Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 154


__ADS_3

Jeki membawa Saska keluar dengan dalih membawa nya ke rumah sakit. Sementara Minhui mengurus di rumah sambil istirahat.


Vincent dan Jeki membawa Saska ke klinik. Setelah di berikan obat Saska sudah mendingan. Vincent mengajak Saska main.


"Bagus deh kalau Saska sudah membaik."


Setelah itu mereka pulang. Vincent harus pergi setelah mengantar kan Jeki.


"Bagaimana? apa yang sakit?" tanya Minhui.


"Hanya demam biasa karena masuk angin, ayo bawa dia masuk ke dalam."


Setelah beberapa lama akhirnya Saska tidur.


"Ya ampun nak, kamu sangat kasian sekali, ibu janji akan menjaga kamu nak."


Jeki mendengar itu, dia hanya bisa diam.


"Oh iya, ini ada pakaian untuk Saska," ucap Jeki memberikan tas besar.


Vincent sudah menyiapkan semua nya dengan lengkap.


Minhui melihat jam sudah jam sembilan pagi. Dia melihat Jeki masih mengurus Saska.


"Apa kamu tidak ke kantor?" tanya Minhui. "Sepertinya hari ini aku libur."


"Kamu tidak percaya aku bisa menjaga Saska?"


"Bukan seperti itu."


"Aku tau kalau aku terlihat perempuan jahat, bodoh tapi aku tidak akan tega kepada bayi sekecil ini."


"Satu hari tidak ke kantor tidak akan menjadi masalah, ada sekretaris di kantor."


Tapi tiba-tiba handphone Jeki berbunyi. Dia menatap Minhui. Minhui hanya diam saja.


"Baiklah kalau begitu aku akan ke kantor, aku akan pulang lebih cepat, aku minta maaf sudah merepotkan kamu mengurus Saska."


Jeki berangkat ke kantor. Minhui menjaga Saska di rumah.


"Mulai hari ini seperti nya hari-hari ku tidak membosankan, aku memiliki teman sekarang."


"Tapi tunggu dulu deh, kenapa wajah Saska itu seperti mirip seseorang."


"Tapi ya sudah lah, bisa jadi saja sekedar Mirip."


Dia membongkar pakaian Saska.


"Ya ampun ini semua baju-baju yang mahal, aku pikir ini baju Saska sebelumnya."


"Aku sangat penasaran siapa Ayah nya anak ini, kenapa tidak mengambil dan mengurus nya sendiri."


Kania di kampus nya, dia sendiri karena hari ini Yuda dan Ulfa tidak masuk karena Ulfa sakit.


Kania belajar seperti biasa di kelasnya. Selesai kuliah dia berjalan ke kantin namun ternyata suami nya sudah menunggu di depan.


"Mas Vincent kenapa di sini?" tanya Kania. Dia menghampiri Vincent.


"Apa yang mas Vincent lakukan di sini?" tanya Kania. Vincent tersenyum.

__ADS_1


"Aku ke sini mau ngasih ini sama kamu untuk makan siang."


Kania melihat makanan dari suami nya. "Tidak perlu repot-repot seperti ini mas."


"Tidak apa-apa, aku ke sini juga mau melihat istri ku yang cantik ini."


Kania tersenyum. Mereka duduk tidak jauh dari tempat parkir.


"Oh iya aku juga mau ijin keluar kota hari ini, mungkin beberapa hari tidak pulang."


"Beberapa hari? Kenapa sangat mendadak seperti ini?" tanya Kania.


"Tidak perlu kaget seperti itu, tidak jauh kok, hanya saja untuk pulang pergi sangat melelahkan sekali."


Kania menghela nafas panjang. "Kita ini pengantin baru, tapi kenapa mas sangat mengutamakan pekerjaan?"


Vincent mengelus rambut Kania. "Siapa bilang aku mengutamakan pekerjaan? Ini semua karena paksaan, kalau boleh aku juga ingin 24 jam bersama kamu setiap hari nya.


"Aku akan pulang setelah pekerjaan selesai."


Kania mengangguk. "Baiklah kalau begitu," ucap Kania.


"Oh iya kamu tidak perlu khawatir, karena Mami hari ini sudah sampai di sini, kamu bisa menunggu nya di rumah."


Kania mengangguk. Cukup lama mereka berbincang-bincang di sana sambil makan siang.


Setelah Kania masuk ke kelas lagi, Vincent pun langsung pergi.


Vincent menghela nafas panjang sambil meninggalkan kampus Kania.


Beberapa jam akhirnya sampai di depan rumah sakit. "Aku sudah membohongi Kania demi menjaga dan merawat Sarah."


"Sore Dok, bagaimana keadaan Sarah?"


"Sejauh ini sudah membaik."


"Oh iya pak, bunga yang setiap hari bapak kirim selalu di buang nya, namun yang kemarin tidak di buang oleh nya."


Vincent mengingat dia memesan bunga mawar putih untuk yang terakhir kalinya.


"Dia sangat menyukai mawar merah dulu, apa sekarang dia sudah membenci mawar merah?" batin Vincent.


"Apa saya sudah bisa menemui nya?"


Dokter mengijinkan nya.


"Permisi..." Vincent mengetuk pintu ruangan Sarah.


Sarah yang sedang duduk di kasur melihat ke arah pintu.


"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Vincent. Sarah terlihat sangat takut dia menekan bel untuk memanggil perawat namun satu pun tidak ada yang datang.


"Jangan takut, aku tidak bermaksud apa-apa, aku ke sini mau melihat keadaan kamu."


"Pergi! Pergi penjahat, aku tidak ingin melihat mu."


"Sarah, ini aku Vincent."


"Enggak! Aku gak mau.."

__ADS_1


Vincent menenangkan Sarah yang histeris.


"Tenang Sarah, tenang... ini aku.."


"Lepaskan..."


Sarah menangis. Namun Vincent memeluk nya cukup erat sehingga Sarah tenang.


"Kamu ingat aku kan? aku Vincent kekasih kamu."


Sarah menatap wajah Vincent. "Kamu pacar aku? Bukan kah kamu penjahat yang sudah membuat aku seperti ini?" tanya Sarah.


Vincent terdiam sejenak. "Vincent..." tiba-tiba Sarah memeluk Vincent sangat erat.


Fadil kebetulan datang dia melihat Sarah memeluk Vincent.


"Aku sangat merindukan kamu, aku sangat merindukan kamu ," ucap Sarah.


"Aku juga sangat merindukan kamu, aku minta maaf baru bisa datang."


"Tidak apa-apa. Aku mau bilang sama kamu kalau kita sudah memiliki anak, aku melahirkan anak kamu," ucap Sarah.


Vincent tertegun kenapa Sarah bisa mengingat tentang itu sementara sebelum nya enggak.


Dokter datang memeriksa nya. Tidak beberapa lama selesai di periksa dokter menjelaskan kesehatan Sarah kepada Vincent dan juga Fadil.


"Ingatan Sarah sebelumnya sudah kembali. Sekarang dia sudah melupakan yang terjadi satu tahun lalu."


"Bagaimana bisa Dok?" tanya Fadil kaget.


"Mungkin ini adalah keajaiban dari tuhan, sekarang keadaan nya sangat membaik dari sebelumnya."


"Namun yang harus di jaga adalah jangan membuat Sarah mengalami depresi sehingga dia kembali ke masa ini lagi."


Fadil terlihat sangat kaget, sementara Vincent sangat senang Sarah membaik tanpa memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Dia masuk bersama Fadil melihat Sarah.


"Sayang... Aku sangat merindukan rumah kita, aku mau pulang, aku sangat bosan di sini."


"Kamu belum bisa pulang, kamu harus sembuh total dulu," ucap Fadil.


"Aku tetap mau pulang, aku tidak mau di sini."


"Aku juga mau bertemu sama anak kita."


"Sayang... Kamu harus dengar kata-kata dari dokter yah, kamu belum bisa pulang."


"Tapi aku mau pulang.."


Vincent menenangkan Sarah dan ternyata sekarang Sarah hanya mendengar kata-kata Vincent bukan Fadil lagi.


Vincent ada urusan keluar, Fadil menemani Sarah dan menyuapi nya makan.


"Fadil, apa sekarang kamu tau di mana anak ku?" tanya Sarah.


"Aku tidak tau," jawab Fadil.


"Kenapa? Apa kamu tidak mau menjaga anak ku saat aku sedang sakit?" tanya Sarah.

__ADS_1


__ADS_2