
Dia pasti menyentuh perempuan yang dekat dengan nya, tidak menghargai perempuan dan juga sangat play boy.
Saska menghela nafas panjang beberapa kali sambil melihat handphone nya.
Keesokan harinya dia menemui temannya. setelah jam istirahat.
"Heh, kita pergi bicara," ucap Saska menahan baju Vito.
"Ada apa Bro? Baik-baik kalau mau bicara jangan seperti ini," ucap Vito.
"Jangan mengalihkan pembicaraan yah, sekarang aku minta kau untuk menjauhi Shela."
"Loh emang nya kenapa? Dia kan bukan pacar kamu, dia juga pacar adik mu."
"Tetap saja kau harus menjauhi nya."
"Apa-apaan sih kak," ucap Shela langsung mendorong Saska yang mencengkram kuat kerah baju Vito.
"Kamu tidak boleh bergaul dengan orang seperti dia Shela."
"Kenapa?" tanya Shela.
"Dia bukan laki-laki baik, dia mendekati kamu pasti ada mau nya."
"Apa maksud kamu berbicara seperti itu? Aku tidak pernah mengusik kehidupan mu," ucap Vito.
"Kamu tidak boleh percaya sama dia, kamu gak boleh dekat dengan orang seperti dia."
"Aku tidak perduli," ucap Shela. "Kali ini kamu harus dengar aku Shela," ucap Saska.
"Sebelum menilai orang lain baik atau tidak, emang nya kakak sudah baik?" tanya Shela.
"Bukan seperti Shela, tapi dia hanya mau memanfaatkan kamu saja."
"Aku tidak perduli, sebaiknya kakak tidak perlu ikut campur karena ini adalah kehidupan ku."
Shela langsung pergi bersama Vito.
Saska menghela nafas panjang. "Sejak kapan mereka dekat?" tanya Arka.
"kakak juga tidak tau, sebaiknya kamu bantu memperingati Shela kalau Vito bukan laki-laki yang baik."
"Kelihatan nya kakak sangat khawatir sekali, apa kakak memiliki perasaan kepada Shela?"
"Berapa kali lagi kamu bertanya itu terus? Dia adalah wanita yang di jodohkan sama kamu, walau kamu tidak menyukai nya sekarang kalau sudah dewasa nanti kita tidak tau."
__ADS_1
Arka Menatap wajah Saska. "Jangan bohong deh kak. Aku sudah tau kok," ucap Arka.
"Tau apa kamu?" tanya Saska.
"Aku tau kalau sebenarnya kakak memiliki perasaan kepada Shela."
"Jangan sok tau deh, kamu urus saja urusan kamu sendiri."
"Ya elah malah marah, aku hanya mau tau, kan bagus yah, kakak yang gantikan aku," ucap Arka.
Saska menggeleng kan kepala nya. "Tidak mungkin," ucap Nya dan langsung pergi.
Arka menghela nafas panjang. Di malam hari nya kebetulan sekali Vito datang ke tempat basket biasa.
Di sana mereka kebanyakan olahraga di malam hari. Saska melihat Shela juga menemani Vito.
"Kamu duduk di sini saja yah, kamu pasti suka melihat aku main basket, aku akan mengalah team nya Saska."
"Semangat yah, kamu pasti menang," ucap Shela.
Saska sangat kesal melihat kedekatan mereka, selama permainan Saska sangat emosi dia mengalah kan lawan nya dengan sangat mudah.
Vito kalah bersama teman-teman nya.
Vito sangat kesal menatap Saska. Saska tidak mengatakan apapun dia melihat Vito dan Shela pergi. Namun mereka tidak berjalan pulang ke arah rumah Shela melainkan ke arah lain.
"Aku mau cari makan di sekitar Sini."
"Kan di jalan pulang juga banyak yang jual makanan, kenapa harus ke sini?" tanya Shela.
"Udah ikut saja, di sini banyak makanan yang enak."
Perasaan Shela sudah tidur enak. Namun dia berusaha untuk positif thinking.
Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai di tempat makan. Setelah selesai makan bukan nya pulang namun Vito masuk ke dalam hotel.
"Kita ngapain ke sini?" tanya Shela. "Aku mau menemui teman ku sebentar gak apa-apa kan?" tanya Vito. Shela sudah tidak bisa berfikir positif namun dia tetap mengikuti Vito karena sudah malam dia takut sendirian di luar.
Namun sampai di kamar nomor 111, Shela sangat kaget karena tiba-tiba Vito mendorong nya ke dalam.
"Vito, apa yang kamu lakukan?" tanya nya kaget.
"Gak usah takut, kita di sini akan bersenang-senang," ucap Vito.
Dia mengunci pintu. Shela sangat takut dengan tatapan Vito. "Sebaik nya kita pulang saja Vito, aku mau pulang."
__ADS_1
"Eits,, mau kemana? Kamu pikir kamu bisa pergi begitu saja? Ayo duduk dulu sebentar menikmati suasana kamar hotel ini."
"Vito, lepas kan aku, aku mau pulang."
Namun Vito mendorong Nya ke kasur dengan sangat mudah.
"Aku sudah lama menahan diri melihat kamu, aku sangat nafsu melihat kamu, sekarang kamu harus memuas kan aku."
Shela sangat kaget mendengar itu. Ternyata yang di katakan oleh Saska benar, sekarang dia baru menyesal mau dekat dengan Vito.
"Lepas! aku mohon lepas kan aku Vito.". Vito hanya bisa tertawa melihat Shela berteriak ketakutan dan minta tolong.
karena Percuma saja, kamar itu kedap suara.
Dia mulai menyentuh Shela namun Shela tidak berhenti berontak. Karena tidak sabar dia langsung mengikat tangan dan kaki Shela. Vito sangat puas melihat Shela.
"Apa kamu pikir aku mendekati kamu karena aku menyukai kamu? Aku tidak menyukai wanita seperti mu!" ucap Vito.
"Lepaskan aku, aku mohon Vito, aku janji tidak akan ganggu kamu lagi."
"Tidak semudah itu, aku sudah menghabiskan uang, waktu untuk kamu, aku sudah sabar dan sekarang aku akan mengambil hak ku."
Shela menangis, dia berusaha berontak tidak mengijinkan Vito menyentuh nya.
Tidak beberapa lama pintu di gedor oleh orang dari luar. Shela sangat senang mendengar suara gedoran pintu. Namun itu membuat Vito semakin cepat melakukan aksinya.
Dia memukul Shela agar diam. Namun pintu terbuka dan ternyata di balik pintu adalah Saska. Dia langsung menghajar wajah Vito.
Setelah babak belur dia di bawa keluar oleh staf dan di laporkan kepada polisi.
Saska melihat Shela terbaring ketakutan di kasur. Dia segera membuka ikatan tangan dan kakinya.
"Kak Saska...," ucap nya menangis sambil badan nya bergemetar hebat.
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa, aku di sini," ucap nya sambil terus menenangkan Shela.
"Aku takut.. kak aku gak mau di sini, bawa aku pergi," ucap Shela..
Saska menggendong Shela ke dalam mobil dan segera membawa nya pulang ke rumah orang tua nya.
Minhui tau tentang itu dia ingin Vito di hukum, dia tidak akan membiarkan Vito lepas begitu saja.
Shela mengalami trauma, dia sangat ketakutan sekali sehingga tidak mau bertemu dengan orang lain selain Saska dan Minhui.
Saska tinggal Sementara untuk menjaga Shela, karena Minhui masih merawat anak nya yang bayi.
__ADS_1
Mendengar kabar Shela, Jeki segera meninggalkan pekerjaan nya, dia langsung pesan tiket.
Tidak menunggu apapun dia tidak bisa membiarkan orang lain berbuat seperti itu kepada anaknya. Dia meminta kepolisian memproses Vito dan juga keluarga nya.