
Sementara Kania di dalam kelas nya sedang konsentrasi melihat jadwal pekerjaan suami nya. Walaupun cukup banyak dan sulit tapi dia harus tau apa saja pekerjaan suami nya itu.
Setelah melihat semua nya tidak ada pekerjaan di luar kota yang di datangi oleh Vincent sekarang
Kania menghela nafas panjang. "Apa yang sedang dia sembunyikan dari ku? Tidak ada pekerjaan di titik yang di datangi nya hari ini," batin Kania.
Perasaan nya sudah campur aduk, dia tidak bisa tenang. Kania pulang ke rumah nya. Walaupun masih sangat kefikiran dia berusaha untuk melupakan nya.
Namun karena memikirkan nya berlebihan kepalanya mendadak sangat sakit sekali, dia istirahat agar tidak semakin sakit.
Vincent sudah sampai di kota itu, namun dia memilih mencari penginapan sementara dan akan bertemu dengan Sarah besok.
Untung nya Saska tidak rewel saat bersama nya. Dia juga tidak kesulitan menjaga Saska.
Baru saja sampai telpon dari Jeki. "Bagaimana? Apa kalian sampai dengan selamat?"
"Baru saja sampai di penginapan. Ada apa?" tanya Vincent.
"Minhui ingin foto Saska atau video, tolong kirim kan," ucap Jeki.
Keesokan harinya...
Vincent sampai di rumah Sarah. Dia cukup gugup membawa Saska bertemu dengan Sarah.
Saat dia masuk ke dalam rumah, dia melihat Sarah ternyata sedang bersih-bersih.
"Permisi..." ucap Vincent. Sarah berbalik dia melihat Vincent yang menggendong Saska.
"Vincent.." ucap Sarah dia tampak sangat senang.
Vincent tersenyum. "Seperti janji ku, kalau kamu sudah sembuh aku akan membawa Saska."
"Ini anak kita?" tanya Sarah.
Vincent mengangguk. Sarah membawa Saska ke gendongan nya.
"Dia sangat mirip kepada mu, dia sangat tampan," ucap Sarah.
Vincent tersenyum. Sarah menangis ketika bisa memeluk Saska. "Jangan sedih, kamu harus bahagia dan selalu jaga kesehatan demi anak kita."
"Aku janji akan menjaga kesehatan ku, tapi bagaimana dengan hubungan kita? kita sudah memiliki anak, kasihan dia kalau sampai sekarang kita belum memperjelas hubungan kita."
"Maksud kamu?" tanya Vincent.
"Kenapa kita tidak menikah dan membesarkan Saska bersama?" tanya Sarah.
"Brak!!!!!" tiba-tiba saja ada barang jatuh.
Mereka menoleh ke arah pintu masuk ternyata ada Kania.
Vincent kaget melihat istrinya ada di sana. "Kania..." ucap Vincent.
"Kamu bawa teman? kenapa tidak di suruh masuk?" tanya Sarah dengan polos nya.
"Apa maksud dari semua ini mas?" tanya Kania.
__ADS_1
Kania menahan amarahnya, mata nya sudah merah, badan nya sangat lemas.
"Sayang.. Kamu jangan salah paham, aku bisa menjelaskan nya," ucap Vincent.
"Sayang? apa maksud kamu?" tanya Sarah.
"Aku adalah istri Vincent," ucap Kania. Sarah menggeleng kan kepala nya.
"Tidak mungkin, dia belum menikah."
Kania dan Minhui berdebat.
"Ini adalah anak kami berdua, dia akan menikahi ku," ucap Sarah.
"Apakah kamu selama ini membohongi ku? Apakah ini benar anak mas Vincent?" tanya Kania.
"Ini tidak seperti apa yang kamu pikirkan Kania, dia memang anak ku dengan Sarah tapi."
Kania Menatap Vincent dan menampar Vincent.
"Aku tidak habis pikir dengan apa yang kamu lakukan mas, aku sudah cukup sabar selama ini, namun nyatanya kamu malah kembali dengan cinta pertama mu," ucap Kania.
Sarah masih tetap tidak habis pikir dengan Vincent menikahi keponakan nya.
Kania tiba-tiba lemas, dia tergeletak di lantai membuat Vincent sangat panik.
"Vincent, aku butuh penjelasan kamu," ucap Sarah.
"Kania bukan Keponakan kandung ku, dan sekarang dia adalah istri ku," ucap Vincent dan langsung membawa Kania pergi ke rumah sakit terdekat.
Sementara Sarah dia sangat syok mendengar itu, dia mengingat perkataan Fadil.
"Kenapa aku sangat bodoh sekali? Kenapa aku tidak percaya dengan kata-kata Fadil?" batin Sarah.
Tiba-tiba kepala nya sakit karena samar-samar dia bisa mengingat kembali beberapa kejadian yang membuat nya trauma.
Dia tidak tahan menelpon orang acak di handphone nya dan ternyata Fadil.
mendengar suara Sarah, firasat Fadil tidak baik, walaupun dalam keadaan bekerja dia meninggalkan nya.
Setelah sampai di rumah Sarah dia mendengar suara anak kecil yang tidak berhenti menangis dia sangat kaget melihat Sarah terbaring di lantai begitu juga dengan Saska yang duduk menangis di lantai.
Seperti nya Saska terjatuh itu sebabnya dia menangis.
"Sarah, ada apa dengan mu?" Fadil meminta dokter datang.
Setelah di periksa, keadaan Sarah lebih tenang. "Fadil... aku minta maaf sudah tidak percaya dengan kamu." ucap Sarah.
"Maksud kamu apa?"
"Hari ini Vincent dengan istri nya datang."
Fadil menghela nafas panjang. Dia hanya diam.
"Sebaik nya kamu jangan memikirkan yang aneh-aneh dulu, kamu ingat kesehatan kamu."
__ADS_1
Di rumah sakit Akhirnya Kania sadar. Dia melihat Vincent duduk di samping nya.
"Sayang kamu sudah sadar?" Vincent mau menyentuh Kania namun di tepis oleh Kania.
"Tinggal kan aku sendirian!"
"Kania..."
"Aku tidak ingin berbicara dengan pria penghianat, pembohong seperti mas Vincent, sebelum aku berteriak sebaiknya mas keluar!"
"Baiklah aku akan keluar, tapi kamu harus istirahat. kalau butuh sesuatu aku menunggu di luar."
Dia duduk diluar namun Fadil datang membawa Saska yang tidak berhenti menangis.
"Mau sampai berapa kali sih kamu membuat Sarah menderita? Mau sampai kapan kau membuat Sarah sakit?" tanya Fadil cukup kuat sehingga di dengar oleh Kania.
"Saya minta maaf."
"Tidak cukup hanya maaf, sebaiknya kau memikirkan jalan keluar dari masalah ini."
"Ambil anak mu, karena keadaan Sarah sekarang kembali buruk."
"Aku mohon jangan tinggalkan Sarah, aku ingin kau menjaga nya karena istri ku juga sedang sakit," ucap Vincent.
Fadil menggeleng kan kepala nya melihat kelakuan Vincent.
"Mau sampai kapan sih kau menjadi pria berengsek? Apa kau tidak puas membuat semua wanita yang pernah dengan mu menderita?" ucap Fadil.
kali ini Vincent tidak bisa mengatakan apapun, dia hanya bisa diam saja mendengar kan perkataan Fadil.
Tidak bisa lama-lama Fadil pergi meninggalkan Saska.
Handphone nya berdering telpon dari Jeki. "Kurang ajar! Kau sangat kejam membuat adek ku seperti ini lagi," ucap Jeki.
Dia memaki-maki Vincent. Vincent hanya diam. Dia tidak menjawab makian Jeki dia meletakkan handphone nya karena Saska tidak berhenti menangis.
Dia mencari susu untuk Saska. Sekarang kepala nya terasa mau pecah, dia ingin menghilang namun sekarang anak nya bersama nya.
Saska akhirnya diam setelah di gendong dan di peluk oleh Vincent.
Tidak beberapa lama akhirnya dia ketiduran di pelukan Vincent. Vincent kembali duduk di depan ruangan Kania.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Vincent.
"Keadaan nya tidak buruk, hanya terkejut membuat nya pingsan, sudah bisa pulang kok," ucap dokter.
"Terimakasih banyak dokter, sekarang saya boleh membawa nya pulang kan?"
"Silahkan pak."
Vincent masuk ke ruangan Kania.
Kania menatap wajah Vincent dengan tatapan penuh kebencian.
"Aku ingin hubungan kita sampai di sini saja mas, sebaiknya mas nikahi Sarah," ucap Kania.
__ADS_1