
Sarah Menatap bingung. "Aku sudah mengatakan ini sebelumnya kepada kamu, aku sangat mencintai kamu, aku menerima kamu apa adanya."
Fadil langsung mencium bibir Sarah. Awalnya Sarah tidak membalas, namun perlahan dia mulai membalas nya.
Kedua nya larut di ciuman yang cukup panas itu.
Namun Fadil menghentikan nya. Dia menatap wajah Sarah.
"Sudah lebih tenang?" tanya nya. Sarah langsung malu dia menutup wajah nya.
"Tidak perlu malu, apakah kamu sudah tenang?" tanya Fadil.
Sarah mengangguk. Fadil tersenyum.
"Baiklah kalau begitu kita berkemas pindah ke rumah ku," ucap Fadil.
Sarah mengangguk. Kedua nya bersiap-siap pindah.
Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai di rumah Fadil. "Mulai sekarang kamu tidak perlu memikirkan apapun, kamu harus menjaga kesehatan kamu," ucap Fadil.
"Tapi aku jadi merepotkan kamu."
"Ssttt! Jangan pernah berfikir seperti itu," ucap Fadil.
Keesokan harinya...
Kania keluar dari kamar, dia mau mencari sesuatu yang bisa di makan di dapur. Dia melihat buah-buahan sangat lengkap di dapur.
Bahkan buah mangga yang sudah lama dia pengen ada di sana.
"Akhirnya aku bisa makan ini juga," ucap Kania.
Dia melihat rumah sangat sepi seperti biasanya.
Kania lebih nyaman dengan rumah yang tidak berisik, namun dia juga tidak suka melihat rumah terlalu sepi yang ada hanya dia saja.
Dia menelpon Ulfa.
"Halo?" Ulfa mulai menjawab nya.
"Apa yang kamu lakukan? Apakah aku bisa bertemu dengan mu?" tanya Kania.
"Aku lagi di kampus," ucap Ulfa.
"Jam berapa mulai? aku siap-siap ke kampus sekarang."
"Loh, emang nya kamu sudah sehat?" tanya Ulfa.
"Aku selalu sehat," ucap Kania.
"Terserah kamu saja deh, kalau begitu aku tunggu kamu."
Kania segera siap-siap ke kampus, sudah cukup lama dia tidak masuk ke kampus, dia tidak tau apakah nilai nya akan bagus atau tidak.
Hari ini Vincent cukup cepat pulang karena memikirkan istri nya di rumah.
Melihat rumah tertutup dan sangat sepi membuat nya penasaran di mana istri nya.
"Kania... Kamu di mana?" tanya nya.
__ADS_1
Dia menggendong Saska ke lantai atas mencari istri nya.
Namun tidak ada, dia langsung menelpon nomor istri nya.
Telpon nya tidak di jawab dia langsung menelpon Ulfa.
Vincent tau istri nya masuk kuliah hari ini, dia kaget namun dia tidak bisa melakukan apapun.
Dia menunggu istri nya sampai pulang.
"kamu sudah pulang?" ucap Vincent.
"Kenapa kamu memaksa kan diri masuk kuliah, kamu belum sehat."
"Aku sangat bosan di rumah, aku juga sudah lama tidak kuliah."
"Tapi kamu sedang ha-." kata-kata nya langsung di hentikan oleh Kania.
"Jangan banyak berbicara aku mau istirahat," ucap Kania.
Vincent menghela nafas panjang. Dia melihat istrinya pergi ke kamar.
Vincent menghela nafas panjang, dia duduk di samping Saska.
"Papah... Papah...." Saska seperti nya lapar sehingga merengek-rengek kepada Vincent.
Vincent membeli makanan nya terlebih dahulu, Saska tidak sabar dia tidak berhenti menangis.
Kania keluar dari kamar dia menatap ke arah Vincent.
"Aku minta maaf, aku akan membawa nya keluar kalau kamu terganggu dengan suara nya," ucap Vincent.
"Kasian sekali kamu nak, karena papah kamu jadi terlantar seperti ini, kamu di benci banyak orang karena papah."
Di malam hari nya waktu nya tidur. Kania berusaha untuk tidur, namun dia tidak bisa tidur karena mendengar Vincent dan Saska masih berisik di luar.
"Aku mau tidur, apa kamu dan anak kamu itu tidak bisa diam?" tanya Kania.
"Aku minta maaf," ucap Vincent.
Kania menutup pintu cukup kasar.
Vincent mengantarkan Saska tidur di kamar, setelah itu dia pergi melihat istrinya.
Dia masuk ke kamar. "Loh kamu belum tidur? Ini sudah malam," ucap Vincent.
"Apa yang kamu lakukan di sin?" tanya Kania.
"Aku mau melihat kamu," ucap Kania.
"Mau sampai kapan anak itu di sini? Kalau kamu masih ingin aku di sini, sebaiknya anak itu pergi dari sini."
"Dia anak ku, bagaimana bisa aku mengusir nya? di mana dia akan tinggal?"
"Aku tidak perduli, aku tidak ingin melihat nya!"
"Kania... dia tidak salah apa-apa, aku lah yang salah, kamu bisa membenci ku Tapi jangan Saska."
"Kalau kamu tidak ingin aku membenci nya, bawa dia pergi dari sini, kalau tidak aku yang akan pergi."
__ADS_1
"Kenapa kamu jadi seperti ini Kania? Aku adalah suami mu, dan Saska adalah anak ku."
"Baiklah kalau begitu, aku yang akan pergi dari sini."
"Kania, jangan berbicara seperti itu."
"Lalu mau seperti apa?" tanya Kania.
"Aku harus menjadi wanita bodoh seperti selama ini? aku harus menerima anak dari hasil perzinahan suami ku sendiri?"
"Sebaiknya kamu istirahat, kamu pasti sangat lelah." ucap Vincent.
"Jangan mengalihkan pembicaraan! Aku tidak mau melihat anak itu."
"Kamu sedang hamil, tidak baik terlalu sering marah."
Kania menepis tangan Vincent dari nya.
"Tidak perlu perhatian kepada ku," ucap Kania.
"Keluar dari sini sekarang, aku mau tidur!"
Vincent mengangguk, dia keluar tampa pikir panjang.
Marah? yah Vincent marah mengenai sifat istri nya karena tidak menerima anak nya, tapi mau bagaimana pun semua akar permasalahan dari nya.
Namun tiba-tiba terdengar suara Saska menangis. Vincent langsung memeriksa nya.
Betapa kagetnya dia merasakan badan Saska yang sangat panas dan Saska sangat rewel dan tidak bisa tidur.
Vincent yang tidak memiliki pengalaman apapun kebingungan.
Dia menelpon dokter, namun ternyata dokter tidak bisa datang ke rumah nya.
Walaupun sudah malam hari, dia tetap membawa Saska yang sudah lemas karena panas ke Rumah sakit.
Setelah di periksa ternyata Saska kecapean. Vincent merasa bersalah karena membawa nya ikut bekerja.
Setelah selesai di periksa dia membawa nya pulang ke rumah.
Kania menyadari ada mobil masuk. "Dari mana dia malam-malam seperti ini?" tanya Kania mengintip dari jendela.
Dia melihat keluar memastikan dari mana Vincent, namun saat dia keluar dia melihat Vincent menggendong Saska.
"Kenapa kamu belum tidur? Aku baru saja pulang membawa Saska dari rumah sakit, badan nya mendadak sakit," ucap Vincent.
Melihat wajah Vincent sangat khawatir dia tidak mengatakan apapun, Saska di bawa masuk ke kamar.
Sepanjang malam Vincent Sam sekali tidak bisa tidur karena menemani Saska.
Keesokan paginya...
Vincent merasa mata nya baru saja tertutup namun handphone nya sudah berdering.
"Arrghh!!! aku baru saja tidur namun sudah ada yang ganggu," ucap Vincent.
Dia mengabaikan panggilan dari Tomi dan lanjut tidur. Sebelum tidur dia memeriksa badan anak nya terlebih dahulu.
"Kenapa masih panas?"batin Vincent.
__ADS_1
"Tapi ini sudah lebih baik dari tadi malam, dia juga sudah bisa tidur," batin Vincent.