
"Aku seperti wanita simpanan paman saja kalau seperti ini." ucap Kania duduk di pinggir kasur.
Vincent mendekati Kania memeluk pinggang nya.
"Apa kamu mau langsung menikah dengan saya?"
"Plokk!!!" Kania memukul pundak Vincent.
"Auhh, sakit sayang."
"Jangan aneh-aneh deh paman, pacaran seperti ini saja sudah membuat ku takut, apalagi Ijin mau nikah."
Vincent mengelus rambut Kania.
"Sebaiknya Paman kembali ke kamar paman, aku mau siap-siap ke kampus."
"Ini masih jam enam, apa kamu tidak bisa memeluk saya sebentar saja?" tanya Vincent yang selalu manja ketika bersama Kania.
Kania sudah sampai di kampus dia langsung mencari Ulfa.
"Apa kamu melihat Ulfa Yuda?" tanya Kania.
Yuda menggeleng kan kepala nya.
"Aku belum melihat nya datang dari tadi, bukannya dia tinggal satu rumah sama kamu?" tanya Yuda.
"Iyah satu rumah, hanya saja tadi malam dia tidak tidur di rumah karena ada keluarga nya yang akan datang ke rumah nya.
Kania menunggu Ulfa karena tidak bisa di hubungi.
"Kemana sih dia? Apa dia tidak datang? Sebentar lagi kelas sudah mau di mulai."
"Mungkin dia tidak akan datang," ucap Yuda.
Mereka berdua berhenti menunggu di luar dan masuk ke dalam kelas.
Jam mata kuliah sudah selesai Kania dan Yuda sudah keluar dari kelas.
"Aku pamit dulu yah." ucap Kania.
"Kamu mau Langsung ke perusahaan paman mu?" tanya Yuda.
"Iyah, kok kamu tau?" tanya Kania.
"Sudah tau dari awal kok."
Kania tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu aku berangkat dulu yah."
Yuda mengangguk.
Yuda tidak ada urusan lagi di kampus dia memilih untuk mencari Ulfa.
"Ulfa..." panggil Yuda ketika sudah sampai di depan rumah Ulfa yang terlihat sangat sepi sekali.
"Kok Ulfa gak nyaut sih?"
"Ulfa apa kamu di dalam? Ulfa?"
Yuda mau mengetuk pintu namun tiba-tiba pintu terbuka.
"Loh kamu mau kemana?" tanya Yuda melihat Ulfa membawa tas baju.
__ADS_1
"Kamu kenapa bisa di sini?" tanya Ulfa.
"Jawab dulu pertanyaan aku, kenapa kamu membawa tas seperti ini dan wajah kamu juga sangat sembab, apa kamu habis nangis?"
"Aku mau ke kampung Yuda, ibu ku meninggal."
Yuda seketika terkejut mendengar itu.
"Aku mau berangkat hari ini juga ke kampung."
"Kalau begitu aku akan mengantar kan kamu."
"Jangan, tidak perlu, kampung ku sangat jauh sekali." ucap Ulfa.
"Yang penting sekarang kita harus berangkat, ayo masuk ke dalam mobil."
"Bagaimana kalau ibu kamu marah?" tanya Ulfa.
"Kamu tidak perlu khawatir, aku akan berbicara dengan nya nanti."
Ulfa tua bisa menolak karena dia juga butuh bantuan dari Yuda.
Menunggu bus dia tidak akan sempat melihat ibu nya lagi.
Kania baru saja sampai di kantor dia sangat kaget melihat kabar dari Yuda kalau dia akan mengantar kan Ulfa ke kampung nya untuk melihat orang tua nya yang sudah meninggal.
Vincent cukup terkejut mendengar berita itu.
"Ya Allah pasti Ulfa sangat sedih sekali, di keadaan seperti ini aku tidak ada bersama nya, maafin aku yah Ulfa," batin Kania.
Vincent memegang tangan Kania.
"Jangan merasa bersalah seperti itu, kita tidak bisa melakukan semua nya seperti apa yang kita ingin, mungkin jalan tuhan sudah seperti ini, kamu cukup menyemangati Ulfa jangan ikut bersedih.
"Yuda bagaimana kabar Ulfa?" tanya Kania saat tidak sengaja bertemu di luar. Karena Kania dan Vincent sedang jalan-jalan Sore.
" Ulfa masih berduka Kania, aku pulang karena dia masih ingin di sana."
Kania menghela nafas.
"Kasian sekali Ulfa, aku minta maaf karena tidak bisa bersama nya sekarang."
"Jangan merasa bersalah seperti itu Kania, Ulfa sekarang hanya butuh dukungan dan kita selalu ada untuk nya."
Kania mengangguk. "Ya sudah kalau begitu aku pulang dulu yah, kamu mau kemana?"
"Jalan-jalan aja, aku baru saja selesai dari kantor."
Yuda melihat Vincent yang tidak jauh dari mereka.
"Ya sudah kalau begitu aku pamit yah." ucap Yuda.
Sampai di rumah Yuda menghubungi Ulfa.
Ulfa yang baru saja selesai mengaji menjawab telpon dari Yuda untuk pertama kalinya.
Yuda melakukan video call agar dia bisa melihat keadaan Ulfa sekarang.
"Kamu dapat nomor aku dari mana?" tanya Ulfa.
Yuda tersenyum tipis tidak enak, karena dia mencuri nomor telepon Ulfa di saat dia memegang Handphone Ulfa.
"Maafin aku, aku ganggu kamu yah?" tanya Yuda karena melihat Ulfa pakai mukenah.
__ADS_1
"Aku baru saja selesai sholat dan ngaji."
"Oohh begitu, aku hanya memastikan keadaan kamu baik-baik saja."
"Aku baik-baik saja kamu tidak perlu khawatir dengan itu."
Yuda melihat mata Ulfa.
"Kamu nangis lagi?" tanya Yuda.
Ulfa diam saja.
"Kenapa kamu diam?"
"Ya sudah kalau begitu kamu tetap mau istirahat, istirahat saja dulu," ucap Yuda.
"Tunggu dulu," ucap Ulfa menahan agar tidak mematikan sambungan telepon.
"Kenapa?" tanya Yuda.
"Makasih yah sudah mau mengantar kan aku, menemani aku dan selalu perduli kepada kamu, aku tidak sempat mengatakan nya karena kamu pulang mendadak."
"Iyah sama-sama, aku juga minta maaf pulang tidak ijin karena Mamah ku meminta ku untuk pulang."
"Kapan kamu akan pulang ke sini?"
"Aku tidak tau," jawab Ulfa.
"Kamu jangan bersedih seperti itu dong."
"Enggak kok."
Yuda tersenyum.
"Hari Minggu aku akan datang ke sana lagi."
"Gak usah Yuda ke Sini sangat jauh sekali, aku baik-baik saja tidak mau merepotkan kamu."
"Aku ingin bertemu dengan kamu, apa yang salah dengan itu, kamu lanjut istirahat gih, aku juga mau mengerjakan tugas ku."
Ulfa mengangguk. Baru saja selesai Yuda menelpon Kania langsung menelpon Ulfa.
Dia menangis membuat Ulfa bingung.
Kania sangat sedih karena orang tua Ulfa meninggal dan dia tidak bersama Ulfa.
Vincent berusaha untuk menenangkan Kania yang seharian tidak berhenti menangis karena Ulfa.
Cukup lama berbicara dengan Ulfa setelah itu Kania menangis di pelukan Vincent.
"Kenapa kamu begitu sangat sedih ketika orang tua Ulfa meninggal? Sedangkan kamu tau orang tua Kamu meninggal kamu tidak sedih?" tanya Vincent.
Kania menatap wajah Vincent sambil menggelengkan kepalanya.
"Ibu nya Ulfa sangat baik kepada ku, sudah menganggap aku seperti anak nya."
"Aku bukan tidak sedih, hanya saja untuk apa aku menangisi nya, aku hanya perlu mengirim kan doa kepada mereka."
Vincent mengelus rambut Kania sambil tersenyum.
Seperti biasa Vincent tidak akan berhenti mencium bibir Kania sebagai obat penenang bagi Kania.
Untung saja Bu Mona belum pulang hanya ada mereka berdua di rumah itu.
__ADS_1