
Tidak beberapa lama akhirnya acara selesai dia kaget karena Kania tidak ada di dekat nya.
Dia bertanya kepada Minhui yang sudah mabuk bersama teman nya, namun dia tidak melihat Kania.
Dan ternyata Kania sudah mabuk bersama direktur Je.
Vincent melihat direktur Je cukup lancang kepada Kania yang sudah mabuk.
Vincent tidak bisa menahan emosi dan langsung menghajar direktur Je.
Suasana menjadi sangat riweh karena Vincent. Kania yang sudah mabuk tidak bisa melerai mereka.
"Jangan kurang ajar anda kepada keponakan saya!" ucap Vincent menarik kerah baju direktur Je.
"Sudah Vincent, sudah." ucap Minhui.
Vincent membawa Kania pulang dengan keadaan emosi di tengah malam. Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah.
"Sekarang kamu turun!" ucap nya kepada Kania yang duduk ketakutan di samping nya karena dia membawa mobil sangat laju.
Kania turun. Vincent menarik tangan Kania masuk ke dalam.
"Sakit paman, lepas kan aku." ucap Kania.
"Apa yang kamu lakukan dengan pria itu? kenapa kamu sangat mudah di rayu oleh nya?!" ucap Vincent dengan sangat marah.
"Aku tidak tau paman. Kami hanya berbicara biasa saja." mencoba menjelaskan nya.
"Hanya berbicara? jelas-jelas paman melihat dia menyentuh lengan mu."
"Aku tidak sadar."
"Bisa gak kamu itu jangan mudah percaya kepada pria lain? Itu sebabnya Paman tidak membiarkan kamu bebas bergaul!" ucap Vincent.
"Tapi aku benar-benar tidak tau kejadian nya akan seperti itu, aku minta maaf kalau membuat paman malu, atau khawatir." ucap Kania.
"Lalu kenapa kamu mau berdansa dengan dia?"
"Semua orang memiliki pasangan, aku duduk sendiri dan akhirnya dia mengajak ku. Tidak ada salahnya kan?"
"Bagaimana tidak ada salah nya? Kamu tidak mengenal pria itu! Kamu sangat gampangan tidak beda dengan perempuan kebanyakan!" ucap Vincent.
Kania kaget mendengar kata-kata Paman nya itu.
"Gampangan kata Paman? Aku tidak seperti itu!"
"Justru seperti apa?" tanya Vincent.
Tiba-tiba Kania mendorong Vincent dengan sangat kuat.
"Paman sangat egois sekali! Semua ini tidak akan terjadi kalau Paman tidak membawa ku ke sana. Paman membawa ku hanya mau menunjukkan kemesraan Paman dengan kekasih Paman!" ucap Kania marah.
"Kania! Kania!" ucap Vincent mengejar Kania.
"Jangan ganggu aku lagi, aku sangat membenci paman!" ucap Kania.
Vincent memeluk Kania yang menangis setelah sampai di kamar.
__ADS_1
"Paman minta maaf, paman tidak bermaksud seperti itu." ucap Vincent dari belakang Kania.
"Paman selalu menyakiti perasaan ku, aku ingin berhenti menyukai paman, aku sangat membenci paman!" ucap Kania.
Keesokan harinya....
Di pagi hari yang cerah cahaya masuk melalui sela-sela jendela yang tidak di tutup dengan rapat.
Kania membuka mata nya dan sadar ternyata dia dan Vincent tidur di lantai dengan keadaan dia membantal kan lengan Vincent dan juga Vincent yang memeluk nya.
Kania memegang kepala nya yang sangat sakit.
"Huff ini pertama kali nya aku minum arak." ucap Kania dalam hati.
Dia mencoba mengingat kejadian tadi malam. Setelah dia ingin dia langsung menjauh dari Vincent.
Vincent langsung bangun dan melihat Kania.
"Kamu sudah bangun?"
Vincent perlahan duduk.
Dia melihat Kania memasang ekspresi yang sulit di baca. Vincent mau memegang tangan nya namun Kania menghindari nya.
"Jangan sentuh aku. Sekarang Paman keluar!" ucap Kania.
"Dengarkan Paman dulu." Kania menggeleng kan kepala nya. "Jangan berbicara dengan ku!" ucap Kania.
Vincent menghela nafas panjang.
Di kamar nya dia memegang kepala nya tidak lupa minum air putih.
Sekarang dia menyesali apa yang sudah dia lakukan kepada Kania.
"Tidak ada kedamaian setelah hari itu. Semua nya salah dan tidak ada yang baik." batin Vincent.
Waktunya berangkat bekerja Vincent keluar dari kamar nya dia melihat Kania di lantai bawah.
"Paman berangkat kerja dulu." ucap Vincent sangat canggung.
Kania berdiri dia menatap paman nya.
"Aku sudah menghubungi Omah, dan Opah mereka setuju aku ke sana dan mereka yang akan mengurus semua nya." ucap Kania.
"Kania kamu harus memikirkan nya lagi."
"Aku sudah memikirkan nya." ucap Kania.
"Bagaimana dengan paman? apa kamu tega membiarkan Paman di sini sendirian?"
"Selama ini aku sendiri di sini tidak menjadi masalah besar. Lalu kenapa sekarang Paman mempermasalahkan ini?" ucap Kania.
Vincent sadar kalau Kania terlihat sangat membenci nya. "Paman minta maaf karena selama dengan paman kamu menderita." ucap Vincent.
Kania tidak menjawab nya. Dia langsung meninggalkan Vincent.
Vincent menghela nafas panjang. "Aku tidak ingin ke kantor hari ini, namun tetap harus ke kantor." batin Vincent.
__ADS_1
Di hari H Kania berangkat ke Australia. Dia sudah mengemas pakaian nya karena siang nanti dia sudah harus sampai di bandara.
"Semua nya sudah selesai, waktu nya berangkat. Aku akan meninggalkan kota ini untuk sementara waktu." ucap Kania.
"Kamu sudah siap? Paman akan mengantar kan kamu." ucap Vincent menunggu di depan.
Kania bingung, karena dia pikir Paman nya sudah berangkat bekerja.
"Kenapa kamu diam? sini Paman bantu."
"Tidak perlu! Aku sudah di jemput oleh Taksi."
"Paman sudah mengusir nya."
"Apa-apaan sih! bagaimana kalau aku terlambat?"
"Itu sebab nya Paman akan mengantar kan kamu."
"Aku tidak mau!"
"Kania jangan seperti ini dong, paman ingin menunjukkan tanggung jawab paman."
Kania menghela nafas panjang. "Ini terakhir kali nya aku melihat dia."
Akhirnya Kania mau dan di antar oleh Vincent.
Sepanjang perjalanan Vincent tidak berhenti menasehati Kania.
Sampai di bandara Vince kaget karena di sana sudah ada Yuda.
"Kamu sudah lama menunggu ku? Maafin aku yah." ucap Kania.
"Tunggu apa dia juga ikut?" tanya Vincent karena melihat barang-barang Yuda.
"Kebetulan keluarga Yuda ada di sana Paman, kami sama-sama berangkat." ucap Kania.
Vincent bingung mau ngomong apa.
"Kalau begitu terimakasih banyak paman, aku pergi dulu. Sekarang sudah tidak ada yang menggangu waktu paman dengan kekasih paman dan juga aku tidak akan merepotkan Paman lagi." ucap Kania.
"Ingat kamu di sana hanya satu bulan!" ucap Vincent.
Kania diam saja, dia mau masuk namun di tahan oleh Vincent.
"Kamu duluan saja Yuda." ucap Kania.
Yuda mengangguk.
"Apa kamu sangat membenci Paman sehingga kamu harus pergi seperti ini?" tanya Vincent.
Kania melepaskan tangan Vincent namun Vincent tidak mau.
"Siapa yang akan mengurus Paman? siapa yang akan masak sarapan Paman? Siapa yang akan menunggu paman setiap hari?" tanya Vincent.
Kania tersenyum. "Sesekali aku ingin pergi ketempat yang jauh lebih tenang paman. Aku minta maaf karena akhir-akhir ini sifat ku berubah."
"Aku juga ingin belajar hidup tanpa Paman walaupun beberapa hari agar lebih mudah menghilangkan rasa yang ada di hati ku." ucap Kania.
__ADS_1