
"Apa aku sangat tidak sempurna? apa aku harus benar-benar menjadi pak Vincent agar bisa mendapatkan hati Fani?"
Di kampus Kania duduk sendirian di kelas.
"Kania kenapa kamu di sini sendirian? Ulfa dan Yuda mana?" tanya dosen mereka alias ibu nya Yuda.
"Eh ibu, mereka tadi keluar beli makanan."
"Kok kamu gak keluar? lagi gak enak badan kah?" tanya Bu dosen.
"Enggak kok, aku hanya ingin belajar di sini."
"Ya ampun rajin banget kamu,"
"Oh iya ibu mau nanya bagaimana hubungan kamu dengan Yuda?" tanya Bu dosen.
Kania menatap bingung.
"Maksud nya Bu?" tanya Kania.
"Sebaiknya hubungan kamu dengan Yuda semakin di perjelas agar tidak banyak orang yang mencoba mendekati Kalian dan membuat hubungan kalian rusak."
Kania bingung harus jawab apa.
"Ya sudah kalau begitu ibu keluar dulu yah?"
Setelah Bu Dosen itu keluar Yuda masuk.
"Kania apa yang di katakan ibu ku sama kamu? jangan terlalu di pikirkan apa yang di katakan ibu ku."
"Enggak, gak ada kok."
"Ibu ku berfikir kalau kita sekarang pacaran, namun setelah aku bilang kalau kita tidak bisa pacaran ibu ku mendiamkan aku dan seperti nya marah."
"Loh kok gitu sih? dari awal kan kita tidak pacaran," ucap Kania.
"Aku sering curhat sama ibu kalau aku suka sama kamu, jadi dia berharap kalau kita bisa pacaran."
"Jadi ibu kamu salah paham?"
Yuda mengangguk.
"Ya sudah deh mau gimana lagi, sebaiknya kamu bicara baik-baik saja."
Yuda mengangguk.
Waktu nya pulang dari kampus dan pergi ke kantor.
"Loh kenapa kamu di sini?" tanya Bela kepada Tomi yang sudah menunggu nya di depan kampus.
Tomi tersenyum tipis sambil menunjuk ke arah mobil nya.
"Aku menjemput kamu untuk makan siang sama-sama."
"Tapi aku sudah janji kepada paman untuk makan siang bersama hari ini."
__ADS_1
"Pak Vincent makan siang bersama Heni dan juga Bu Mona."
"Kamu pasti bohong."
Tomi menunjuk kan isi chat nya, kalau Vincent meminta Tomi menjemput Kania.
Kania menghela nafas panjang. "Sudah tidak perlu murung seperti itu, ayo kita cari makan siang." Tomi membuka pintu mobil untuk Kania.
Namun sampai di restoran tidak sengaja Kania dan Tomi melihat Minhui sedang duduk sendiri.
"Kania kamu mau kemana?" Tomi menahan Kania yang mau menyusul Minhui.
"Sudah biarkan saja."
Mereka makan siang sambil memerhatikan Minhui yang duduk sendirian.
"Ada apa yah dengan dia? kenapa tiba-tiba wajah Sombong dan licik nya itu tiba-tiba menjadi sangat murung?" tanya Kania.
"Aku tidak tau," ucap Tomi.
Kania menghela nafas panjang melihat wajah Tomi yang murung juga.
"Seumur-umur kita berteman aku baru melihat wajah kamu murung sekali hari ini, ada apa sih?" tanya Kania.
"Aku dengan Fani sudah putus.'"
"Loh kenapa? Bukan nya tadi malam kalian baru makan malam bersama?" tanya Kania.
"Fani tetap tidak bisa melupakan pak Vincent, dia sangat mencintai pak Vincent, aku tidak bisa lebih lama menahan rasa cemburu seperti ini."
Kania menghela nafas panjang, dia mengelus tangan Tomi.
Tomi mengangguk.
"Mungkin dia bukan jodohku, aku sudah ikhlas."
"Ekspresi seperti ini bukan lah ikhlas, kamu selalu bilang agar aku semangat tidak boleh menyerah, namun sekarang kamu sendiri yang seperti manusia tidak memiliki tujuan."
Tomi menggeleng kan kepala nya.
"Aku sakit hati Kania, kenapa harus bos ku sendiri, kenapa dari awal dia tidak bilang kalau dia tidak mencintai ku," ucap Tomi.
Kania tidak tau harus mengatakan apapun, melihat wajah Tomi yang sangat Sedih membuat nya iba dan memeluk nya.
Minghui menyadari mereka di sana, dan dengan sengaja Minhui mengambil foto mereka dan Minhui mengirim nya ke Vincent.
"Aku pikir wanita yang membuat kamu meninggal kan aku sedang bermain belakang dengan sekretaris kamu sendiri."
Vincent sedang makan dalam keadaan sunyi namun karena Handphone nya berdering semua mata menoleh ke arah nya.
Mami nya menatap Vincent, Vincent mengurung kan niat untuk membuka handphone nya.
Setelah selesai makan Vincent langsung pergi meninggalkan mereka.
"Ada apa dengan Vincent Tante? Kenapa dia terlihat sangat dingin sekali?" tanya Heni.
__ADS_1
"Karena banyak pekerjaan, kamu tidak perlu khawatir."
Heni tersenyum.
"Pokoknya kamu dengan Vincent harus benar-benar menikah nak, Tante sangat ingin Kalian menikah, bagaimana kalau kita langsung membahas pertunangan saja?" tanya Bu Mona.
"Hah? Secepat itu Tante, kemarin Vincent bilang kalau dia belum ingin terikat dengan hubungan apapun itu."
"Tapi usia kalian itu sudah cukup untuk menikah, sebaiknya di percepat saja karena kalian juga terlihat sangat cocok."
Heni tersenyum dia seperti keberatan juga dengan keputusan Bu Mona.
kalau bukan karena orang tua Heni mungkin dia juga tidak ingin seperti ini.
Vincent di dalam mobil melihat Kania memeluk Tomi.
"Sial! Bisa-bisa nya Tomi seperti ini di belakang ku."
Sampai di kantor Vincent masuk ke ruangan Tomi dan kebetulan mereka sudah di sana.
"Selamat siang pak vincet, ada yang bisa saya bantu?" tanya Tomi.
"Jelaskan ini?"
Vincent menunjukkan foto mereka membuat Kania tercengang, melihat dari sebelah mana foto itu dia sudah tau siapa pelakunya.
"Paman jangan salah paham, aku hanya memberikan Tomi yang sedih karena baru putus dengan Fani."
"Fani?' tanya Vincent.
Tiba-tiba saja Vincent mengingat beberapa hari lalu Fani memberikan makanan namun ada tulisan romantis dan keesokan harinya Fani membeli bunga dan mengatakan dia menyukai Vincent.
"Fani departemen 3?" tanya Vincent lagi.
Kania mengangguk.
"Kamu pacaran dengan wanita seperti dia? Sejak kapan?" tanya Vincent.
"Sudah lah pak tidak perlu di bahas lagi. Saya juga sudah putus dengan dia karena dia mencintai laki-laki lain."
Vincent Sadar kalau pria itu adalah diri nya, dia jadi sedikit tidak enak, yang tadi nya mau marah karena cemburu sekarang jadi gak enak hati.
"Kalau begitu kamu lanjut bekerja, saya minta maaf." ucap Vincent.
"Kania bawa jadwal saya Siang ini ke ruangan saya," ucap Vincent.
Kania mengangguk. Kania masuk ke ruangan Vincent.
"Jadwal Bapak hari ini tidak terlalu banyak, Bapak mempunyai waktu untuk memeriksa pekerjaan Tomi." ucap Kania.
Kania menjelaskan namun Vincent hanya fokus kepada wajah Kania.
"Apa Bapak sudah tau jadwal bapak hari ini?" tanya Kania. Vincent tidak menjawab nya.
"Pak! Pak!" Vincent masih fokus dengan wajah Kania.
__ADS_1
"Paman!" kania menepuk lengan Vincent membuat Vincent kaget.
"Iyah! Ada apa? Kenapa kamu memukul saya?" tanya Vincent.