
Vincent tiba-tiba meletakkan sendok nya dengan kasar.
"Terserah kamu mau bilang apa tentang perasaan kamu sebelum nya seperti apa, namun saya benar-benar mencintai kamu, tidak sebagai keponakan tapi sebagai wanita yang saya suka dan saya ingin menikahi kamu."
Kania terkejut dengan kata-kata Vincent. Setelah selesai berbicara Vincent minum dan langsung pergi.
"Huff mau sampai kapan sih kami selalu ribut seperti ini?" batin Kania.
Keesokan harinya...
Vincent menawarkan diri untuk mengantarkan Kania ke kampus namun Kania tetap menolaknya.
"Aku bisa bawa mobil sendiri Paman, Paman pergi saja."
"Kalau kamu tidak mau saya akan mencium kamu."
"Paman!"
"Kalau begitu masuk ke dalam mobil saya."
Kania menghela nafas panjang. "Huff dari pada aku telat," ucap nya sambil masuk ke dalam mobil.
"Saya bukan supir kamu, duduk di depan!"
"Paman nyebelin banget sih!"
Melihat Kania kesal membuat Vincent sangat gemas.
"Pasang sabuk pengaman kamu, kalau kamu tidak mau saya akan memasang nya."
Kania menghela nafas panjang sambil menatap Vincent, Vincent tersenyum membuat Kania muak dan langsung memasang nya dengan cara kesal.
"Jam berapa kamu pulang?" tanya Vincent.
"Aku tidak tau."
Vincent menghela nafas.
"Kabarin paman kalau kamu sudah pulang, Paman akan menjemput kamu."
"Aku bisa pulang sendiri Paman, paman kerja saja dengan benar. Bukan nya Paman selalu mementingkan pekerjaan Paman?"
Vincent diam. Tidak beberapa lama akhirnya sampai di kampus.
"Tunggu dulu." Vincent menahan tangan Kania yang hendak keluar dari dalam mobil.
"Apa lagi Paman?"
"Ambil lah ini."
"Untuk apa?" tanya Kania karena Vincent memberikan beberapa lembar uang.
"Siapa tau kamu ingin membeli jajan."
Kania mengambil nya dan keluar dari mobil.
Vincent melihat Kania masuk ke dalam tampa menoleh ke arah nya lagi.
Saat mau pulang tidak sengaja dia berpapasan dengan Yuda.
Yuda melewati nya begitu saja.
Kania duduk di kursi nya.
"Ulfa kemana yah?"
__ADS_1
"Kania..." ucap Yuda mendekati Kania.
Kania tersenyum tipis.
"Humm aku mau minta maaf soal kemarin."
"Sudah, lupakan saja."
"Kita masih bisa berteman kan?" tanya Yuda.
"Tentu bisa dong, aku sangat senang berteman dengan kamu."
Yuda tersenyum. "Untuk sekarang aku hanya bisa seperti ini agar aku tidak jauh dari Kania."
"Oh iya Yuda apa kamu melihat Ulfa?"
"biasanya jam segini dia sudah datang, kok dia belum datang yah?"
Dosen baru saja masuk Ulfa juga langsung masuk.
Seperti nya dia sengaja menunggu dosen Dulu baru masuk ke dalam kelas.
Kania menulis surat dan memberikan nya kepada Ulfa.
"Ulfa kamu lagi ada masalah yah? kenapa dengan kamu akhir-akhir ini?" isi surat dari Kania.
Ulfa tidak membalas nya.
Karena hari ini kelas tidak lama Ulfa langsung pulang. Dia membatalkan janji dengan anak-anak komunitas teman nya biasa nongkrong.
"Ulfa..." panggil Ibu nya dari luar.
"Iyah Ibu."
"Sudah di batalkan Bu, aku mau menemani ibu saja."
"Sudah tiga hari ini ibu memerhatikan kamu sedikit murung. Ada apa?"
"Bu aku..."
"Masalah Yuda lagi?"
Ulfa mengangguk.
"Yuda menyukai Kania, aku sangat cemburu melihat mereka, aku tidak sengaja melihat mereka berciuman di kampus aku benar-benar patah hati."
"Jadi kamu cemburu karena mereka sudah pacaran?"
Ulfa mengangguk.
"Aku sudah menyukai Yuda dari pertama masuk kuliah, namun Kenapa dia harus menyukai Kania sahabat ku sendiri dan juga aku kesal karena aku tidak bisa marah kepada Kania, dia dan Paman nya lah yang membantu kita Bu."
"Kania tidak ada salah apa-apa, kamu lah yang salah sayang.. Sudah berapa kali ibu bilang sebaik nya Kamu jujur saja dengan perasaan kamu sendiri. Tidak ada salah nya perempuan mengakui pertama."
Ulfa menggeleng kan kepala nya.
"Aku tidak bisa mah, seperti nya Kania juga menyukai Yuda."
"Jangan sampai hanya karena pria hubungan kamu dengan Kania tidak baik."
Ulfa menghela nafas panjang.
"Aku marah ke diri aku sendiri Bu, aku sangat bodoh, seharusnya aku tidak mencintai Yuda yang sama sekali tidak melirik aku."
"Sudah-sudah jangan sedih lagi, mau bagaimana pun kita harus sadar diri nak, ibu tidak mau kamu terluka seperti ini lagi."
__ADS_1
"Aarrrgghh!!!!!"
"Sebel! Sebel!" Kania memukul-mukul bantal nya.
"Aku sangat benci kehidupan ku yang sekarang." ucap Kania.
"Hubungan ku dengan Kania sekarang tidak baik, aku tidak tau apa penyebab nya, dengan Yuda aku jadi canggung karena dia menyukai ku, dan sekarang Paman ku membuat aku tidak nyaman."
Kania duduk di depan meja nya.
"Aku harus apa sekarang?"
Tiba-tiba dia teringat besok adalah hari ulang tahun nya.
"Biasanya malam ini Ulfa sudah di sini menemani aku sepanjang malam dan merayakan ulang tahun bersama ku."
Notifikasi masuk ke handphone nya.
"Kania seperti nya Paman akan telat pulang nya karena pekerjaan di kantor sangat banyak."
"Kalau seperti ini Paman pasti menginap di kantor."
"Paman pasti melupakan hari ulang tahun aku lagi, setiap tahun nya aku harus mengingat nya aku sangat lelah."
Kania tidak bersemangat dia berbaring di tempat tidur nya berharap hari ulang tahun nya cepat berlalu.
Dia ketiduran sampai malam agar dia tidak pernah sedih karena tidak ada teman.
Namun tiba-tiba Vincent membangun kan nya.
"Kania... Kania..." Vincent menggoyahkan bahu Kania membangun kan nya.
Kania tidak mau bangun karena berfikir itu adalah mimpi.
"Selamat ulang tahun... Selamat ulang tahun..." Vincent bernyanyi di telinga Kania membuat Kania bangun dan ternyata Vincent sudah memegang kue yang Lilin nya sudah hidup dan tidak lupa topi britday.
"Paman..." Vincent tersenyum.
"Selamat ulang tahun Kania, maaf yah paman berbohong kalau paman lembur hari ini."
"Paman jahat." ucap Kania.
"Sebelum tiup lilin kamu berdoa dulu."
Kania berdoa dia menatap wajah Vincent tidak beberapa lama dia meniup lilin membuat perasaan nya lega.
Vincent memasang kan topi ke Kania dan menyuapi nya kue.
"Paman tidak lupa hari ulang tahun ku?"
"Tidak mungkin Paman melupakan nya, sebelum nya paman minta maaf karena tidak sempat merayakan nya seperti ini."
"Aku berfikir Paman tidak akan mengingat nya, tidak ada satu orang pun yang perduli kepada ku termasuk kedua orang tua ku."
"Ssttt Jangan berbicara seperti itu."
Kania menangis dia langsung memeluk Vincent.
"kamu sudah besar namun sangat cengeng sekali."
"Humm Omah sama Opah juga mau ngomong sama kamu."
Vincent menelpon kedua orang tua nya dan mengucapkan selamat ulang tahun kepada Kania.
Kania sangat senang sekali walaupun di rayakan kecil-kecilan.
__ADS_1