
"Lalu bapak tidak mencintai nona Minhui? kenapa bapak masih menahan nya bersama bapak?" tanya Tomi.
"Karena Minhui anak pejabat dan dia juga berpengaruh baik kepada saya, saya juga bisa memanfaatkan nya." ucap Vincent.
Namun tiba-tiba ada terdengar suara barang jatuh dari arah pintu.
Tomi dan Vincent menoleh ke arah pintu dan ternyata Minhui sudah berdiri di sana memasang wajah datar kaget campur aduk.
"Minhui!" ucap Vincent kaget.
Minhui tidak mengatakan apapun dia langsung pergi sambil menangis.
"Bagaimana ini pak? Nona Minhui pasti sangat marah karena mendengar kata-kata bapak tadi." ucap Tomi panik namun Vincent sama sekali tidak terlihat panik.
Dia hanya diam saja dan duduk kembali.
"Sudah tidak perlu di hiraukan." ucap Vincent.
Minghui sampai ke dalam mobil nya dia menangis sejadi-jadinya.
"Kamu sangat jahat sekali Vincent, Kenapa setelah semua apa yang aku lakukan, kamu membalas nya dengan seperti ini. Kamu sangat jahat." ucap Minhui.
"Bagaimana dengan Nona Minhui pak? kenapa bapak sangat santai?" tanya Tomi.
"Sebaiknya kamu pergi dari sini, saya mau istirahat." ucap Vincent.
Tomi menghela nafas panjang dia mengejar Minhui namun Minhui sudah terlanjur pergi dari sana.
Dua hari di perjalanan akhirnya Minhui sampai di malam hari.
Tomi sedang menonton TV di ruang tamu namun kaget karena sudah malam ada yang menekan bel.
Tomi takut karena sangat jarang bel rumah itu berdering. Dia penasaran perlahan mengintip keluar.
"Kania!" dia langsung membuka pintu dan benar saja di balik pintu adalah Kania.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu kembali hari ini?" tanya Tomi.
"Aku tidak mau merepotkan kamu. Bagaimana kabar kamu?" tanya Kania.
"Baik, kamu sendiri bagaimana? Kamu makin cantik aja tinggal di Luar negeri." ucap Tomi. Kania tersenyum.
"Barang-barang kamu banyak banget. Sini aku bantu." ucap Tomi. Kania masuk dia melihat rumah yang sangat berubah menjadi terlihat kotor dan berantakan.
"Humm soal rumah aku minta maaf karena tidak bisa membantu merapikan nya, aku tidak memiliki waktu senggang." ucap Tomi.
__ADS_1
Kania melihat ke arah lantai atas.
"Humm keadaan pak Vincent sekarang semakin memprihatinkan, dia tidak mau makan dan selalu di kamar." ucap Tomi.
"Kalau begitu aku akan melihat nya ke atas." ucap Kania.. Tomi mengangguk.
"Alhamdulillah akhirnya Kania pulang, hidup ku bisa terselamatkan, aku bisa istirahat dan bekerja dengan tenang." ucap Tomi.
Kania mengetuk pintu.
"Jangan ganggu saya Tomi! jangan sampai saya memecat kamu!" ucap Vincent dari dalam.
Namun ketukan pintu tidak berhenti.
"Saya tidak mau makan, saya juga tidak akan mau ke rumah sakit!" ucap Vincent dengan kesal sambil membuka pintu.
Namun betapa terkejutnya dia melihat Kania di balik pintu.
"Kania. Kamu di sini? Paman gak mimpi kan?" ucap Vincent heran.
"Apa yang terjadi kepada paman? kenapa paman tidak mau ke rumah sakit?" tanya Kania.
Vincent langsung memeluk Kania dengan sangat erat karena sangat merindukan nya.
"Paman sangat merindukan kamu Kania, Paman berfikir kamu tidak akan kembali lagi ke sini. Paman minta maaf karena sudah membuat kamu tidak nyaman." ucap Vincent.
Vincent menatap wajah Kania.
"Apa kamu tidak merindukan paman? Apa kamu sama sekali tidak memikirkan Paman?"
"Aku merindukan paman," ucap Kania dengan singkat.
"Kalau kamu merindukan saya kamu pasti cepat kembali atau setidaknya hubungi saya atau balas pesan saya." ucap Vincent.
"Aku sangat sibuk, aku juga mau menghabiskan liburan ku dengan bahagia tanpa memikirkan apapun."
"Jadi memikirkan Paman beban bagi mu?" tanya Vincent. Kania diam saja.
Vincent tiba-tiba melepaskan Kania.
"Ternyata benar hanya saya yang merindukan kamu. Kamu seperti nya sangat nyaman tinggal di luar negeri." ucap Vincent menjadi sangat lesu.
"Aku sudah bilang aku merindukan paman."
"Sekarang Paman jangan membahas yang lain. Aku ingin bertanya kenapa paman tidak ke rumah sakit untuk berobat bahkan sudah sakit parah?" ucap Kania.
__ADS_1
"Siapa yang sakit? Saya tidak sakit. Apa kamu tidak melihat saya sangat segar." ucap Vincent.
Kania menghela nafas panjang. Dia melihat jaket milik Kania yang lumayan besar di pakai oleh Vincent.
"Sekarang sebaiknya paman istirahat saja, besok Paman harus pergi periksa ke rumah sakit." ucap Kania.
Vincent menggeleng kan kepala nya. "Paman masih sangat merindukan kamu. Paman masih ingin bersama kamu." ucap Vincent.
Kania menghela nafas panjang. "Aku juga mau istirahat Paman." ucap Kania karena selama di perjalanan dia kurang istirahat.
Di Luar negeri juga dia Sibuk jalan-jalan dan berbelanja.
Sampai di rumah dia ingin menghabiskan sisa libur nya untuk mengurung diri di kamar mengistirahatkan tubuh dan Fikiran nya.
Namun Vincent tidak akan mau melepaskan Kania dia menarik Kania masuk ke dalam kamar nya.
"Paman, apa yang Paman lakukan?" tanya Kania.. Vincent mengunci pintu.
"Tidur lah bersama paman di sini. Paman benar-benar sangat merindukan kamu." ucap Vincent.
Kania tiba-tiba takut karena melihat wajah Vincent dan sifat Vincent yang tidak biasanya.
Kania mau keluar namun tangan nya di tahan oleh Vincent dan mendorong nya ke tempat tidur.
"Jangan buat paman marah Kania! Kamu jangan pura-pura mengabaikan Paman, paman tau sebenar nya kamu juga merindukan paman kan?" ucap Vincent menindih Kania.
Kania memasang wajah panik.
"Paman!" Kania mau berontak namun di tahan oleh Vincent.
"Kamu tidak bisa kemana-mana lagi sekarang, dan paman tidak akan pernah mengijinkan kamu untuk pergi lagi, paman tidak mau kehilangan kamu lagi." ucap Vincent.
Kania terdiam dia melihat raut wajah Vincent yang terlihat sangat sedih ketika mengatakan itu.
"Maafin paman yang selama ini egois dan tidak mengerti kepada kamu. Namun paman sangat Sedih ketika kamu benar-benar mengabaikan Paman berbulan-bulan ini sangat menyiksa paman." ucap Vincent.
Kania hanya diam saja. "Paman hanya memiliki kamu di kehidupan Paman sekarang, paman butuh kamu, paman sangat menyanyangi kamu." ucap Vincent.
"Baiklah aku mengerti paman, tapi Paman harus beranjak dari tubuh ku, ini tidak nyaman, bagaimana kalau ada yang melihat." ucap Kania.
Vincent menghela nafas dia berbaring di samping Kania.
"Kamu akan tidur di sini kan?" tanya Vincent.
"Kamar ini sangat bau." ucap Kania. Vincent memeluk Kania menenggelamkan wajahnya di perut Kania layaknya anak kecil.
__ADS_1
Kania hanya bisa diam. "Ini sudah menjadi kebiasaan Vincent kalau sedang sakit, dia akan bertingkah seperti anak kecil.
Vincent menatap wajah Kania terus sampai dia tidur lagi..Kania sadar Vincent tidur dia mau pindah namun Vincent menahan nya sehingga dia tidak bisa kemana-mana lagi.