
"Putus kan dia? Kamu jangan membuat paman melakukan hal yang tidak baik." ucap Vincent.
"Bukan kah bagus kalau aku memiliki kekasih? Aku tidak akan pernah mengganggu Paman." ucap Kania.
"Paman tidak setuju!"
"Terserah." ucap Kania langsung pergi.
Namun Vincent tidak bisa menahan emosi nya dia masuk ke kamar Kania dan mendorong nya ke kasur.
"lepas kan aku! aku akan mengadukan sifat Paman yang seperti ini kepada Omah dan Opah." ucap Kania mengancam.
"Saya tidak takut. Saya tidak akan membiarkan kamu bertemu dengan Pria itu lagi!" ucap Vincent semakin menahan Kania di bawah nya.
"Paman tidak memiliki hak untuk melarang ku karena Paman bukan Paman kandung ku!" ucap Kania.
Vincent merasa marah mendengar Kania dia mencium bibir Kania lagi dan lagi dengan secara kasar.
"Putus kan pria itu! Kalau kamu tidak ingin mendapatkan perlakuan seperti ini." ucap Vincent langsung pergi meninggalkan Kania.
Kania bangun dia menghapus bibir nya.
"Paman sialan! Aku tidak akan pernah menghargai mu lagi." ucap Kania merasa benci.
"Arghhh!!! brak... brukk..." Vincent menghancurkan semua barang-barang di kamar nya dan menendang lemari sampai rusak.
"Apa yang kau lakukan Vincent? Kenapa kamu seperti itu kepada Keponakan kamu sendiri? Kenapa kamu merasa marah ketika mengetahui mereka berpacaran?" ucap Vincent.
"Ini tidak mungkin! Ini tidak mungkin." ucap Vincent berusaha untuk sadar. Alhasil dia mengambil minuman keras dari ruang penyimpanan nya dan meminum nya sampai mabuk di kamar nya.
Di pagi hari Kania keluar dari kamar seperti biasa. Namun rumah terlihat sangat sepi dia melihat ke arah pintu kamar paman nya.
"Bagus deh kalau Paman belum bangun, untuk sementara aku tidak ingin bertemu dengan nya." ucap Kania.
Kania membuka pintu namun ternyata di kunci dia mencari namun tidak ada.
"Huff ini pasti ulah paman." ucap Kania dia mencoba mencari cara agar bisa keluar namun percuma saja.
"Kania salah besar karena berharap Paman nya masih tidur di kamar nya sementara Vincent sudah berangkat ke kantor nya dari pagi tadi.
Kania merasa prustasi dia memutuskan untuk menghubungi Paman nya.
Vincent yang sedang bersama rekan nya melihat handphone nya berbunyi dia pun mengabaikan nya.
Setelah selesai berbicara dia pun menjawab nya.
"Ada apa?" tanya Vincent.
__ADS_1
"Kenapa paman mengunci ku di rumah? Berikan kunci nya aku masih keluar! aku tidak betah di rumah yang seperti neraka ini!" ucap Kania.
"Kamu keluar mau menemui Pria itu kan? Tidak bisa!" ucap Vincent.
"Kalau begitu aku akan menghubungi Omah agar paman kena marah, aku juga akan mengadukan semua nya kepada Omah." ucap Kania.
Namun Vincent tidak menjawab. Kania memeriksa Handphone ternyata panggilan sudah di matikan.
"Aaarrggghhh!!!! Sangat menyebalkan." ucap Kania begitu marah.
"Aku tidak mengerti dengan apa maksud dia, namun sekarang aku sangat membenci nya." ucap Kania.
Kania menghela nafas panjang.
"Sudah lah Percuma saja aku berteriak tidak jelas di sini, aku sebaiknya memasak sarapan." ucap Kania. Namun ternyata bahan yang mau di masak di dapur sederhana sudah tidak ada.
Hanya beras saja. Kania merasa kesal lagi karena perut nya sudah sangat lapar.
"Awas saja nanti dia pulang, aku akan menghajar nya habis-habisan." Ucap Kania sambil menggoreng telur yang tersisa.
Tidak beberapa lama akhirnya dia selesai makan dia menghabiskan hari yang membosankan di dalam kamar nya.
"Aku sudah terbiasa bebas beberapa bulan seharian di kamar membuat ku pusing dan tidak betah." ucap Kania.
Berharap hari cepat berlalu dia sudah sangat bosan. Lagi tidur tiba-tiba mendengar suara mobil masuk ke halaman rumah nya dia langsung bangun dan mengintip dan benar saja paman nya sudah pulang.
Namun sebisa mungkin Vincent melindungi kepala Kania dari benturan lantai.
"Apa yang kamu lakukan? apa kamu sudah bodoh? Bagaimana kalau kepala mu pecah?" tanya Vincent.
"Itu jauh lebih baik dari pada harus bertemu dengan Paman dan hidup satu rumah dengan paman." ucap Kania.
"Berhenti seperti anak-anak Kania! Jangan membesar-besarkan masalah kecil." ucap Vincent terlihat sangat letih.
"Bukan aku yang membesar kan masalah, namun paman." ucap Kania.
"Paman memperlakukan ku seperti kekasih paman yang murahan itu. Paman tidak bisa menghargai ku. Paman juga tidak pernah mengerti aku." ucap Kania.
Vincent menatap wajah Kania.
"Ini benar-benar sangat konyol sekali, Kenapa aku baru menyadari hal ini." batin Vincent.
"Kenapa Paman hanya diam saja? Apa Paman merasa bersalah?"
"Paman minta maaf, Paman menyesalinya."
"Percuma! Aku sudah sangat membenci Paman. Aku menyesal memilih hidup bersama paman." ucap Kania.
__ADS_1
Tentu saja mendengar itu Vincent sangat sakit hati.
Vincent mau memeluk Kania namun Kania tidak mau dia langsung pergi.
Vincent menghela nafas panjang dia duduk di sofa sambil memijit kepala nya yang terasa sangat pusing sekali.
Hari ini dia merasa begitu lelah sekali sementara pekerjaan tidak terlalu banyak dia juga pulang begitu cepat.
Karena lelah dia tertidur di sofa sampai malam..Kania turun karena perut nya sangat lapar.
Melihat Vincent tidur di sofa membuat nya tidak mood.
"Sesegera mungkin aku harus mencari apartemen yang cocok untuk ku." ucap Kania.
Tiba-tiba handphone nya berdering.
"Iyah halo Yuda."
"Kamu di Mana? Apa kamu sudah makan malam?" tanya Yuda di balik telepon.
"Aku belum makan malam, aku sangat Lapar sekali."
"Keluar lah aku sudah di depan gerbang."
"Kamu ngapain ke sini? Paman ku sedang di rumah." ucap Kania.
"Aku hanya mengantar kan kamu Makanan, seharian kamu tidak keluar pasti tidak di ijinkan oleh Paman kamu." ucap Yuda.
Kania berhati-hati untuk keluar dari rumah. Vincent menyadari hal itu dia hanya bisa menghela nafas panjang.
Kania kembali membawa masuk makanan. Namun ternyata Vincent sudah berdiri di depan pintu.
"Dari mana kamu mendapatkan makanan itu?" tanya Vincent. Kania tidak menjawab namun Vincent langsung mengambil nya dan membuang ke tempat sampah.
"Berapa kali paman bilang agar jangan terima makanan dari luar." ucap Vincent.
"Paman apa-apaan sih! Ini makanan di kasih Yuda." ucap Kania mengambil nya lagi Untung saja terbungkus bagus.
Kania nekad untuk makan sebagai pembalasan dendam nya kepada Vincent.
Vincent duduk di depan Kania yang sedang makan.
"Kenapa paman melihat ku seperti itu? berhenti menatap ku." ucap Kania.
Vincent tidak mengatakan apapun namun dia terlihat sangat lapar.
"Kenapa kamu tidak masak?" tanya Vincent namun Kania tidak menjawab nya.
__ADS_1