
"Tidak apa-apa, biasa nya malam Minggu seperti ini dia pasti tidak pulang." ucap Kania.
"Tapi tetap saja kamu perempuan, kamu tidak boleh di luar seperti ini sendiri."
"Kamu sama saja seperti paman ku, dia tidak mengijinkan aku keluar, aku masih ingin di sini. Aku tidak tau kapan kesempatan ini ada lagi." ucap Kania.
Yuda hanya diam saja, dia melihat Kania hanya diam sambil melihat pemandangan malam yang penuh dengan lampu kuning.
"Seperti nya Kania ada masalah." ucap Yuda dalam hati.
Yuda membuka tas ransel nya.
"Nih ambil lah." ucap Yuda sambil menyodorkan cokelat.
"Coklat? kamu dapat dari mana?" tanya Kania.
"Aku membeli nya tadi, nih ambil lah." ucap Yuda.
"Kenapa kamu memberikan nya kepada ku?" tanya Kania.
"Seperti nya suasana hati mu sedang tidak baik, kebanyakan orang bilang kalau coklat ini bisa membuat suasana hati menjadi lebih baik." ucap Yuda.
Kania tiba-tiba teringat kepada paman nya yang selalu memberikan coklat Kepa nya ketika dia ngambek.
Kania tersenyum. "Cobalah, aku membeli nya cukup mahal jadi aku yakin rasanya pasti enak." ucap Yuda.
"Kamu sangat percaya diri sekali." ucap Kania.
Setelah Kania mencoba nya rasanya cukup enak dan dia pun tersenyum lagi.
"Nah kan kamu tersenyum, aku sudah yakin kalau cokelat ini enak. Kamu juga cantik kalau tersenyum." ucap Yuda.
Kania tersenyum. Mereka berbincang-bincang sampai tidak terasa sudah larut malam.
"Ini sudah larut malam, sebaiknya kita pulang saja..Aku akan mengantar kan kamu pulang." ucap Yuda.
"Humm baiklah." mereka bergegas kembali dari sana.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di depan gerbang.
"Kalau begitu kamu masuk lah, aku juga mau pulang. takut orang tua ku nyariin." ucap Yuda.
"Tunggu Yuda!"
"Iyah Kenapa?"
"Makasih yah hari ini waktu nya, makasih juga cokelat nya." ucap Kania. Yuda tersenyum dia menunggu Kania masuk ke dalam baru dia pulang.
"Dari mana saja kamu jam segini baru pulang?" tanya Vincent yang membuat Kania kaget.
Pria yang berdiri di depan pintu, meletakkan kedua tangan di pinggang, memasang wajah datar, dan tatapan tajam serta nada bicara yang tinggi.
__ADS_1
Kania tidak tau kalau Paman nya hari ini kembali ke rumah dan tidur di rumah.. karena biasanya dia tidur di rumah kekasih nya.
"Jawab Kania!" ucap Vincent.
"Aku abis main dengan Ulfa." ucap Kania.
"Bohong! saya melihat kamu pulang dengan pria itu!" ucap Vincent.
"Paman sudah tau aku pulang dengan dia, Kenapa Paman masih bertanya?" ucap Kania kesal.
"Kania jangan menjadi anak yang pembangkit! Paman tidak pernah mengijinkan kamu keluar malam seperti ini. Apa kamu tidak takut kalau ada orang yang berniat jahat kepada mu?" ucap Vincent.
"Aku tidak melakukan apapun di luar sana, aku juga besok lihum, tidak ada salah kan aku menghabiskan waktu libur ku untuk bersenang-senang?" ucap Kania.
"Kamu semakin membangkang Kania! kalau begini Paman akan mengadukan sikap kamu kepada orang tua kamu!" ucap Vincent.
"Percuma saja paman, mereka tidak akan perduli." ucap Kania.
Vincent mau lanjut bicara, namun langsung di potong oleh Kania.
"Sudah lah Paman, aku lelah. Aku mau istirahat." ucap Kania masuk melewati paman nya.
"Paman belum selesai berbicara! paman sudah bilang kamu jangan pernah berteman dengan dia lagi!" ucap Vincent, namun Kania tidak perduli.
Vincent sangat emosi dia menghela nafas panjang.
"Ada apa dengan anak itu? kenapa dia berubah total sampai-sampai tidak memiliki Sopan Santun sama sekali." ucap Vincent.
Keesokan harinya...
Seperti biasa Vincent Akan berangkat ke kantor. Keluar dari kamar dia melihat kania memasak di dapur.
Vincent sedikit canggung. Namun ketika Kania menoleh ke arah nya dia langsung tersenyum dan menyapanya.
"Selamat pagi Kania." sapa nya.
Kania tidak menjawab, dia hanya memasang wajah datar dan menata makanan di atas meja.
"Sarapan lah bersama di sini." ucap Vincent.
Kania menarik kursi lebih jauh dari Vincent dan duduk di sana.
Kali ini dia membiarkan Vincent mengambil makanan nya sendiri ke piring. Vincent terbiasa dengan perlakuan Kania yang baik saat makan. Kini dia merasakan sifat Kania yang berubah.
"Kania Paman minta maaf soal tadi malam." ucap Vincent.
"Aku sudah melupakan nya."
"Sungguh? kamu sudah melupakan nya? syukurlah kalau begitu, sepanjang malam paman tidak bisa tidur karena merasa bersalah." ucap Vincent.
Kania menatap wajah paman nya.
__ADS_1
"Emang nya paman bisa merasa bersalah?" ucap Kania. Vincent seketika langsung terdiam.
karena tatapan Kania yang begitu menakutkan.
"Baiklah Paman akan diam, sudah lupakan saja ayo lanjut sarapan." ucap Vincent.
"Oh iya nanti malam kamu jangan kemana-mana yah, Paman mau mengajak Kam makan malam bersama, ini sebagai permintaan maaf paman kepada kamu." ucap Vincent.
"Kamu bisa kan? paman mohon."
Kania terdiam sejenak dia menatap wajah Paman nya.
"Huff sudah lah, aku tidak boleh juga terlalu bersikap seperti ini, mau bagaimana pun dia tetap lah paman ku yang sudah membesar kan ku." batin Kania.
"Baiklah." Vincent langsung tersenyum. "Kalau begitu nanti Paman akan mengirimkan lokasinya." ucap Vincent.
Kania tidak mengatakan apapun dia lanjut Makan, sedang asyik makan Vincent menyuapi nya dengan makanan.
Kania menolak nya.
"Buka mulut mu Kania." ucap Vincent.
"Jangan seperti ini paman, aku sudah besar. Paman makan saja." ucap Kania.
"Huff Kenapa kamu menolak nya? kamu sudah memaafkan Paman, tapi kamu menolak suapan dari Paman." ucap Vincent.
"Dulu waktu kecil kamu sering merengek meminta di suapin seperti ini." ucap Vincent sambil tersenyum.
Tiba-tiba Kania meletakkan sendok nya dengan kasar di atas Meja membuat Vincent kaget.
Kania menatap Vincent. Seketika Vincent langsung menghabiskan makanan nya.
"Kalau begitu paman berangkat kerja dulu yah. Masakan kamu enak seperti biasa." ucap Vincent mengambil goreng yang di buat oleh Kania dan pergi.
Kania yang masih duduk di meja makan hanya bisa menghela nafas panjang.
Vincent masuk ke dalam mobil nya.
"Huff aku tidak menyangka anak yang begitu imut, cantik, lembut dan baik itu bisa menjadi sangat menakutkan ketika marah." batin Vincent.
Vincent menghabiskan makanan nya.
"Ini terasa sangat aneh sekali, seperti semua nya terasa berbeda." batin Vincent.
Tiba-tiba handphone nya berdering.
"Selamat pagi sayang, aku hari ini ke perusahaan kamu yah." ucap Minhui.
"Baiklah." ucap Vincent dan mematikan sambungan telepon.
Kania melihat Paman nya pergi dia pun seperti biasa bersih-bersih rumah. dan juga pekarangan rumah.
__ADS_1