Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 54


__ADS_3

Satu Minggu kemudian ada acara pertemuan lagi.


Vincent dan Jeki bertemu lagi.


"Aku tidak berfikir kalau kau akan merebut perusahaan itu dengan mengandalkan orang tua mu yang sudah tua, kau sungguh hebat." ucap Jeki.


"Setidaknya aku tidak memanfaatkan wanita untuk Melakukan kecurangan seperti yang kau lakukan!"


Minghui yang di belakang Jeki Memilih untuk diam saja, sehingga Tomi dan Vincent melihat ada yang aneh dengan Minhui.


Jeki tertawa mendengar Vincent mengatakan itu.


"Kita lihat saja nanti apa kamu bisa memenangkan perusahaan ini kali ini atau tidak, kalau tidak menang aku rasa kau tidak akan bisa menahan rasa malu." ucap Jeki.


Setelah itu Jeki menarik tangan minghui pergi dari sana.


"Pak, apa bapak sadar seperti nya Minghui sedikit tertekan bersama direktur Je."


"Sudah biarkan saja, itu adalah urusan mereka, sekarang kita harus lebih hati-hati, karena bisa saja manusia licik seperti dia merugikan kita lagi."


"Baiklah pak saya mengerti."


Vincent Duduk melihat MC yang ada di depan.


Vincent melihat jam tangan nya tidak terasa sudah jam sepuluh malam.


"Sampai sekarang Kania masih banyak diam, bahkan dia sama sekali tidak menyapa, tidak melayani ku."


"Pak! Pak!" dari tadi memanggil Vincent yang melamun.


"Ada apa?"


"Bapak di panggil ke depan."


"Baiklah, maaf saya sedikit lelah."


Sementara Kania bersama Ulfa di luar karena malam Minggu jadi bisa main.


"Kania kamu ada masalah yah? Kenapa sih kamu akhir-akhir ini murung terus? Kamu juga tidak fokus belajar di dalam kelas."


"Enggak kok, aku baik-baik Saja."


"Baik-baik bagaimana? Lihat lah badan kamu sangat kurus, wajah kamu sangat murung dan tatapan kamu sangat sedih, penampilan kamu juga sangat buruk sekali."


Kania menatap Ulfa.


"Apa menurut kamu hubungan ku dengan Paman Vincent akan baik-baik aja setelah aku lulus nanti?"


"Maksud kamu bagaimana? Bukan nya lebih baik kalau kamu sudah lulus dan kamu akan menjadi sekretaris Paman Vincent, hubungan kalian akan lebih baik."


Kania menggeleng kan kepala nya.


"Seperti nya itu hanya lah angan-angan ku saja."


"Kania kamu perempuan yang sangat beruntung, apapun bisa kamu capai dengan mudah, tidak seperti aku, aku saja bersyukur dengan rejeki ku sekarang kenapa kamu tidak bersyukur?"


"Di posisi aku itu tidak enak Ulfa."


Mendengar itu Ulfa langsung paham kalau Kania memiliki masalah.

__ADS_1


"Oke baiklah, aku tidak tau apa yang sedang kamu alami sekarang, tapi setidaknya kamu harus jujur apa yang terjadi, apa yang sedang kamu alami."


"Keluarga ku hidup di kelilingi kebohongan, aku sangat kecewa kepada Omah, Opah dan Paman Vincent karena sudah menyembunyikan kenyataan orang tua ku sudah meninggal dunia."


Ulfa sangat kaget mendengar itu.


"Aku juga bertemu langsung untuk pertama kalinya dengan Ibu kandung paman Vincent."


Kania menceritakan semua nya.


"Jadi sekarang kamu marah kepada keluarga kamu?"


Kania mengangguk.


"Kania kamu tidak tau apa alasan mereka seperti itu kepada kamu, mungkin mereka tidak ingin kamu sedih dan masa depan kamu terganggu."


"Kamu benar Ulfa, hanya saja aku seperti tidak terima dengan ini semua."


Ulfa memeluk Kania.


"Kamu yang sabar yah."


Kania membalas pelukan Ulfa yang untuk sekarang sangat nyaman karena biasanya bahu Vincent lah yang paling nyaman.


"Seandainya Kania sadar dia juga sudah membohongi keluarga nya untuk sekarang ini, aku tidak tau bagaimana kedepannya, tapi aku akan selalu ada di sini untuk kamu Kania," batin Ulfa.


"Kania... Ulfa.." panggil Yuda.


Kania berhenti menangis dan melepas kan pelukan nya.


"Yuda kamu di sini?" tanya Kania.


"Kok kalian berdua saja tidak ngajak aku?" tanya Yuda.


"Iyah sih, tapi kalau tau kita satu Cafe, kita bisa ketemuan."


Yuda melihat ke arah Ulfa yang tiba-tiba memasang wajah Cuek.


"Ya sudah kalau begitu kalian lanjut saja yah, aku mau gabung sama teman-teman ku."


Yuda tau kalau Ulfa tidak ingin dia di sana.


"Ulfa kamu masih membenci Yuda?"


Ulfa menggeleng kan kepala nya.


"Sudah lah tidak perlu membahas dia, sebaiknya hari ini kita makan yang banyak, melupakan masalah kita masing-masing."


"Apa orang tua mu sudah sembuh?"


"Belum Kania, bahkan orang tua ku belum pulang."


"Pas banget, Besok Omah sama Opah sudah pulang, kamu nginap di rumah ku saja."


"Bagaimana dengan orang tua kandung paman Vincent?"


"Sudah tidak apa-apa, lagian dia sangat jarang berbicara dengan ku, dia juga sibuk bekerja sama seperti Paman."


"Tapi.."

__ADS_1


"Aku mohon, aku sangat takut berdua saja di rumah dengan Bu Mona."


"Aku juga takut Kania."


"Apa kamu tega membiarkan aku nanti di marahin sendirian? aku harus minta tolong ke siapa?"


Ulfa tidak bisa menolak akhirnya dia mau, Kania sangat senang sekali.


Vincent sudah sampai di rumah namun dia tidak melihat mobil Kania.


"Apa Kania belum pulang Mih?" tanya Vincent karena hanya ada mami nya di depan.


"Mami tidak tau karena mamih tidak perduli."


Vincent menghela nafas panjang dia mencari ke dalam dan ternyata omah sama Opah juga mencari Kania.


Vincent menelpon Kania.


"Halo Paman."


"Kania kamu di Mana? Kenapa jam segini kamu belum juga pulang?" tanya Vincent.


"Ini aku Ulfa paman."


"Ulfa, kenapa Handphone Kania sama kamu?"


"Kania mabuk Paman."


"Sekarang kirim alamat kalian, saya akan ke sana."


"Vincent dimana Kania?"


"Omah sama Opah tidak perlu khawatir, dia baik-baik saja aku akan menjemput dia."


"Tu kan apa mamih bilang, tidak bisa sehari saja tidak menyusahkan kamu, seperti ini dia tidak pulang cepat dan kamu harus menjemput nya," sindir mami nya.


Vincent tidak menjawab dia langsung pergi.


"Maaf kan cucu kami."


"Saya sudah menolak dari awal untuk memberikan anak itu kepada Vincent, namun karena anak dan almarhum Suami saya tanggung jawab terpaksa deh."


Omah dan Opah Memilih untuk Diam dari pada mereka harus ribut hanya karena hal itu saja.


Vincent sudah sampai di Cafe dia melihat Kania muntah-muntah karena mabuk.


"Ulfa apa yang terjadi? kenapa Kania mabuk?"


"Aku sudah melarang nya paman, hanya saja Kania tidak mau."


"Ya sudah kalau begitu kamu juga pulang lah, saya sudah memesan taksi, saya akan membawa Kania."


Ulfa mengangguk.


"Paman datang menjemput aku? aku sangat merindukan paman, Paman tau sudah satu Minggu kita tidak saling berbicara, hubungan apa yang serumit ini?" tanya Kania antara sadar dan tidak sadar.


"Kania mabuk?" Yuda membuat Ulfa kaget.


"Kamu sudah tau, kenapa bertanya?"

__ADS_1


Yuda menghela nafas panjang.


"Kamu pulang pakai apa? Aku anterin yah." ucap Yuda.


__ADS_2