
Yuda bingung harus ngomong apa lagi, mau bagaimana pun dia lah yang salah karena dia yang menceritakan kepada orang tua nya tentang dia dengan Kania.
Yuda memeluk Ulfa. "Berhenti memikirkan hal yang seperti ini, kita fokus jalani hubungan kita saja."
Ulfa mengangguk. "Ya udah kalau begitu aku bantu bersih-bersih deh agar kamu bisa langsung pindah ke sini," ucy Ulfa.
"Oh iya selain niat agar dekat ke kampus, aku ingin pindah ke sini agar kamu juga bisa main ke sini, aku ingin aku adalah tempat ternyaman bagi kamu," ucap Yuda.
"Kamu berlebihan banget sih sama aku, aku tidak tau harus ngomong apa," ucap Ulfa tersipu malu.
Mereka mulai merapikan barang-barang dan juga memberikan apartemen itu.
"Ulfa duduk lah di sini," ucap Yuda menepuk kasur di samping nya.
Ulfa duduk di samping Yuda sambil membawa cemilan nya.
"Kalau kamu mau istirahat, istirahat saja di sini terlebih dahulu," ucap Yuda. Ulfa mengangguk sambil tersenyum.
Yuda tiba-tiba berbaring di paha Ulfa.
Keesokan harinya Kania mengantarkan Vincent dan juga Bu Mona ke bandara.
"Kamu jaga diri baik-baik yah di sini," ucap Bu Mona kepada Kania. Kania mengangguk dan memeluk Bu Mona.
"Oh iya soal ibu selalu membeli makanan di luar kamu jangan berfikir yang tidak-tidak, ibu hanya tidak ingin kamu kecapean karena harus memasak sarapan setelah itu berangkat ke kampus dan bekerja."
"Humm tentang itu.."
"Ibu tau dari Vincent, dia bilang kalau kamu menangis dan sedih karena berfikir ibu tidak mau makan masakan kamu lagi."
"Ibu sangat suka masakan kamu, tapi ibu juga harus memikirkan kesibukan kamu, itu sebabnya ibu berinisiatif seperti itu."
Kania tersenyum. "Terimakasih yah Bu, aku juga minta maaf karena berfikir yang tidak-tidak."
"Oh iya setelah ibu dan juga Vincent pulang masak lah yang enak," ucap Bu Mona.
Kania menganggap.
"Kalian berbicara lah, ibu akan masuk ke dalam."
Kania melambaikan tangan nya.
"Sekarang kamu sudah tidak penasaran lagi kan kenapa Mami memesan makan di luar?"
Kania mengangguk. "Mau bagaimana pun aku tetap berfikir kalau Bu Mona masih belum bisa menerima ku."
"Mami butuh waktu dan pembuktian dari kita berdua," ucap Vincent.
Kania mengangguk. "Kalau begitu Paman masuk lah ke dalam. Hati-hati di jalan setelah sampai jangan lupa untuk mengabari aku," Vincent mengangguk.
Vincent pun langsung masuk ke dalam menyusul Bu Mona.
__ADS_1
Setelah Vincent berangkat dia pun pergi meninggalkan bandara itu.
Tidak beberapa lama akhirnya dia sampai di kampus nya.
"Nih untuk kamu," ucap Ulfa memberikan satu gelas minuman kepada Kania yang hanya diam di dalam kelas.
"Terimakasih banyak Ulfa."
"Apa sih yang kamu pikirkan?" tanya Ulfa.
"Kamu baru saja berpisah dengan paman mu, namun sekarang sudah merindukan nya saja."
Kania mengangguk. "Kamu benar aku sangat merindukan Paman Vincent sekarang," ucap Kania.
Setelah selesai kuliah dia segera ke kantor. Walaupun Vincent tidak ada pekerjaan nya di kantor tetap ada. Bahkan ada beberapa urusan yang harus di ambil alih oleh nya berdalih untuk belajar.
"Kania apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Tomi.
"Aku baru saja menyelesaikan data-data untuk meeting besok, ada apa?" tanya Kania.
"Humm ini sudah jam lima sore, apa kamu tidak pulang?" tanya Tomi.
"Sebentar lagi, aku juga masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan."
"Kalau begitu aku akan membantu kamu."
"Jangan, aku tidak mau merepotkan kamu, lagian ini adalah pekerjaan ku."
"Huff kenapa sih semua orang terlihat sangat perduli kepada Kania?" ucap Fani.
"Ya karena dia adalah calon bos kita, mau bagaimana pun kita harus sopan dan juga perduli kepada dia," ucap teman nya.
"Kamu cemburu yah melihat Tomi sangat dekat dengan Kania?"
"Enggak! Ngapain aku cemburu."
"Akhir-akhir ini aku melihat kamu sering mengikuti Tomi dan juga juga terlihat kesal ketika Tomi dekat dengan perempuan lain."
"Itu hanya perasaan kamu saja," ucap nya dan langsung pergi.
Tepat di jam Delapan malam Tomi dan Kania pulang dari kantor.
"Kamu pulang pakai apa?" tanya Kania kepada Tomi.
"Aku bawa mobil sendiri kok," ucap Tomi.
"Oohh ya sudah kalau begitu, aku pulang duluan yah."
Tomi mengangguk.
Kania sampai di rumah ternyata sudah di tunggu oleh Yuda dan Ulfa.
__ADS_1
"Loh Yuda kamu di sini?" tanya Kania.
"Hari ini adalah hari ulang tahun Ulfa, jadi kami memasak yang banyak untuk merayakan nya bersama."
"Ya ampun aku lupa, maafin aku yah Ulfa. Selamat ulang tahun," ucap Kania. "Terimakasih Kania, kamu sangat sibuk sehingga melupakan hari ulang tahun ku," ucap Ulfa.
"Oh iya silahkan duduk, kamu pasti lapar." ucap Ulfa.
Mereka makan malam bersama. Setelah selesai dia langsung ke kamar nya.
Dia mendapatkan pesan dari Vincent sudah membuat hati nya sangat senang.
"Bagus deh kalau sudah sampai," ucap Kania.
Hari-hari berlalu Tampa ada Vincent, sangat sepi dan Kania juga sangat merindukan Vincent.
"Huff kami sekarang sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing." ucap Kania.
"Kania apa malam ini kamu ada acara?" tanya Tomi.
"Tidak ada," ucap Kania.
"Pas banget, aku mau kamu datang ke acara makan malam keluarga ku."
"Tumben banget ada acara seperti itu,"
"Iyah, saudara pertama ku mau menikah, itu sebab nya mengadakan acara seperti ini, berhubungan pak Vincent tidak ada kamu bisa kan menggantikan nya."
Kania mengangguk. Kania juga cukup dekat dengan keluarga Tomi.
"Huff lagi-lagi Kania yang selalu di perhatikan oleh Tomi, sekarang Tomi sudah benar-benar melupakan aku," ucap Fani yang tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka.
Di tempat lain Vincent baru saja pulang ke apartemen nya.
"Mami hari ini kembali ke As, kamu jaga diri baik-baik, setelah urusan mami selesai di sana mami akan kembali." pesan masuk ke dalam Ponsel Vincent.
Vincent tidak mempermasalahkan nya, karena itu dia bisa bebas menghubungi Kania.
Vincent menelpon Kania.
"Halo Kania, kamu sedang di mana? kenapa kamu sangat lama menjawab telpon saya?" tanya Vincent.
"Aku sedang di rumah keluarga Tomi," ucap Kania.
"Kenapa kamu bisa di sana?" tanya Vincent.
"Ada acara keluarga, aku akan menghubungi Paman nanti," ucap nya dan langsung mematikan sambungan telepon membuat Vincent menghela nafas kesal.
"Setiap di telpon kalau tidak bersama Tomi, ada pekerjaan, dia sungguh menyibukkan diri dengan urusan sendiri," ucap Vincent.
"Awas saja kalau dia berani macem-macem," ucap nya dengan sangat kesal.
__ADS_1