Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 177


__ADS_3

"Kamu memburuk kan pak Vincent?" tanya Tomi.


"Bukan seperti itu, tapi ini adalah fakta."


"Dulu kamu juga tergila-gila sama pak Vincent, sekarang kamu malah memburuk kan nya."


"Sudah lah, berdebat dengan mu tidak ada gunanya, kamu sama saja seperti pak Vincent."


Tomi menghela nafas panjang melihat Fani yang juga malah marah sama dia.


Kania mengendarai mobil nya sendiri keluar dari rumah itu.


"Bagaimana ini pak? Apa saya perlu meminta orang mengikuti Kania?" tanya Tomi kepada Vincent.


Vincent menggeleng kan kepala nya. "Tidak perlu, dia akan semakin marah kalau saya melakukan itu," ucap Vincent.


"Baiklah Pak, melihat keadaan Vincent Tomi tidak ingin banyak berbicara.


Kania berhenti di sebuah taman yang cukup sepi, dia duduk di sungai kecil sambil meratapi nasibnya.


"Kesalahan apa yang aku lakukan sehingga hidup ku di uji seperti ini? Apa aku membuat kesalahan yang sangat fatal sehingga aku menerima ujian seperti ini?"


Kania sangat bingung dengan masalah nya.


"Apa yang harus aku katakan kepada orang tua kami nanti kalau tau tentang ini?" batin Kania.


Kania menghabis kan waktu seharian di luar. Dia mengabaikan panggilan telepon dari suami nya.


Dia tidak ingin di ganggu itu sebabnya dia mencari tempat yang sulit di ketahui oleh orang lain.


Tidak terasa hari semakin malam. Dia bingung harus pulang kemana.


Sebenarnya bisa saja dia memesan hotel, namun Vincent akan menemukan nya dengan cepat kalau dia tidur di hotel."


Dia kefikiran kepada Ulfa. "Sebaiknya aku ke rumah Ulfa saja," batin Kania.


Vincent tidak tau di mana kontrakan baru Ulfa.


Tidak beberapa lama akhirnya dia sampai di sana.


"Kania.." ucap Ulfa kaget melihat teman nya itu duduk di depan rumah nya sementara dia baru saja pulang.


"Kamu kenapa di sin? Kamu tau kan kalau aku pasti pulang malam."


"Ulfa....." Kania menangis tiba-tiba membuat Ulfa khawatir, dia segera membuka pintu dan membawa Kania ke dalam.


Dia memberikan minum meminta Kania menenangkan diri terlebih dahulu.


Setelah Kania tenang, baru ulfa bertanya apa yang terjadi.


Kania menceritakan semua nya. Ulfa yang mendengar itu terkejut karena selama ini dia sama sekali dengan masalah seperti ini..


"Aku tidak tau mengatakan apa Kania," ucap Ulfa, dia memeluk Kania menyabarkan nya.

__ADS_1


"Aku sangat membenci mas Vincent, aku sudah lelah selama ini dengan sifat nya," ucap Kania.


Ulfa Menatap wajah Kania.


"Apa Paman Vincent tau kamu di sini?"


Kania menggeleng kan kepala nya. "Jangan biarkan dia tau Ulfa, aku tidak ingin melihat nya."


"Baiklah, kamu bisa istirahat di sini dan tinggal di sini Kapan pun kamu mau," ucap Ulfa.


Kania mengucapkan terimakasih.


"Jadi sekarang kamu mau nya apa?" tanya Ulfa.


"Aku ingin berpisah dengan mas Vincent, aku tidak ingin memiliki suami seperti dia."


Ulfa tidak bisa memberikan nasehat yang salah, dia tau pemikiran Kania belum terlalu dewasa.


Apa lagi dia baru saja menikah pasti ada saja cobaan nya.


"Apa kamu tidak ingat dengan perkataan kamu dulu? Kamu mengatakan apapun masalalu, keburukan atau sifat paman Vincent akan kamu terima karena kamu mencintai nya."


"Iyah aku ingat, ternyata mengatakan hal seperti itu sangat lah mudah, menjalani Kenyataan nya cukup sulit Ulfa."


"Mau bagaimana lagi? Ini sudah pilihan kamu."


Kania menggeleng kan kepala nya, "Aku sudah membenci nya, aku tidak ingin bersama nya lagi."


Kania mengangguk. "Jangan konyol Kania, apa kata orang lain kalau seperti itu?"


"Aku tidak perduli."


Ulfa menghela nafas panjang. "Sudah jangan membahas itu lagi, sebaik nya kamu istirahat. Di sini hanya satu kamar kamu bisa tidur dengan ku."


Jeki baru saja mendapatkan kabar kalau Minhui pergi dari rumah.


"Kania pasti sangat kecewa, dia membutuhkan waktu sendiri sebaiknya tidak perlu di ganggu," ucap Minhui karena mendengar nya juga.


Jeki menatap Minhui. Tidak mengatakan apapun dia masuk ke dalam rumah.


Minhui mengikuti nya ke dalam. "Aku akan pergi mencari Kania," ucap Jeki.


"Aku sudah bilang dia butuh waktu sendiri, biarkan dia sendiri. Nanti kalau pikiran nya sudah tenang dia pasti pulang."


Jeki melepaskan tangan Minhui. "Mau bagaimana pun Kania harus tau jalan cerita yang sebenarnya, setelah dia mendengar semua nya dia berhak mengambil keputusan apapun itu."


Jeki langsung pergi walaupun malam.


Sudah tengah malam dia baru pulang, namun tidak menemukan Kania.


Begitu juga dengan Vincent yang tidak menemukan dimana Kania.


Minhui menunggu Jeki pulang. "Apa yang kamu lakukan di sini? kenapa belum tidur?" tanya Jeki kepada Minhui.

__ADS_1


Minhui berdiri dia menatap Jeki.


"Kenapa sih sampai sekarang kamu tidak paham dengan apa yang terjadi kepada adik kamu?" tanya Minhui.


"Maksud kamu apa?"


"Apa kamu tau kenapa adik mu seperti sekarang ini?" tanya Minhui.


"Itu semua karena kamu, berapa perempuan yang sudah kamu hancurkan? Dan setelah kamu tau adik kamu seperti itu, namun kamu masih berani memperlakukan ku seperti ini."


"Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan," Ucap Jeki.


Minhui menghela nafas panjang. "Ini semua adalah karma untuk kamu yang di terima oleh adik kamu sendiri. Berapa banyak perempuan yang sudah menyumpahi kamu di luar sana?"


"Aku berfikir selama ini kamu sadar dengan apa yang terjadi, namun ternyata aku salah. Aku berfikir kamu akan bertanggung jawab dengan kehamilan ku namun ternyata tidak!"


"Aku tanggung jawab, aku mengurus kamu."


"Apa kamu sudah menikahi ku?" tanya Minhui.


Jeki terdiam sejenak.


"Kamu adalah laki-laki yang sangat brengsek, tidak memiliki hati! Patut lah adik mu menerima karma ini karena dia memiliki kakak laki-laki yang bejat seperti mu!"


"Plak!!!" tamparan keras mendarat di pipi Minhui.


Minhui kaget dengan tamparan keras itu.


"Jangan pernah menyumpahi keluarga ku, kamu tidak beda jauh dengan wanita murahan di luar sana, masih mending aku mau menampung kamu di sini."


Minhui Menatap Jeki, dia tersenyum.


"Baiklah, kalau begitu aku akan pergi dari sini,"ucap Minhui.


Saska mendengar Jeki dan Minhui berantem dia menangis sangat keras.


"Aku tidak habis pikir dengan kamu Jeki, aku pikir kamu sudah berubah namun ternyata sama saja. Untung saja aku belum menikah dengan mu."


Jeki langsung sadar ketika melihat Air mata Minhui mengalir, dia melihat perut Minhui.


Jeki Menatap tangan nya. "Minhui... aku minta maaf, aku tidak sadar," ucap Jeki.


Jeki hendak menyentuh Minhui namun Minhui langsung menghindar.


"Aku akan pergi sekarang, Hubungan kita cukup sampai di sini, aku ingin kamu merenungi semua kesalahan kamu."


Jeki langsung berlutut di depan Minhui berusaha minta maaf. Namun Minhui sudah hilang respect.


Hati nya sudah sangat sakit dan memilih untuk pergi.


Saska mengejar nya, namun Minhui mengabaikan nya.


Namun tetap saja Saska memanggil nya sambil menangis.

__ADS_1


__ADS_2