
"Kalau membahas masa depan, berapa kamu ingin memiliki anak?" tanya Vincent.
"Dua saja sudah cukup," ucap Kania. Vincent menggeleng kan kepala nya.
"Tidak mungkin hanya dua saja, harus ada empat atau Lima," ucap Vincent.
"Itu kebanyakan, memiliki anak banyak butuh modal yang sangat besar dan juga melahirkan dan mengandung tidak lah mudah."
"Pokoknya saya ingin memiliki anak lima agar suatu saat nanti rumah kita sangat ramai."
Kania menggeleng kan kepala nya. "Aku tak mau, aku memilih dua saja."
"Saya akan memaksa kamu, tidak baik juga untuk menolak permintaan suami."
"Baiklah terserah paman saja," ucap Kania karena masih sangat lama untuk memiliki anak.
Setelah beberapa lama akhirnya Kania pamit kembali, dia harus segera pulang karena Bu Mona dan omah, Opah nya menunggu nya karena sudah janji mau makan siang bersama.
Tidak terasa dua hari lagi adalah hari H pernikahan mereka.
Perasaan deg-degan sudah di rasakan oleh kedua nya.
"Huff sebentar lagi aku sudah menjadi seorang suami Mih," ucap Vincent kepada Bu Mona yang duduk di samping nya.
Bu Mona tersenyum. "Pokoknya mamah ingin kamu menjadi suami yang baik, selalu menjaga istri mu dengan baik."
Vincent mengangguk.
Keesokan harinya...
Tidak sengaja Vincent melihat Kania setelah beberapa hari jarang berinteraksi.
"Wanita itu besok sudah resmi menjadi istri ku," ucap Vincent dalam hati.
Kayla melihat Vincent. "Huff kenapa sih harus malu seperti ini? Seharusnya aku tidak perlu malu seperti ini untuk berbicara," batin Kania.
Di malam hari nya Vincent sedang kumpul bersama teman-teman nya, mereka tidak berhenti membicarakan tentang pernikahan Vincent besok.
Mereka juga tidak berhenti menggoda Vincent, begitu juga dengan Kania sedang sibuk di grup nya bersama teman-teman nya.
Mereka semua juga tidak berhenti menggoda Kania yang sudah tersipu malu.
"Kania..." panggil Ulfa yang baru saja datang.
"Kenapa kamu baru datang sih? Aku sudah menunggu kamu dari tadi," ucap Kania.
"Maaf-maaf, ku baru saja selesai mengerjakan tugas bersama teman-teman."
__ADS_1
"Oohhhh begitu, pokoknya malam ini sampai besok kamu tidur di sini bersama aku," ucap Kania.
"Iyah aku usahakan deh, tapi setelah kamu menikah aku tidak bisa di sini karena takut mengganggu kenyamanan kamu dengan Paman Vincent."
"Ulfa... Kamu selalu saja membahas hal seperti ini!" ucap Kania. Ulfa tertawa.
Mereka masuk ke dalam kamar. Baru saja mau tidur tapi Kania mendengar suara Vincent memanggil nya dari luar.
"Kania... Kania..." panggil Vincent dari luar.
Vincent memanggil Kania pelan agar tidak menggangu yang lain.
Kania membuka pintu dia melihat Vincent.
"Ada apa Paman? Kenapa baru pulang jam segini?" tanya Kania.
Vincent menarik Kania lebih jauh dari sana. "Ada apa Paman?" tanya Kania.
Vincent menggeleng kan kepala nya dia langsung memeluk Kania membuat Kania kaget dan heran.
"Ada apa Paman?" tanya Kania.
"Saya sangat merindukan kamu," ucap Vincent.
Kania tersenyum, ternyata bukan hanya dia yang merindukan Vincent. Walaupun satu rumah mereka saling malu sehingga tidak berani untuk berkomunikasi.
Kania menggeleng kan kepala nya. Vincent tersenyum dia semakin tersipu malu.
"Baiklah kalau begitu, kamu istirahat sana, saya juga mau istirahat."
"Apa besok mau bekerja?* tanya Kania, namun Vincent menggeleng kan kepala nya.
"Saya sudah tidak bekerja selama dua hari ini, pekerjaan di pegang oleh Tomi," ucap Vincent.
"Oohhhh," ucap Kania.
"Kenapa?" tanya Vincent karena wajah Kania tampak khawatir sekali.
"Ada apa?" tanya Vincent lagi karena Kania enggan untuk jujur.
"Aku sangat gugup sekali paman," ucap Kania. Vincent tersenyum, dia berfikir ada masalah lain.
"Bukan hanya kamu saja yang gugup saya, jauh lebih gugup sekarang," ucap Vincent.
Kania memegang tangan Vincent. "Aku selalu berharap dan berdoa semoga sampai hari H tidak ada cobaan ," ucap Kania.
Vincent terdiam sejenak dia mengingat kalau sampai foto yang di kirim direktur Jeki dia lihat mungkin mereka akan memiliki masalah yang sangat besar sekali.
__ADS_1
"Karena kebanyakan ujian sebelum pernikahan itu sangat banyak sekali," ucap Kania.
Vincent menggeleng kan kepala nya. "Kita harus fokus pada hubungan kita, tidak perlu memikirkan banyak hal lain," ucap Vincent.
Tidak beberapa lama akhirnya mereka berdua pergi istirahat ke kamar masing-masing.
Keesokan harinya Kania sudah mulai memasang hena di tangan nya.
"Kami yang menikah kenapa aku yang gugup sih?' ucap Ulfa. Kania tersenyum.
Keesokan harinya di Hari H.
Pengucapan ijab qobul sangat mudah bagi Vincent Karena sudah beberapa kali belajar, dia juga tidak ingin mempermalukan keluarga selain itu dia sangat bersemangat sekali menikah dengan Kania.
Semua para saksi mengucapkan sah, Vincent menyalim tangan istrinya tidak lupa mencium kening istrinya.
Ada rasa bahagia dan juga haru. Semua orang sudah sangat heboh melihat pernikahan itu, ada yang berkomentar positif dan ada juga yang berkomentar jahat.
Saat sedang asyik menerima tamu, Vincent lagi-lagi melihat Jeki yang datang tanpa diundang. Vincent tidak ingin hari pernikahan nya hancur karena Jeki, akhirnya dia meminta pengawal nya mengurus Jeki.
"Sebentar pak, apa bapak memiliki kartu undangan?" tanya pengawal menahan Jeki.
"Saya tidak membawa nya, yang lain juga tidak membawa mereka tidak di tanya," ucap Jeki mau langsung masuk namun langsung di tahan oleh pengawal lagi.
"Anda tidak bisa masuk karena tidak ada kartu undangan, sebaik nya ada pergi."
"Kenapa kalian melarang saya?" tanya Jeki. Mereka membawa paksa Jeki dari sana.
Kado yang tidak sengaja jatuh di ambil oleh Tomi langsung.
Dia membuka nya sendiri dan lagi-lagi foto Vincent bersama adik kandung Jeki.
Sedang di kasur bersama, sedang mabuk dan semua momen ada di sana.
Tomi yang melihat nya saja heran. Kenapa Jeki harus mengirimkan foto ini kepada Vincent, bukan hanya dia mantan Jeki namun kenapa Jeki mengirimkan semua ini seakan-akan kalau pak Vincent memiliki kesalahan," batin Tomi.
"Tomi, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Fani. Tomi kaget dia langsung memberikan semua foto itu kepada Pengawal untuk di buang.
"Tidak ada, aku datang sendiri?" tanya Tomi.
Fani mengangguk. "Baiklah kalau begitu kamu bisa masuk ke dalam langsung."
"Aku malu tidak memiliki pasangan, apa kamu bisa menemani aku?" tanya Fani. Tomi melihat ke sekitar nya.
"Kamu datang bersama teman-teman laki-laki kamu, kenapa berpisah dari mereka?" tanya Tomi.
Fani menatap Tomi. "Mau yah nemenin aku sebentar ke dalam, setelah itu kamu bisa lanjut bekerja," ucap Fani karena dia tau kalau Tomi menjaga di depan.
__ADS_1