Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 19


__ADS_3

"Kamu akan tidur di sini kan?" tanya Vincent.


"Kamar ini sangat bau." ucap Kania. Vincent memeluk Kania menenggelamkan wajahnya di perut Kania layaknya anak kecil.


Kania hanya bisa diam. "Ini sudah menjadi kebiasaan Vincent kalau sedang sakit, dia akan bertingkah seperti anak kecil.


Vincent menatap wajah Kania terus sampai dia tidur lagi..Kania sadar Vincent tidur dia mau pindah namun Vincent menahan nya sehingga dia tidak bisa kemana-mana lagi.


Di pagi hari nya Vincent bangun namun tidak melihat Kania di samping nya. Vincent langsung keluar mencari Kania.


"Kania... Kania..." panggil Vincent mencari ke kamar Kania. Namun di sana juga tidak ada.


"Kania kamu di mana?" tanya Vincent.


Kania yang sedang memasak di dapur mendengar suara Vincent langsung keluar. Vincent yang sudah sangat panik mencari Kania melihat Kania berdiri tidak jauh dari nya sambil memegang mangkuk dan juga pengaduk tepung.


Vincent bernafas lega dia mendekati Kania.


"Kenapa pagi-pagi paman sudah berteriak-teriak tidak jelas?" tanya Kania.


"Paman berfikir kamu akan pergi lagi." ucap Vincent memeluk Kania.


Kania kaget karena badan Vincent tiba-tiba panas tidak seperti tadi malam.


"Paman masih sakit, seharusnya Paman harus banyak istirahat dulu. Aku akan membuat kan sarapan." ucap Kania.


Namun Vincent tidak mau ke kamar, dia menunggu Kania di meja makan. Dia memerhatikan Kania yang memasak.


tidak beberapa lama akhirnya selesai juga, Kania meminta Vincent untuk makan, namun Vincent sama sekali tidak berselera dia menolak untuk makan.


"Kalau paman tidak makan, aku tidak akan memasak lagi dan juga aku tidak akan mengurus Paman!" ucap Kania.


"Kenapa kamu sangat jahat mengatakan hal seperti itu kepada saya?" tanya Vincent dengan sangat lesu.


"Lihat lah Paman seperti orang yang tidak memiliki tujuan hidup." ucap Kania.


Vincent melihat semua makanan di depan nya.


"Suapin Yah." ucap Vincent. Kania menatap paman nya dengan tatapan marah.


"Kalau begitu paman tidak akan makan, biarkan saja paman sakit selama nya." ucap Vincent.


Kania menghela nafas panjang dia akhirnya menyuapi Vincent.


Tidak beberapa lama akhirnya selesai, Vincent juga sudah selesai minum obat.


"Kamu mau kemana?" tanya Vincent.


"Aku mau mandi dan setelah itu mengantarkan paman ke rumah sakit." ucap Kania.


Vincent menahan tangan Kania.


"Jangan bawa Paman ke rumah sakit, paman tidak mau ke rumah sakit." ucap Vincent. Kania menggeleng kan kepala nya.

__ADS_1


"Paman harus mendengarkan aku kalau Paman ingin aku di sini." ucap Kania. Vincent tidak bisa berkata-kata akhirnya dia pun mengangguk.


Vincent berganti pakaian sendiri menunggu Kania selesai mandi.


Saat Kania sudah selesai dia turun dari tangga.


Vincent melihat Kania. "Kenapa dia terlihat semakin cantik? Berbeda sekali dari sebelumnya." batin Vincent.


"Kenapa paman melihat ku seperti itu?" tanya Kania.


"Kamu sangat cantik kalau menggunakan dres seperti ini." ucap Vincent.


"Aku sudah biasa memakai pakaian seperti ini, jangan berlebihan." ucap Kania.


"Jangan mencoba mengalihkan perhatian ku, sebaiknya kita segera berangkat." ucap Kania.


"Tomi sedang tidak ada di sini, supir juga sudah pergi. Sebaiknya kita menggunakan taksi online." ucap Vincent.


"Menunggu taksi sangat lama, aku akan menyetir sendiri." ucap Kania.


"Kamu menyetir sendiri? Jangan bercanda Kania." ucap Vincent.


"Aku tidak bercanda, aku serius." ucap Kania sambil membuka pintu untuk Vincent.


Kania menjalankan mobil membuat Vincent kaget.


"Paman tidak perlu takut, selama dua bulan di luar negeri aku sangat gigih belajar menyetir." ucap Kania.


"Kalau aku menunggu paman untuk mengijinkan aku belajar nyetir itu pasti tidak akan pernah terjadi." ucap Kania.


Kania hanya tersenyum saja.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah sakit. Vincent segera di periksa dan harus di suntik.


Kania menunggu di luar sampai akhir nya Vincent keluar.


"Kalau tau rasanya akan sangat sakit saya tidak mau sakit." ucap Vincent duduk di samping Kania.


Kania yang sedang main Handphone hanya diam saja.


"Apa kata dokter?" tanya Kania.


"Nunggu hasil nya sebentar lagi." ucap Vincent.


"Oohh." ucap Kania dan fokus lagi pada handphone nya.


Vincent merasa di abaikan dia bersandar dan bersikap manja kepada Kania.


"Jangan seperti ini paman, kalau paman tidak kuat untuk duduk aku akan mengantar kan ke dalam mobil.


"Saya hanya ingin bersandar sebentar. Kamu dulu sering melakukan ini ketika kamu sakit..Kamu sangat manja dan tidak bisa jauh dari paman." ucap Vincent.


Kania menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Kania!" tiba-tiba teman Kania menyapa Kania yang tidak sengaja ada di sana.


Kania melihat teman nya dan langsung berdiri membiarkan Vincent.


"Haii kalian kenapa ada di sini?" tanya Kania.


"Loh kamu gak tau kalau Dosen kita sakit?" tanya mereka. Kania menggeleng kan kepala nya.


"Kamu sendiri kenapa bisa di sini? Aku dengar kamu baru saja pulang dari luar negeri."


"Aku sedang mengantar kan..."


Namun baru saja mau menjelaskan mereka sudah terpesona dengan Vincent.


"Ini pasti kakak kamu yah Kania, aku baru tau kalau kamu memiliki Kakak." ucap teman perempuan nya.


Vincent berdiri dia langsung merangkul Kania.


"Kenalin saya Vincent, kakak laki-laki Kania." ucap Vincent.


mereka memperkenalkan diri masing-masing.


Kania menghela nafas panjang melihat kelakuan paman nya itu.


"Sebaiknya Paman pulang dengan Tomi dulu, aku ingin menjenguk Dosen ku, jangan menunggu ku ." ucap Kania menyusul teman-teman nya.


"Benar-benar tu anak yah!" ucap Vincent dengan kesal.


"Huff coba saja aku memiliki tenaga aku akan menahan nya, bisa-bisa nya aku sedang sakit namun dia memperdulikan orang lain." ucap Vincent dengan sangat kesal sekali.


Tomi datang dia membawa Vincent pulang.


"Bagaimana kabar Minhui?" tanya Vincent kepada Tomi yang sedang dalam perjalanan pulang.


"Nona Minhui..."


"Ada apa dengan nya?" tanya Vincent.


"Nona Minhui ingin bertemu dengan bapak, namun saya melarang nya." ucap Tomi.


"Katakan pada nya temui saya nanti malam di restoran Gany." ucap Vincent. Tomi mengangguk.


Tomi sudah terbiasa dengan sikap bos nya yang semena-mena kepada perempuan.


Vincent tidak akan keberatan kehilangan perempuan dari kehidupan nya.


"Tomi kamu harus menemani saya nanti malam." ucap Vincent.


"Saya? Humm seperti nya saya memiliki janji dengan keluarga saya pak."


"Tidak ada alasan, kamu harus ikut dengan saya." ucap Vincent.


Tomi terdiam sejenak. "Saya merasa Minhui pasti sangat sedih karena mendengar perkataan saya. Saya juga ingin menjelaskan kepada nya kalau saya sudah tidak ingin bersama nya karena tidak ada kecocokan di antara kami."

__ADS_1


"Tapi setidaknya bapak harus tanggung jawab karena bapak sudah..."


__ADS_2