Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 27


__ADS_3

"Tomi, kamu di panggil oleh pak Vincent," ucap Staf.


Tomi dengan sigap langsung masuk ke ruangan Vincent.


"Selamat pagi pak Vincent, ada yang bisa say bantu?" tanya Tomi.


"Duduk dan jelas kan apa alasan kamu memberi tau kepada Kania tentang saya dengan Minhui."


Tomi duduk memasang wajah kebingungan campur aduk dengan ketakutan.


"Aduh apa yang harus aku jawab?"


Dia menatap wajah Vincent.


"Humm..."


"Jawab!" bentak Vincent membuat Tomi kaget.


"Selama ini saya membiarkan kamu memberi tau semua nya tentang saya kepada Kania, namun sekarang saya tidak akan membiarkan nya. Kalau sampai saya tau kamu mengadu lagi kepada Kania kamu siap menerima hukuman dari saya," ancam Vincent.


"Maaf Pak, saya tidak akan mengulangi nya lagi."


"Ya sudah kalau begitu keluar lah!"


Tomi dengan cepat-cepat Langsung keluar dari ruangan Vincent


Vincent membuka laptop nya dia melihat berita tentang hubungan Direktur Je dan juga mantan nya Minghui.


Dia muak sampai tidak ingin membuka laptop nya.


Di sore hari nya Vincent sedang bersama rekan-rekan nya minum kopi di sela-sela waktu luang mereka.


Tiba-tiba pesan masuk ke ponsel nya.


Pesan masuk dari Kania.


"Paman seperti nya aku akan pulang lebih lambat hari ini karena ada acara dengan teman-teman," ijin Kania.


"Tidak bisa! Kamu harus pulang."


Vincent mau mengirim kan balasan itu namun dia ingat lagi kalau dia sudah janji tidak akan banyak melarang Kania.


"Baiklah kamu boleh pergi asalkan jangan terlalu lama." balasan dari Vincent saat membaca nya Kania tersenyum.


"Bagaimana? kamu boleh pergi?" tanya Yuda.


Kania mengangguk.


Vincent baru bisa pulang jam sembilan malam, sampai di rumah dia sudah sangat kelelahan namun di sambut oleh Kania dengan senyuman manis membuat nya bersemangat lagi.


"Kamu belum tidur?" tanya Vincent.


Kania menggeleng kan kepala nya.


"Paman pasti lelah sebaiknya paman mandi dan setelah itu turun ke bawah untuk makan karena aku sudah masak."


"Kebetulan banget paman belum makan."


Vincent segera mandi dan Kania menyiapkan makan malam.


Waktu nya makan mereka berdua duduk di meja makan.


"Tadi Omah sama Opah nelpon."

__ADS_1


"Ngomongin tentang paman lagi?" tanya Vincent, Kania mengangguk.


"Mereka bertanya kapan Paman nikah, sudah waktunya paman nikah karena Omah sama Opah juga sudah tua."


Vincent tersenyum dia mengangguk.


"Secepat mungkin."


mendengar itu Kania terdiam sejenak dan lanjut makan.


"Oh iya besok kamu punya kegiatan di luar selain kuliah gak?" tanya Vincent.


Kania memeriksa jadwal nya.


"Seperti nya tidak ada Paman aku hanya memiliki jadwal satu kelas."


"Bagus deh kalau begitu, paman mau ngajakin kamu ke mall."


"Ngapain Paman?"


"Salah satu teman Paman ada yang menikah tiga hari lagi, paman ingin mencari jas."


"Oohh jas yah? humm aku tau tempat yang bagus dan juga kualitas nya bagus," usul Kania.


"Kamu serius?"


"Iyah, tapi tempat nya lumayan jauh."


"Gak apa-apa, kalau kata kamu sudah bagus pasti Paman suka."


Kania tersenyum.


"Ya udah deh kalau begitu aku istirahat dulu yah Paman," ucap Kania meninggal Vincent setelah selesai makan.


"Tempat nya di mana sih Kania? Kenapa sangat jauh seperti ini, emang nya kamu pernah ke sini?" tanya Vincent heran karena tidak mungkin Kania secepat itu tau tempat penjual jas.


"Paman ikut saja, aku jamin Paman tidak akan nyesel."


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di depan butik yang lumayan besar dan juga terlihat menarik.


"Ayo masuk Paman."


"Selamat Siang," sapa karyawan butik itu.


"Siang juga, saya mau mencari jas yang cocok untuk badan..." Kania menatap mata Paman nya.


Kania selalu di larang oleh Vincent mengakui dia adalah Paman nya di depan umum.


"Untuk kakak nya yah mbak?" tanya karyawan itu.


Vincent langsung mengangguk.


"Kami memiliki banyak pilihan silahkan ikut dengan saya."


"Kania.. tiba-tiba wanita cantik paruh baya datang menghampiri Kania membuat Vincent heran kenapa wanita itu bisa kenal dengan Kania.


"Eh Ibu lagi di sini?" tanya Kania dengan sambil menyalim nya.


"Kamu ke sini sama Yuda?" tanya Ibu nya Yuda.


Vincent langsung tau kalau itu adalah orang tua Yuda.


"Enggak Bu, aku ke sini sama Paman ku," ucap Kania.

__ADS_1


"Pak Vincent, ini seperti mimpi pak Vincent mampir ke sini."


Banyak basa-basi namun wajah Vincent sudah sangat tidak mood sekali.


Kania memilih tiga stelan jas dan membayar nya.


"Paman kenapa sih tiba-tiba jadi diam seperti ini?" tanya Kania setelah sudah sampai di rumah.


"Tidak ada Paman hanya lelah saja."


"Tadi Paman sangat bersemangat, bagaimana bisa Paman sekarang langsung kelelahan."


Vincent menatap Kania.


"Sebaiknya kamu menjaga jarak dari keluarga Yuda, kenapa dengan semudah itu kamu akrab dengan keluarga Yuda."


"Maksud Paman bagaimana? Ibu tadi adalah Dosen ku wajar saja jika aku dekat dan akrab dengan dosen ku."


"Itu alasan kamu saja, dan yang merekomendasikan butik itu adalah Yuda kan, pasti Yuda sudah membawa kamu ke sana Tampa ijin dari Paman," ucap Vincent dengan sangat kesal.


"Tidak Paman, aku sudah lama tau butik itu semenjak Bu Ila menjadi dosen ku, dia sering meminta bantuan kami untuk mempromosikan produk-produk nya."


Seketika Vincent langsung terdiam bingung mau mengatakan apa karena sudah terbakar api cemburu.


"Sudah lah tidak perlu di bahas Paman ada urusan."


Vincent langsung pergi.


Kania menghela nafas panjang.


"Begini nih kalau sudah tua tapi masih jomblo, jadi semua nya serba salah," ucap Kania.


Vincent masuk ke dalam mobil nya dan merutuki diri nya sendiri.


"Lagi-lagi kamu yang membuat masalah Vincent, huff kenapa kamu tidak bisa mengontrol diri jangan membuat Kania tersakiti lagi."


"Percuma saja aku melatih kesabaran ku."


Akhirnya Vincent memutuskan untuk perawatan yang biasanya dia lakukan agar diri nya lebih rileks.


Di rumah Kania seperti biasa mengerjakan tugas-tugas nya namun tiba-tiba saja dia kefikiran kepada kedua orang tua nya.


"Mamah sama Papah kenapa sih tidak mau bertemu dengan ku? Bahkan sangat jarang bisa di hubungi. Aku bisa menghitung berapa kali aku berbicara lewat telpon dengan mereka."


"Apa aku benar-benar anak yang tidak di inginkan oleh mereka," batin Kania.


Kania bersandar dan termenung.


"Kalau pun mereka tidak menginginkan aku namun setidaknya nya mereka menemui ku sekali saja, aku sangat merindukan mereka."


Tiba-tiba ponsel nya berdering dari Yuda.


"Halo, Yuda."


"Halo, Kania."


"Apa kamu sedang sibuk?" tanya Yuda.


"Emang nya kenapa?" tanya Kania balik.


"Aku mau ngajakin kamu makan malam di luar."


"Humm seperti nya gak bisa, Yuda. Paman ku tidak akan mengijinkan nya."

__ADS_1


__ADS_2