Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 189


__ADS_3

Kania hari ini tidak ada Jadwal kuliah, dia bingung harus ngapain di rumah.


Dia memutuskan untuk bermain ke Cafe Yuda.


"Kamu mau kemana?" tanya Vincent saat Kania keluar dari pintu.


Kania kaget kenapa suami nya bisa ada di sana.


"Aku mau ke Cafe Yuda," ucap Kania. Vincent melihat jam.


"Ini masih pagi, Cafe nya tidak mungkin buka sekarang," ucap Vincent. Kania baru ingat.


"Kamu tidak bertanya kenapa aku pulang begitu cepat?" tanya Vincent. Kania diam saja.


"Aku mengkhawatirkan kesehatan kamu, sebaiknya kita periksa kesehatan kamu. Aku juga sudah membuat janji dengan dokter."


"Kenapa tidak bilang dulu sama ku? Aku tidak apa-apa, aku sehat," ucap oania.


Vincent membujuk Kania agar mau ikut dengan nya.


Akhirnya Kania mau walaupun sedikit berat. "Aku tau kamu pasti belum siap hamil kan? Ini benar-benar kecerobohan ku," ucap Vincent.


Vincent berusaha mengajak Kania berbicara namun tetap saja Kania irit berbicara.


Sesampainya di rumah sakit Kania langsung di periksa.


Semua nya baik-baik saja, Vincent kini jauh lebih tenang karena istri nya sehat begitu juga dengan calon anak nya.


Vincent mengantarkan istri nya ke rumah, dia langsung kembali ke kantor.


Karena cukup banyak pekerjaan di kantor, hari ini Vincent lembur sampai malam hari.


Ketika pula istri nya sudah tidur.


Begitu juga dengan Jeki. Dia lembur di rumah agar bisa menemani Minhui yang hamil tua.


Namun walaupun seperti itu dia tetap meluangkan waktu banyak untuk Minhui dan juga Saska.


Berhari-hari Vincent sangat fokus dengan pekerjaan nya bahkan sudah satu Minggu dia menghabiskan waktu luang nya untuk bekerja.


Dia tidak ingin kelalaian nya menjadi kerugian besar di perusahaan nya.


Dan dengan cara seperti itu dia tidak terlalu memikirkan masalah nya dengan istri nya.


"Hufffttt!!! pinggang ku sangat sakit sekali," Ucap Minhui yang sedang menyiram tanaman. Jeki yang duduk di kursi tetas mendengar itu.


Dia meninggal kan pekerjaan nya dan menyusul istrinya.


"Sudah aku bilang kamu jangan banyak aktifitas, lihat lah sekarang kamu jadi kesakitan," ucap Jeki.

__ADS_1


Jeki membawa Minhui istirahat. Minhui melihat Jeki masih bekerja.


"Kenapa kamu tidak ke kantor saja? Apa kamu bisa fokus bekerja di rumah?" tanya Minhui.


"Di sini aku jauh lebih fokus karena aku bisa menjaga kamu dan juga Saska."


"Tapi mau bagaimana pun bekerja di kantor jauh lebih nyaman dan fokus, aku dan Saska tidak apa-apa di sini," ucap Minhui.


Jeki menggeleng kan kepala nya, "aku akan tetap di sini menjaga kamu dan juga Saska," ucap Jeki.


Minhui menghela nafas panjang, "terserah deh, aku mau mandi," ucap Minhui.


Jeki mengangguk. Minhui membawa Saska ke dalam.


Kania dan Ulfa sedang nongkrong bersama setelah selesai kuliah.


"Bagaimana keadaan kamu setelah hamil?" tanya Ulfa.


"Ini sungguh menyiksa ku, aku tidak bisa makan seperti biasanya." Ulfa tertawa mendengar nya.


"Itu hanya sebentar, kamu yang sabar yah."


"Harus di jalani, mau bagaimana lagi," ucap Kania.


"Lalu bagaimana hubungan kamu dengan suami kamu sudah membaik kah?" tanya Ulfa karena sudah satu Minggu mereka tidak bertemu.


"Aku dengan mas Vincent masih sama," ucap Kania.


Kania mengangguk. "Apa kamu tidak berniat untuk membicarakan nya baik-baik dan belajar menerima yang terjadi?"


"Kamu akan hidup seumur hidup dengan nya, kamu akan menjadi seorang ibu, apa kamu tidak mau berlapang dada?" tanya Ulfa.


"Aku tidak tau harus apa, untuk sekarang ini aku lebih baik untuk diam dan berusaha memikirkan semua nya," ucap Kania.


Ulfa mengelus pundak teman nya itu.


"Kamu harus dewasa yah, kasihan juga suami mu yang selalu kamu abaikan membuat nya merasa bersalah setiap hari."


Kania mengangguk. "Oh iya aku dengan Yuda ada sesuatu untuk kamu."


Ulfa mengeluarkan kotak yang tidak terlalu besar. "ini adalah alat pijat elektrik, masa-masa hamil kamu pasti sering pegal-pegal kamu bisa menggunakan ini."


"Ya ampun Ulfa, kenapa kamu repot-repot gini sih."


"Anggap saja ini balasan kecil dari kebaikan kamu selama ini kepada ku."


Kania tersenyum. "Terimakasih banyak yah, kamu adalah teman ku paling baik."


"Humm seperti nya setelah bersama Yuda kehidupan kamu jauh lebih berubah," ucap Kania.

__ADS_1


Ulfa mengangguk. "Yuda membantu ku sampai sekarang."


"Aku juga membuka usaha rumah makan yang tidak jauh dari Cafe," ucap Ulfa.


"Wahh, kamu hebat banget, aku yakin kamu pasti sukses dan usaha kamu lancar terus," ucap Kania.


"Aminnnn, aku juga berdoa untuk kamu semoga kamu bahagia terus, masalah rumah tangga kamu terselesaikan dan kamu selalu sehat."


Kania dan Ulfa sudah terlalu lama di sana, Ulfa harus pergi bekerja, sementara Kania mau istirahat pulang ke rumah.


"Aku selalu penasaran apa mbak Minhui sudah pulang? Bagaimana kak Jeki merawat Saska sendirian sambil bekerja?" batin Kania.


"Bagaimana juga dengan keadaan mbak Minhui dengan hamil tua seperti itu?" batin Kania.


"Ah sudahlah, kenapa aku harus memikirkan hal itu, aku bisa datang langsung ke rumah kak Jeki," batin Kania.


Karena masih sore dia membelok kan mobil nya ke arah rumah nya Jeki.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di depan rumah Jeki.


"Mbak Minghui..." ucap Kania.


Minhui yang sedang menyapu di teras kaget melihat Kania.


"Kania... Kamu datang ke sini? Aku sangat merindukan kamu," ucap Minhui.


Mereka berpelukan. "Mbak kapan pulang? Bagaimana keadaan mbak?" tanya Kania.


"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja, kamu sendiri kenapa pucat dan sangat kurus?" tanya Minhui.


"Apa Vincent melakukan hal yang membuat kamu seperti ini? Apakah dia belum menjelaskan nya?" tanya Minhui.


"Mbak minta maaf karena tidak ngasih tau kamu langsung, mbak juga kaget tau kalau Saska adalah anak suami kamu."


"Aku sudah melupakan itu mbak, aku hanya ingin bertemu mbak sekarang," ucap Kania.


"Ayo duduk dulu ke dalam," ucap Minhui. Mereka masuk ke dalam dan curhat-curhatan.


"Kak Jeki dan Saska mana mbak? Dari tadi tidak kelihatan?" tanya Kania.


"Mereka sedang pergi keluar membeli makanan," ucap Minhui.


"Oohhhh," ucap Kania.


"Kalau kamu belum bisa menerima keadaan Saska jangan di paksakan yah, gak apa-apa kok aku yang rawat Saska di sini," ucap Minhui.


"Humm sebenarnya aku tidak membenci Saska mbak, dia tidak ada salah apa-apa, hanya saja aku belum bisa menerima suami ku dengan masa lalu nya," ucap Kania.


"Aku paham kok, kamu harus bisa lebih ikhlas, apalagi kamu sedang hamil seperti ini."

__ADS_1


Kania menatap wajah Minhui.


"Mbak juga lagi sedih kan? cerita saja sama ku apa yang membuat mbak sedih," ucap Kania.


__ADS_2