
Minhui panik, dia melihat Jeki sudah lemas dia langsung pingsan.
"Jeki!! Jeki!!!" panggil nya. Dia meminta tolong keluar berharap ada yang menolong nya membawa Jeki ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit Jeki langsung di tangani. Untung nya saja tidak terlalu parah sehingga di jahit saja.
"Minhui, kamu tidak apa-apa kan? apa kamu sakit?" tanya Fikri baru saja datang ke rumah sakit karena syok mendengar Minhui ada di rumah sakit.
"Aku tidak apa-apa, tapi Jeki," ucap Minhui.
Fikri kaget kenapa dia bisa bersama Jeki dan kenapa Jeki ada di rumah sakit.
Setelah di jelaskan oleh Minhui akhirnya dia pun paham, melihat wajah Minhui yang sangat khawatir membuat nya tau kalau sebenarnya Minhui masih mencintai Jeki.
Tidak beberapa lama dokter keluar. "Bagaimana keadaan nya dokter?" tanya Bela.
"Untung saja segera di bawa ke rumah sakit sehingga tidak banyak kehilangan darah."
"Pasien akan di rawat dua hari di sini sampai keadaan nya membaik."
"Terimakasih banyak dokter," ucap Minhui dia langsung masuk bersama Fikri.
"Minhui..." ucap Fikri langsung sadar ketika Minhui masuk ke ruangan.
"Kamu jangan banyak bergerak dulu, tangan mu belum kering," ucap Minhui.
"Aku minta maaf, aku minta maaf," ucap nya sambil memegang tangan Minhui.
"Sekarang kamu harus sembuh dulu," ucap Minhui.
Fikri tidak ada urusan di dalam sana, dia menunggu di luar.
Tidak beberapa lama Minhui keluar dari ruangan itu, dia melihat Fikri.
"Kamu masih di sini? Aku pikir kamu sudah pulang," ucap Minhui.
"Kamu duduk lah, tidak baik terlalu lama berdiri," ucap Fikri.
Dua hari kemudian Fikri keluar dari rumah sakit.
"Aku akan pulang ketika aku mau," ucap Minhui kepada Fikri.
"Kapan kamu akan pulang? kandungan kamu sudah tua," ucap Jeki.
Minhui melepaskan tangan Jeki. "Sebaik nya kamu pulang saja, kasian Saska sendirian," ucap Minhui.
"Apa kamu akan pulang?" tanya Jeki. "Aku akan pulang nanti."
"Aku akan pulang dan menunggu kamu di rumah, kalau kamu tidak menepati janji mu aku akan melakukan hal yang lebih dari ini," ucap Jeki.
"Aku akan pulang nanti," ucap Minhui.
"Baiklah kalau begitu, aku akan pulang," ucap Jeki.
__ADS_1
Jeki setelah keluar dari rumah sakit dia langsung memesan tiket pesawat kembali ke Jakarta.
Di malam hari nya dia di jemput oleh Vincent. "Kau sungguh bodoh, bagaimana kalau kau mati hanya karena melakukan hal konyol seperti ini?" tanya Vincent.
"Kau pasti tau apa yang aku rasakan, kau juga pasti akan melakukan hal yang sama demi mendapatkan maaf," ucap Jeki.
"Kamu benar sih, aku pasti melakukan hal itu," ucap Vincent.
"Jadi bagaimana? apa kamu baikan dengan Minhui?"
Jeki menggeleng kan kepala nya. "Tapi aku meminta nya untuk pulang sebelum lahiran," ucap Jeki.
"Kalau dia pulang syukur, kalau tidak itu artinya dia tidak ingin kembali kepada mu."
"Dimana Saska?" tanya Jeki.
"Dia bersama Kania di rumah."
"Kenapa kamu meninggal kan nya dengan Kania? Bagaimana kalau kania tidak perduli?"
"Kania memang masih marah kepada ku, tapi dia sudah mulai mau mengurus Saska karena Saska mau nya kepada Kania."
"Saska juga kalau sama ku mau nya sama Minhui saja, aku tidak tau apa yang salah dengan ku."
Jeki dan Vincent sampai di rumah.
Saska melihat Jeki dia sangat senang sekali, dia langsung berlari ke pelukan Jeki.
Kania melihat Vincent dan Jeki. "Kenapa kamu tidak bilang kalau pergi menjemput kak Jeki?" tanya Kania kepada Vincent.
Kania bersama Saska sehingga dia tidak perlu ijin lagi kepada istri nya.
Malam ini Jeki menginap di rumah Vincent. Jeki tidur bersama Saska di kamar tamu.
Jeki tidak bisa tidur karena memikirkan Minhui, dia sangat takut kalau Minhui tidak mau pulang.
Keesokan paginya...
Kania bangun dia melihat Jeki dan juga Saska sudah bermain di ruang tamu, sementara Vincent sudah berangkat bekerja.
"Mamah... mamah..." Saska lapar itu sebab nya dia mengejar Kania.
"Apa kamu kurang enak badan?" tanya Jeki.
Kania mengangguk.
"Itu adalah bawaan bayi nya, kamu harus lebih banyak istirahat karena dulu Minhui seperti itu."
"Sayang nya dulu aku tidak perduli kepada nya, aku selalu melakukan hal yang tidak baik kepada nya," ucap Jeki.
Kania tidak menjawab, karena Jeki dengan suami nya sama saja.
Dia langsung ke dapur membuat makanan untuk nya dan juga Saska.
__ADS_1
"Kania, apa saya boleh minta tolong kepada kamu?" tanya Jeki.
"Apa kak?" tanya Kania.
"Hum, aku ingin kamu membujuk Minhui kembali, aku berjanji Setelah dia pulang aku akan membayar semua kesalahanku kepada nya."
"Aku juga akan membuktikan kalau aku bisa berubah dan menjadi laki-laki yang bisa di andalkan untuk menjadi seorang suami dan ayah."
"Aku tidak bisa," ucap Kania.
"Kania.. Saya mohon."
Jeki memohon kepada Kania. Melihat wajah Jeki Kania merasa iba.
"Aku tidak ingin terlibat kak, kalau mbak Minhui mau pulang dia pasti akan pulang sendiri," ucap Kania.
"Ini semua adalah kesalahan kalian, kalian selalu menganggap kami perempuan sepele sehingga kalian melakukan apapun sesuka hati kalian," ucap Kania.
Jeki tidak berani meminta tolong lagi, dia hanya bisa diam saja mendengar kan ceramah dari istri Vincent.
Tidak beberapa lama makanan selesai, Kania menyuruh Jeki makan namun Jeki sama sekali tidak berselera dia sangat ingin pergi kemana pun dia mau namun kesehatan nya belum stabil.
Dia hanya bisa menemani Saska bermain di ruang tamu. Sementara Kania ada kelas jam sebelas siang, dia berangkat dan meninggalkan Jeki bersama Saska.
Vincent di kantor nya dia tidak berhenti melamun sambil berputar-putar di kursi ruangan nya.
Tomi dan Staf lain nya hanya bisa diam melihat Vincent.
Sesekali dia menghela nafas panjang. "Kamu keluar dulu," ucap Tomi kepada staf nya.
Staf nya keluar. Dia menatap Vincent.
"Ada apa lagi yang Bapak pikirkan?" tanya Tomi.
Vincent Menatap Tomi.
"Saya sudah melakukan semua nya agar bisa Kania memaafkan saya, tapi kenapa sampai sekarang dia masih marah?" tanya Vincent.
Tomi menghela nafas panjang. "Apa Bapak pikir kesalahan yang bapak lakukan ini gampang di lupakan oleh perempuan? Seumur hidup mereka pasti akan membahas nya," ucap Tomi.
"Apa yang harus saya lakukan kalau begitu?" tanya Vincent.
"Tidak ada yang tau, namun seiiring waktu pasti akan ada saat nya Kania kembali seperti dulu walaupun dia belum bisa melupakan nya, Bapak tidak boleh berhenti mencoba mengambil hati nya kembali."
"Saya sedang mengusahakan nya," ucap Vincent.
Setelah selesai berbicara dengan Vincent, Tomi pun keluar.
"Apa pak Vincent masih Galau?" tanya Fani kepada Tomi.
"Humm, dia masih belum bisa konsentrasi bekerja," ucap Tomi.
"Lagian pak Vincent ada-ada saja," ucap Fani.
__ADS_1
"Kalau aku melakukan hal yang sama, apa kamu mau memaafkan aku?" tanya Tomi.