Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 195


__ADS_3

"Sayang, apa kamu lihat hari ini pak Vincent?" tanya Tomi kepada Fani.


"Emang nya kenapa?" tanya Fani.


"Hari ini dia tampak bahagia," ucap Tomi.


"Bagus dong kalau begitu," ucap Fani. Tomi mengangguk sambil tersenyum.


"Tapi kira-kira karena apa yah?" tanya Tomi. "Mungkin pak Vincent sudah baikan dengan istri nya," ucap Fani.


"Nah, bisa jadi sih," ucap Fani.


Tidak beberapa lama akhirnya mereka kembali bekerja sebelum Vincent keluar.


Di siang hari nya...


"Hari ini ada meeting bersama karyawan sekaligus makan siang bersama pak," ucap Tomi kepada Vincent.


Karena pekerjaan mereka berhasil dan sukses itu sebabnya merayakan nya bersama-sama.


"Apa kalian sudah memesan makanan nya?" tanya Vincent.


"Sudah pak, kali ini dari Toko Ulfa, teman nya Kania."


Vincent tersenyum.


Ulfa yang mendapat orderan cukup banyak membuat nya sangat senang sekali. Tidak sia-sia dia membantu Vincent kemarin.


Dia juga mengabari Kania tentang itu. Kania juga sangat bahagia.


Namun tiba waktu makan siang, Tomi dan Fani memerhatikan kelihatan nya Vincent kurang berselera. Sementara yang lain nya sangat asik makan.


"Apa makanan bapak kurang enak? Masih ada yang lain kok pak," ucap Staf.


"Ini sangat enak, tapi saya seperti nya masih kenyang, kalian lanjut makan saja."


Vincent keluar dari sana mencari udara sambil mengirimkan pesan kepada istri nya.


"Huff aku ingin istirahat sejenak," ucap Vincent, dia langsung masuk ke ruangan nya dan istirahat di sana.


Tomi masuk ke ruangan Vincent. "Ada apa dengan Bapak?" tanya Tomi.


"Saya sangat ngantuk, jangan mengganggu saya terlebih dahulu," ucap Vincent.


"Baiklah Pak, tapi ada satu berkas yang harus bapak tandatangani." Vincent segera bangun dia menandatangani surat itu terlebih dahulu dan langsung berbaring.


"Apa pak Vincent terlalu bahagia sampai dia kelelahan seperti itu, dia tampak senang dan segar pagi tadi, siang tadi dia juga sangat bahagia namun sekarang malah lemas," ucap Tomi.


Tomi keluar dari sana membiarkan bos nya istirahat.


Sore hari nya Vincent memutuskan untuk pulang ke rumah. Kania yang sedang bersih-bersih rumah heran tumben-tumbenan suami nya cepat pulang.


Vincent tidak mengatakan apapun dia langsung melewati Kania dan masuk ke dalam kamar.


"Apa-apaan ini? apa dia tidak melihat ku di sini sehingga tidak mau menyapa ku?" batin Kania.

__ADS_1


Dia mengikuti ke kamar. "Sebelum tidur, sebaiknya mas Vincent mandi dulu," ucap Kania karena Vincent langsung berbaring di tempat tidur.


"Mas..." ucap Kania sambil menggoyang kan badan suami nya, tapi dia merasa aneh dengan suhu badan suami nya.


"Kenapa sangat panas yah?" batin Kania, dia langsung membangun kan suami nya.


"Mas..." ucap Kania. Dia memeriksa dahi suami nya dan benar saja Vincent demam dan badan nya sangat panas sekali, Kania sangat panik, dia segera mengambil Air untuk mengompres badan suami nya tidak lupa memberikan obat.


"Mas, ayo kita ke rumah sakit, badan kamu sangat panas sekali."


Vincent menggeleng kan kepala nya. "Nanti pasti sembuh, kamu tidak perlu khawatir."


Kania membuka sepatu Vincent, dan juga membuka jas Vincent agar lebih nyaman.


"Kok bisa sih malah sakit seperti ini?" ucap Kania. Dia menghubungi dokter untuk memeriksa suami nya karena sudah dua jam panas nya tak kunjung turun.


Setelah selesai di periksa oleh dokter, Vincent langsung tidur dengan nyenyak karena sudah di suntik dan diberikan obat juga.


Kania membantu mengompres badan Vincent dengan kain yang basah.


"Lagian bekerja tanpa ada aturan, tidak ada istirahat, bagaimana tidak sakit kalau seperti ini," ucap Kania.


Kania sama sekali tidak tenang melihat Vincent demam. Dia tidak mau meninggalkan Vincent di kamar sendirian.


Di rumah Jeki...


"Mamah... Mamah....." Saska merengek mau minta makan eskrim. Namun Minhui tidak memberi nya karena sudah banyak di Makan sebelum nya.


"Kamu pergi main saja, eskrim nya sudah habis," ucap Minhui.


Tidak beberapa lama Jeki pulang. "Kenapa dia nangis?" tanya Jeki.


Saska langsung mengadu kepada Jeki.


"Ini semua karena kamu, kenapa membeli stok eskrim sangat banyak, dia tidak berhenti minta, dan hari ini dia sama sekali tidak makan."


Jeki membujuk Saska dan mencoba mengajak nya bermain mengalihkan perhatian nya.


Minhui menghela nafas panjang. Minhui duduk di sofa melihat Saska bersama Jeki main bersama.


"Aku akan menghabiskan eskrim nya nanti," ucap Jeki.


Minhui mengangguk.


"Aku beli sesuatu untuk kamu," ucap Jeki memberikan paper bad kepada Minhui.


Minhui membuka nya, ternyata baju khusus untuk wanita hamil.


"Orang di kantor menjual nya, aku tertarik karena kelihatan nya cantik dan bahan nya juga nyaman."


"Tapi kamu membeli sangat banyak sekali," ucap Minghui.


"Biar bisa ganti-ganti setiap hari."


Minhui tersenyum. "Terimakasih, seharusnya kamu tidak perlu repot-repot dan menahan malu beli ini."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, ada sekertaris ku yang aku suruh untuk membeli nya."


"Apa sekertaris kamu tau hubungan kita?"


Jeki mengangguk.


"Kamu yakin gak apa-apa dia tau?"


"Gak apa-apa, dia sudah paham kok."


"Oh iya aku mau nanya sesuatu sama kamu, ini juga sangat penting."


"Ada apa?" tanya Minhui.


"Kamu ingin kita menikah setelah melahirkan atau sebelum?" tanya Jeki.


"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya?" tanya Minhui.


"Sebelumnya kita tidak membicarakan hal ini."


"Aku ikut keputusan kamu saja," ucap Minhui.


"Aku ingin secepatnya, tapi kalau sebelum melahirkan pasti akan jauh lebih susah karena harus mengurus banyak hal."


"Bagaimana kalau setelah melahirkan saja?" tanya Jeki.


Minhui mengangguk. "Tapi aku ingin pernikahan nya private saja, hanya keluarga kita saja yang datang," ucap Minghui.


"Kenapa?" tanya Jeki.


"Aku tidak ingin membuat orang tua ku malu karena hal ini, semua orang pasti bertanya-tanya kapan kita memiliki anak, padahal kita baru saja menikah."


"Baiklah kalau begitu, aku ikut kamu saja. Apapun itu yang penting baik untuk kita berdua."


Hari semakin malam...


Jeki baru saja selesai mandi. Dia melihat Minhui sudah tidur bersama Saska di kasur.


Dia segera memindahkan Saska. Setelah itu dia berbaring di samping Minhui.


"Aku sudah melakukan persiapan, apa kita melakukan malam ini saja?" tanya Minhui.


Jeki kaget mendengar nya. "Maksud kamu apa?" tanya Jeki.


Minhui Menatap wajah Jeki seakan menjelaskan nya.


"Baiklah, Tapi kamu siap kan?" tanya Jeki. Minhui mengangguk.


"Humm ini rasanya pasti tidak seperti biasanya," ucap Jeki.


Minhui melihat perut nya yang sudah sangat besar. "Aku harap bayi nya tidak terkejut," ucap Jeki.


Perlahan Jeki mulai melakukan pemanasan.


"Padahal sebelumnya kami sudah melakukan nya, kenapa sekarang jadi sangat canggung seperti masih perawan saja," batin Minhui.

__ADS_1


__ADS_2