
"Enggak Mah, gak ada, aku selalu menjaga jarak dari perempuan mana pun, mamah tau sendiri kan kalau aku sangat cuek kepada perempuan," ucap Saska.
"Iyah mamah tau, tapi bisa jadi saja dia cemburu kepada Tina," ucap Kania. "Loh kenapa cemburu sama Tina? dia tau kok mah kalau kamu sudah berteman dari kelas satu SMA dan juga dia juga dekat dengan Tina."
"Ya kalau bukan karena itu, karena apa lagi?" tanya Kania. "Aku tidak tau mah, aku mohon bantuan mamah."
"Kamu jangan nyerah hubungi dia terus, setelah di jawab kamu harus tanyakan apa yang terjadi dan setelah itu kamu harus minta maaf."
"Iyah Mah, seperti nya aku harus melakukan hal itu untuk saat ini, karena sampai sekarang pesan ku belum di baca."
Satu Minggu kemudian... Akhirnya Shela dan juga Keluarga nya kembali.
Saska segera datang ke rumah Minhui mencari Shela. Pas banget ada Shela, dia sangat lega melihat Shela dia sudah sangat merindukan Shela.
"Saska, kenapa kamu di sini tiba-tiba? Apa kamu punya urusan di sini?" tanya Jeki.
"Mau bertemu dengan Shela Om, ada hal penting yang harus kamu bicarakan."
"Oohh, ya udah kalau begitu bicarakan dengan Saska nak, biar papah sama mamah yang bawa semua nya ke dalam.
Shela mengangguk dia mengikuti Saska pergi mencari tempat yang enak untuk berbicara.
"Shela, apa yang salah dengan kamu? Kenapa sudah berminggu-minggu kamu tidak menjawab Telpon ku bahkan tidak membaca pesan ku sama sekali," ucap Saska.
"Aku sangat sibuk, aku tidak memiliki waktu untuk itu."
"Tapi setidaknya kamu kasih kabar, kamu marah yah sama aku?" tanya Saska.
Namum Shela langsung menggeleng kan kepala nya. "Enggak, aku sama sekali tidak marah."
"Terus kenapa? Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Saska.
"Aku sudah bilang tidak ada, aku hanya tidak mood saja, aku tidak memiliki waktu untuk membalas pesan kakak."
"Tidak mungkin kamu seperti ini, kalau kamu tidak marah kepada ku, sebaiknya kamu jujur saja ada apa," ucap Saska.
"Tidak ada!" ucap Shela. "Lihat aku Shela, dari tadi kamu tidak menatap ku," ucap Saska.
Namun tetap saja Shela menunduk kan kepala nya, dia terus menunduk walaupun Saska memaksa untuk melihat wajah nya.
"Lepaskan aku! Jangan paksa aku, Kalau terus memaksa ku, aku akan keluar dari mobil dan teriak!" ucap Shela.
Saska menghela nafas panjang. "Shela... Apa yang salah?" tanya Saska sudah sangat kebingungan dia yakin ada sesuatu yang tidak beres dengan kekasih nya itu.
__ADS_1
"Kalau kamu tidak mau mengatakan apa yang terjadi tidak apa-apa, tapi sebaiknya sekarang kamu berbicara dengan ku, aku sangat merindukan kamu."
"Aku mau pulang, antar kan aku pulang," ucap Shela.
"Aku belum selesai ngomong Shela, kenapa kamu langsung pulang?" tanya Saska.
"Aku tidak mau membicarakan apapun, bawa aku pulang sekarang!"
"Shela.. Aku sangat merindukan kamu, aku ingin sama kamu," ucap Saska.
"Lepaskan aku!" ucap Shela menepis tangan Saska dari tangan nya.
"Apa yang terjadi Shela?" tanya Saska menguat kan suaranya.
"Apa aku melakukan kesalahan? kenapa kamu tidak mengatakan ada apa sehingga kamu sampai seperti ini?" tanya Saska.
Shela menghela nafas panjang dia menatap Wajah Saska. Ternyata dia sudah menangis.
"Kenapa kamu nangis Shela? Aku minta maaf sudah membentak kamu dan memalukan hal yang kasar," ucap Saska langsung menghapus air mata Shela.
"Aku minta maaf, aku tidak sengaja," ucap Saska.
Dia langsung memeluk Shela. "Jangan nangis lagi yah," ucap nya sambil mengelus kepala Shela.
"Aku sungguh minta maaf," ucap nya Tampa henti sampai akhir nya Shela berhenti menangis.
"Aku akan mengantar kan kamu pulang, jangan marah lagi yah Shela," ucap Saska.
Dia mengantarkan Shela pulang ke rumah nya terlebih dahulu dan setelah itu dia juga pulang ke rumah.
Keesokan harinya...
"Aku pulang lebih cepat yah Pah hari ini, karena ada urusan mendadak," ucap Saska.
"Loh, ada apa nak?" tanya Vincent. "Urusan pribadi Pah," ucap Saska. "Oohh ya udah kalau begitu, Lagian Papah akan pulang lebih cepat hari ini," ucap Vincent.
"Terimakasih Pah." Saska segera mengumpulkan barang-barang nya dan segera pergi.
Vincent melihat anak nya pergi. "Humm kira-kira apa yah urusan nya? biasanya dia selalu bilang apa yang terjadi di luar sana, apa urusannya, namun sekarang seperti nya sangat privasi."
"Apa jangan-jangan karena dia sudah memiliki pacar?" tanya Vincent.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Vincent setelah sampai di rumah namun melihat istrinya di taman belakang.
__ADS_1
"Eh mas Vincent sudah pulang? Tumben cepat banget?" tanya Kania.
"Tidak ada kerjaan di kantor, kamu sendiri kenapa di sini sendirian? Arka mana?" tanya Vincent.
"Di kamar nya mas," ucap Kania.
"Kamu ngapain di sini sayang?" tanya Vincent.
"Mau ngambil Buah-buahan yang ada di atas sana, sayang sekali semua nya pada jatuh dan busuk," ucap Kania.
"Pohon buah-buahan yang dulu di tanam waktu SD berdua bersama Vincent kini sudah berbuah dan mereka tumbuh dengan sangat subur.
"Arka... Arka...." Panggil Vincent.
"Iyah Pah, kenapa?" tanya Arka dari balkon kamarnya.
"Sebaiknya kamu turun bantu mamah ambil buah-buahan yang ada di atas sana," ucap Vincent.
Arka mengangguk dia segera keluar karena dia sangat hobi memanjat pohon.
"Papah gak berani yah? Papah jangan coba-coba lagi deh, aku takut Papah encok," ucap Arka.
"Meledek saja kamu bisa nya! pergi sana panjat," ucap Vincent.
"Dulu waktu Papah muda, ini adalah hal yang sangat gampang bagi papah."
"Tapi waktu muda, aku tidak pernah melihat mas Vincent manjat pohon," ucap Kania.
"Hahahah... Papah pembohong, mengada-ada saja," ucap Arka. "Ih kamu gak tau sayang, waktu itu di luar, tapi hanya pohon kecil saja," ucap Vincent.
Arka dan Kania terbahak-bahak mendengar nya.
"Baiklah kalau begitu, sebaiknya aku akan memanjat pohon itu, dan mendapatkan semua buah itu untuk Mamah," ucap Arka dengan semangat dia langsung mengambil semua buah-buahan itu.
Arka sangat mudah mendapatkan nya, dia bisa mengambil semua nya.
Kania terlihat sangat senang dia langsung memakan buah itu.
"Wahh manis banget mas," ucap Kania.
"Manis bagaimana? Ini sangat asam mah," ucap Arka. "Enak banget kok, lidah kamu saja yang aneh," ucap Vincent.
"Mamah sama papah yang aneh, asam banget seperti ini malah di bilang manis," ucap Arka.
__ADS_1