
Kania menghela nafas. "Sebaik nya aku jangan ganggu dia deh, kalau dia terbangun aku tidak akan tenang."
Kania mematikan lampu dan tidur di samping Vincent.
Dia membuat pembatas namun Vincent menyadari nya dan membuang bantal dan memeluk Kania dengan sangat erat.
"Kamu sangat wangi sekali, seperti wangi bayi.." ucap Vincent tepat di telinga Kania membuat Kania merinding.
Kania menoleh ke arah Vincent yang ternyata bangun, Vincent mendekati bibir Kania, baru saja mau bersentuhan namun Vincent malah lanjut tidur.
Kania menghela nafas panjang. "Huff Kania sabar, kenapa kamu jadi seperti ini? Apapun itu kamu harus sabar walaupun ujian nya seperti ini."
Kania memilih tidur membelakangi Vincent.
Keesokan paginya Kania bangun karena Handphone nya berdering. Dia menjawab nya ternyata telpon dari Bu Mona.
Kania sangat kaget karena panggilan video sementara dia masih di tempat tidur.
"Iyah, halo Bu."
"Kamu baru bangun?"
"Enggak Bu, aku hanya rebahan sebentar."
"Oohh, ibu dengar kamu nyusul Vincent."
"Siapa sih yang ngadu sama Bu Mona?" batin Kania.
"Iyah Bu, kebetulan di kantor jadwal kosong."
"Baiklah, ibu tidak mempermasalahkan itu," Kania tersenyum canggung.
"Oh iya walaupun kamu di sana, jangan sampai pekerjaan Vincent terganggu yah," ucap bu Mona, walaupun lembut cara penyampaiannya namun tetap saja Kania sedikit tersinggung.
"Baik Bu." Setelah banyak basa-basi panggilan pun mati.
Kania menghela nafas panjang. "Apa aku sangat terkenal dengan pengganggu Paman Vincent?" batin Kania.
Dia melihat Vincent sudah tidak ada di kamar, dia membuka pesan dari Vincent.
"Maaf yah, saya pergi tidak Ijin terlebih dahulu, kamu terlihat sangat nyenyak."
Kania membalas dengan emoticon tersenyum. Dia melihat lagi beberapa panggilan dari Tomi.
"Halo Tomi, ada apa kamu menelpon ku?" tanya Kania.
"Huff kamu dari mana saja? Kenapa baru menelpon ku sekarang?" tanya Tomi.
"Kamu bukan pacar ku, jadi kamu bukan prioritas ku. Kalau seperti ini terus, orang lain akan salah paham sama kedekatan kita."
"Kok kamu jadi marah sih? aku bertanya dengan baik."
"Maaf-maaf, aku hanya kesal saja karena bu Mona baru saja nelpon aku."
"Maaf yah Kania, pasti bu Mona marah yah karena kamu menyusul pak Vincent. Aku bingung harus menjawab apa."
"Jadi kamu biang kerok nya? Dasar yah!"
__ADS_1
"Aku minta maaf, lagian kamu sendiri sih, aku lagi butuh teman curhat kamu malah Sibuk dengan pak Vincent."
"Ada apa?" tanya Kania.
Tomi menceritakan tentang Fani kemarin. Kania tidak bisa membantu Tomi untuk memutuskan apa yang dia mau, tapi dia hanya membantu dengan saran saja.
Setelah selesai berbicara dengan Tomi Kania merasa perutnya sangat lapar, dia keluar dari kamar karena sudah jam sepuluh pagi.
Di meja makan ternyata sudah ada makanan untuk nya. Setelah selesai sarapan dia melakukan tugas nya membersihkan rumah sebelum jam kelas nya di mulai.
Butuh waktu lama karena harus membersihkan semua nya dengan benar.
Sementara Vincent di kantor benar-benar fokus dengan pekerjaan nya.
Di tempat lain Minghui sedang membaca-baca majalah tentang kesuksesan Vincent dan juga Kania sekarang.
"Sayang apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Jeki kepada nya.
Minghui langsung menutup majalah itu dan meletakkan di atas meja.
"Tidak ada, hanya membaca-baca buku saja, kenapa kamu sangat cepat pulang?" tanya Minghui.
"Sudah tidak ada pekerjaan lagi."
"Bagus deh kalau begitu," ucap Minhui.
"Kamu mau kemana sudah rapi seperti ini?" tanya Jeki karena dia sudah satu rumah dengan Minghui.
"Orang tua ku meminta aku untuk kembali ke rumah beberapa hari."
"Kenapa kamu tidak bilang dulu sama ku?"
Jeki menghela nafas panjang.
"Tidak bisa! Kamu tidak boleh pergi."
"Tapi orang tua ku sudah menunggu."
"Aku sudah bilang tidak bisa! Kamu sudah menjadi milik ku jadi kamu tidak bisa pergi kemana pun."
"Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapian! kamu harus mengikuti perintah ku kalau kamu tidak ingin aku bersikap kasar kepada mu!"
Jeki langsung masuk ke kamar nya meninggal kan Minghui.
Minghui terdiam. Semenjak kekalahan Jeki Minhui menjadi pelampiasan Jeki, dia bahkan tidak membiarkan Minghui keluar dari rumah nya.
Jeki selalu menindas Minhui kalau tidak mengikuti apa kemauan Jeki.
Minhui tidak bisa berbuat apa-apa, karena dia juga sudah menghabiskan uang Jeki cukup banyak, jadi dia harus membayar itu semua.
Akhirnya dia membuat alasan kepada orang tua nya kalau dia sedang sibuk, dia memiliki pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan.
Di dalam hati nya dia sangat menyesal memilih Jeki dari pada Vincent, dia ingin kembali kepada Vincent namun setiap kali Jeki mendengar nama Vincent dia akan marah besar.
"Minhui!!!" panggil Jeki dari dalam kamar.
__ADS_1
Minghui berlari ke kamar dia melihat Jeki berbaring di kasur tidak menggunakan baju.
"Ada apa?" tanya Minhui.
"Kemari lah," ucap Jeki menepuk tempat tidur di samping nya.
Minhui menggeleng kan kepala nya. "Aku sedang tidak mood, ini juga masih siang."
"Kamu berani menolak ku?" tanya Jeki.
Minhui mau pergi namun Jeki langsung menarik dan mendorong nya ke kasur.
"Kamu adalah wanita murahan! Sekarang buka baju mu!"
Jeki memaksa Minhui untuk melakukan itu.
Minhui tidak bisa melawan karena Jeki cukup ganas.
Jeki memiliki nafsu yang cukup besar sehingga setiap hari Minghui kesakitan oleh nya.
Di malam hari nya Kania menunggu Vincent pulang di meja makan.
"Huff ini sudah jam sembilan malam, kenapa Paman Vincent belum juga pulang yah?" ucap Kania.
Mendengar suara pintu terbuka dia langsung tersenyum. Vincent melihat Kania tersenyum menunggu di meja makan.
"Wangi sekali, apa yang kamu masak?" tanya Vincent.
Kania menunjuk cumi tumis dan banyak yang lain nya.
Vincent tersenyum dia mendekati Kania.
"Apa?" tanya Kania karena Vincent berdiri di samping nya sambil menatap nya.
"Saya sangat lelah, berikan saya pelukan agar saya kembali bersemangat."
Kania tersenyum dia berdiri mencium bibir Vincent dan memeluk nya.
"Aarrhh!! Rasanya seperti mengembalikan energi yang sudah hilang."
Kania tersenyum.
"Kenapa Paman pulang terlalu larut?"
"Di kantor cukup banyak pekerjaan, maafin saya sudah membuat kamu bosan sendirian di rumah."
Kania menggeleng kan kepala nya. "Enggak kok."
"Ya sudah kalau begitu saya akan makan dulu sebelum mandi."
Kania mengangguk karena dia juga sudah sangat lapar menunggu Vincent.
"Oh iya tadi Ibu nelpon aku."
"Terus? apa yang dia katakan kepada kamu?"
"Ibu tau kalau aku datang ke sini," ucap Kania sambil terus lanjut makan.
__ADS_1
"Dia juga bilang kalau aku jangan mengganggu Paman bekerja, apa aku terlalu buruk sehingga Ibu mengatakan hal seperti itu?" tanya Kania walaupun sangat sedih dia berusaha untuk tetap memasang wajah santai.