, aku mau merapikan semua ini."
Jeki membawa Saska ke depan. Dia menunggu Minhui sampai selesai masak, mereka makan bersama.
Sebelum lanjut makan, dia memberikan handphone yang jadi dia beli.
"Terserah kamu mau pakai atau tidak, aku sangat Sibuk bekerja, bagaimana kalau kejadian yang sama terulang lagi, aku ingin kamu menghubungi aku."
Jeki memberikan handphone itu ke depan Minhui.
"Aku minta maaf sudah melakukan hal yang benar-benar sangat jahat kepada kamu, aku minta maaf, aku akan menebus semua kesalahan ku perlahan," ucap Jeki.
Setelah selesai berbicara itu Jeki langsung pergi, dia tidak makan karena sangat tidak nyaman dengan suasana nya.
Minhui melihat Jeki pergi Tampa sarapan sama sekali.
Jeki sampai di kantor, dia duduk termenung di kursi kerjanya.
"Pagi!" sapa Vincent ternyata datang ke kantor Jeki.
Jeki kaget melihat Vincent ada di kantor nya.
"Ada apa kau ke sini?" tanya Jeki.
"Aku ke sini bukan mau ribut," ucap Vincent.
"Kita sudah deal kalau kita tidak akan berdamai di dunia kerja, kita berdamai hanya karena Saska."
"Aku tau, kamu jangan emosi terlebih dahulu."
Jeki sangat pusing, dia duduk kembali di kursi nya.
"Sarah sudah menanyakan aku kapan kembali ke sana, sementara aku tidak bisa meninggalkan istri ku, dia akan curiga kalau aku pergi lagi."
Jeki menghela nafas panjang. "Itu bukan urusan ku, itu adalah urusan mu!"
"Aku tau, tapi apa kamu bisa membantu ku?"
"Bantu apa?"
"Katakan pada Sarah kalau aku belum bisa datang."
Jeki menggeleng kan kepala nya. "Sarah sangat sensitif, kalau kau memberikan dia harapan palsu, dia pasti sangat sedih."
Vincent mengusap wajah nya. "Bagaimana kalau istri ku curiga? Di tambah lag orang tua ku masih di sini."
__ADS_1
"Bukan kah biasa nya kau sangat pandai membohongi wanita? Kenapa tidak menggunakan cara mu dulu?" sindir Jeki.
"Apa maksud mu berbicara seperti itu? Seharusnya kau memberikan saran dan jalan keluar."
"Aku tidak akan membantu mu tentang ini, karena kau harus memilih salah satu nya."
Vincent menghela nafas panjang, percuma saja dia minta bantuan Jeki.
"Apa kau lagi bermasalah?" tanya Vincent.
Jeki menatap Vincent.
"Aku akan membantu mu, tapi kau harus membantu ku juga."
Jeki menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak menerima tawaran apapun dari mu."
Vincent menghela nafas panjang.
"Aku sedikit kurang baik dengan Minhui, percuma saja kau tau, karena apapun itu tidak akan bisa membantu."
"Tentang Saska?" tanya Vincent. Jeki menggeleng kan kepala nya.
"Masalah pribadi."
"Hum okelah kalau begitu, aku juga tidak bisa membantu mu, kalau begitu aku permisi dulu."
Vincent keluar dari ruangan Jeki. Ternyata di luar orang lain sudah sangat heboh.
Semua orang sangat penasaran ada urusan apa Vincent datang ke kantor Jeki.
Di rumah sakit..
Fadil baru saja pulang bekerja dia langsung melihat kondisi Sarah.
"Tok!!! tok!! tok!!!
Fadil mengetuk pintu ruangan Sarah.
"Vincent... Aku sangat merindukan kamu, kenapa kamu baru datang?" tanya Sarah, namun ternyata Fadil membuat nya terlihat sangat kecewa.
Fadil yang tadi nya tersenyum, ketika mendengar nama Vincent dia langsung terdiam.
"Maaf, aku pikir kamu Vincent."
"Gak apa-apa kok, kamu pasti belum makan kan? ini aku bawa makanan dan juga buah-buahan."
"Apa kamu tidak tau kapan Vincent akan datang?" tanya Sarah.
__ADS_1
Fadil menghela nafas panjang. "Huff satu tahun lalu kamu selalu menanyakan hal ini kepada ku, sekarang kamu harus kembali ke fase ini lagi," batin Fadil.
"Seperti nya dia tidak bisa menentukan kapan datang ke sini, karena kamu tau dia harus bekerja melunasi biaya rumah sakit, dan dia sangat sibuk. Kita berdoa saja semoga dia cepat datang."
Sarah tersenyum sambil mengangguk. "Ya sudah kalau begitu, ayo makan dulu."
Sarah terlihat kurang berselera makan karena tidak bertemu dengan Vincent, namun Fadil dengan sangat sabar dia membujuk Sarah sampai dia benar-benar makan walaupun sedikit.
Di malam hari nya Vincent melihat jam tangan nya. Sudah jam delapan malam pekerjaan nya pun sudah selesai.
Namun tiba-tiba saja dia kefikiran kepada Sarah. Dia membuka laptop nya dan berniat mau membuat akun Gmail yang kelihatan nya tidak asing.
Akun Gmail milik Vincent dan Sarah saat berpacaran dulu, mereka menyimpan semua kenangan di akun itu.
Vincent membuka nya, dia melihat foto-foto, momen mereka berdua yang sangat bahagia karena sama-sama cinta pertama dan pacar pertama.
Vincent tersenyum ketika membuka nya. "Banyak orang mengatakan kalau cinta pertama sangat sulit di lupakan dan juga cinta pertama tidak akan berhasil."
"Tapi aku sudah menemukan wanita yang benar-benar aku cinta, wanita yang benar-benar mencintai ku dengan sangat tulus."
"Aku tidak akan menyia-nyiakan dia, aku tidak akan membiarkan dia bersedih, secepat mungkin aku harus menyelesaikan semua nya dan memberi tau ini kepada nya."
Vincent pun memutuskan pulang, namun sebelum pulang dia membeli beberapa makanan, dan masih banyak yang lain mau di bawa pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah ternyata istri nya sudah tidur, untung saja ada mami nya yang menunggu nya.
Vincent berjalan ke arah kamar. "Sayang... aku pulang, kenapa kamu sangat cepat tidur nya?" tanya Vincent membuka pintu.
Vincent melihat Kania berbaring di tempat tidur. "Mas sudah pulang?" tanya Kania terbangun.
Vincent mendekati kania. "Mami bilang kamu pulang kuliah di kamar saja, kamu sakit kah?"
"Enggak kok mas, aku mengerjakan tugas, aku lelah dan akhirnya aku memilih untuk tidur."
"Oohhhh. apa kamu sudah makan?"
"Udah kok, aku makan sama Mamah."
Vincent mengelus rambut istri nya. "Ya sudah kalau begitu kamu lanjut tidur saja, aku mandi dulu," ucap Vincent.
Sementara di rumah Jeki, dia baru saja pulang jam sembilan malam, dia sengaja pulang lama karena tidak ingin pulang mengingat masalah pagi tadi."
Sesampainya di rumah dia melihat rumah sangat berantakan, dia melihat ke arah meja makan ternyata handphone itu masih di tempat yang sama.
Jeki menghela nafas panjang. Dia mencari keberadaan Minhui dan Saska.
Namun setelah melihat ke kamar Minhui, ternyata Saska masih bangun, sementara Minhui sudah terlihat sangat ngantuk.
__ADS_1
"Papah... papah..." Saska melihat Jeki datang dia sangat senang sekali.
"Aku sangat ngantuk, aku mau istirahat," ucap Minhui menarik selimut nya dan langsung tidur karena Jeki sudah menggendong Saska.