Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 131


__ADS_3

Fani dan Tomi baru selesai bekerja. "Kamu lagi lihatin apa sih dari tadi?" tanya Tomi kepada Fani yang duduk di Samping nya.


"Aku lagi melihat postingan jalan-jalan Kania," ucap Fani.


"Apa kamu ingin juga?" tanya Tomi.


"Siapa sih yang gak mau honey moon seperti ini, semua orang juga pengen," ucap Fani.


"Kalau begitu ayo menikah, aku akan membawa kamu kemana pun yang kamu mau."


"Kamu yakin mau menikah secepat itu?" tanya Fani. Tomi mengangguk.


"Aku belum siap karena menikah itu tidak lah mudah, harus disiapkan semua nya dengan baik."


Tomi tersenyum. "Aku paham kok, aku juga harus lebih banyak belajar," ucap Tomi.


Fani tersenyum dia menggenggam tangan Tomi.


"Oh iya hari Minggu kamu ada kegiatan gak?" tanya Tomi.


"Enggak, aku akan istirahat di apartemen."


"Bagaimana kalau kamu ikut aku bertemu dengan orang tua ku?" tanya Tomi.


Fani terdiam sejenak membuat Tomi kebingungan. "Ada apa? Apa ada yang salah? kalau kamu juga gak apa-apa kok."


"Bukan gitu, aku hanya takut nanti nya orang tua kamu tidak suka sama aku."


"Ya ampun Fani, kenapa kamu berfikir seperti itu, kamu sudah tau orang tua aku seperti apa, mereka juga sudah tau hubungan kita."


"Tapi mereka pasti kecewa sama aku, karena sebelumnya sudah memutuskan hubungan dengan kamu."


"Kamu tidak perlu khawatir, mereka tidak tau kok, mereka hanya tau hubungan kita baik-baik Saja."


Fani menatap Tomi. "Jadi kamu menyembunyikan semua nya dari orang tua kamu?" tanya Fani.


"Untuk apa di kasih tau? Orang tua ku juga tidak mau ikut campur urusan pribadi anak nya. Kamu tidak perlu takut mereka sangat baik dan sangat berharap kamu sesekali datang berkunjung ke rumah."


"Ya udah kalau begitu aku mau, aku mau ikut kamu."


Tomi tersenyum.


Keesokan harinya..


Vincent bangun lebih awal. Dia melihat ke arah jendela yang sangat silau karena tidak di tutup rapat.

__ADS_1


Dia mau beranjak namun baru sadar ternyata Kania tidur di dada nya memeluk nya begitu erat sekali.


Vincent mengelus kepala Kania, mencium pucuk kepala nya. Kania terbangun dia menatap wajah Vincent.


"Ayo bangun, ini sudah jam sembilan pagi. Bukan kah hari ini kamu mau belanja?"


Kania menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak mau, aku masih ngantuk."


Vincent tersenyum. "Tapi kamu harus bangun sekarang."


"Aku masih ngantuk, lagian mas Vincent yang buat aku ngantuk dan bangun kesiangan seperti ini.".


Vincent tersenyum dia mengingat kejadian tadi shubuh.


"Ayo bangun, aku akan menggendong kamu ke kamar mandi." Vincent langsung membawa istri nya ke dalam kamar mandi.


Tidak beberapa lama akhirnya selesai, Kania keluar sambil mengeringkan rambut nya dia melihat Vincent tengah membuat roti bakar.


Kania mendekati nya dan memeluk dari belakang. "Kenapa kamu belum pakai baju? Pakai baju setelah itu sarapan," ucap Vincent.


Kania yang sangat manja hanya diam, sambil memeluk Vincent dari belakang.


"Humm mas wangi banget," ucap Kania.


Kania memajukan bibir nya, Vincent paham dia mencium bibir Kania.


Namun timbul bau-bau gosong membuat Vincent dan Kania kaget.


ternyata roti nya sudah gosong. Kania tertawa melihat Vincent kesal harus membuat yang baru lagi, dia kabur karena takut Vincent akan menyalah nya.


Tidak beberapa lama akhirnya Kania keluar kamar dia duduk di depan Vincent.


"Oh iya mas, hari ini aku harus beli beberapa barang yang mau di bawa ke Indonesia."


"Jangan begitu banyak karena kita yang kesusahan membawa nya pulang."


"Oke!"


"Oh iya hari ini kita harus pindah ke villa yang sudah di booking, kamu tunggu di depan saya akan merapikan barang-barang kita."


Kania mengangguk.. Sebelum pergi jalan-jalan Kania dan Vincent melihat Villa terlebih dahulu.


"Wahhh bagus banget mas, aku mau tinggal di sini saja," ucap Kania sambil berlari masuk ke dalam.


"Hati-hati jangan lari-lari," ucap Vincent. Kania melihat pemandangan, kolam renang dan juga fasilitas yang ada di sana.

__ADS_1


"Wahhh kita bisa tinggal di sini satu bulan kan mas?" tanya Kania.


Vincent hanya bisa tersenyum. Tidak lupa Kania mengambil video suami nya yang sedang melihat-lihat. Di dalam video itu mereka bercanda sambil tertawa.


Lagi-lagi Jeki melihat nya.


Tidak beberapa lama akhirnya mereka keluar dari sana, Kania benar-benar tidak mau berhenti walaupun sudah capek.


Di rumah Jeki...


Jeki lagi-lagi tidak pulang, tinggal hanya Minhui sendirian di rumah.


Minhui baru saja selesai mandi dia melihat ke arah pintu pintu kamar nya yang terbuka. Dia mengingat perasaan tadi pintu nya terkunci.


Dia berjalan ke arah pintu tapi sangat kaget melihat Jeki tertidur di samping tempat tidur nya tepat nya di lantai.


Minhui hampir saja jatuh karena kaki nya masih basah.


"Kenapa dia tidur di sini?" tanya Minhui, Minhui berusaha membangun kan nya namun Jeki tidur sehingga tidak sadar.


Tiba-tiba saja Minhui mual dia berlari ke wastafel karena sangat mual sekali. "Uwekk!!! Uwekkk!!" Jeki membuka mata nya sebentar dia melihat Minhui.


Namum dia langsung tidur lagi.


Minhui menghela nafas panjang. "Seperti nya dia mabuk," ucap Minhui karena dia tidak bisa mencium aroma yang aneh apalagi yang menyengat seperti alkohol.


Setelah selesai memakai baju dia memberikan selimut tapi dia tidak tega melihat Jeki tidur di lantai akhirnya dia mengangkat badan Jeki ke atas tempat tidur.


Minhui sedikit kesusahan. Setelah selesai dia langsung keluar.


"Huff bau alkohol nya lengket pada ku," ucap Minhui dia mencari minyak kayu putih.


Setelah itu Minghui berjalan ke arah ruang tamu tapi dia tambah kaget melihat pacar Jeki juga tidur di sofa ruang tamu.


Minghui menggeleng kan kepala nya. "Huff bau alkohol nya ternyata bukan dari aku, tapi dari wanita ini. Apa dia mandi alkohol?" batin Minhui.


Minhui tidak perduli dia berjalan ke dapur mencari sesuatu yang bisa di makan. Dia duduk sendiri sambil melihat terus kepada wanita itu.


Dia mengingat dulu saat dia bersama Vincent, dia selalu di istimewakan, selalu di hargai namun ternyata dia salah memilih. Walaupun dia sudah terlebih dahulu bersama Jeki, namun dia merasakan kebahagiaan bersama Vincent saja.


"Huff apa sih yang aku pikirkan? Mana mungkin wanita seperti aku menikah dengan Vincent." ucap Minhui.


Dia mengelus perut nya. "Seandainya mamah kuat nak, kita sudah pergi dari sini," ucap Minhui.


"Pokoknya mamah tidak akan membiarkan kamu mengetahui bapak kamu adalah pria yang begitu jahat," ucap Minhui.

__ADS_1


__ADS_2