
"Apa-apaan ini paman? kenapa Paman mabuk seperti ini? Paman sudah janji tidak akan pernah minum-minum lagi."
"Kania..."
"Jangan sentuh aku, aku sedang marah kepada paman dan jelas kan ada apa?" ucap Kania.
"Kamu jangan marah kepada paman, paman sangat mencintai kamu, Paman tidak mau kehilangan kamu, Paman tidak mau kehilangan Kamu."
Percuma saja Kania bertanya karena Vincent seperti nya tidak bisa menjelaskan nya.
Kania terlihat sangat kesal dia membawa Vincent pulang.
Setelah sampai di rumah dia harus memapah badan Vincent masuk ke dalam kamar.
Kania marah-marah namun Vincent tidak sadar lagi, dia hanya berbicara hal yang tidak jelas.
Keesokan paginya Kania melihat Paman nya sudah bangun dan duduk di tempat tidur.
"Paman akhirnya bangun juga, nih obat untuk Paman."
Kania memberikan obat dan juga air hangat.
Vincent meminum nya agar pusing nya sedikit hilang.
"Apa Paman sadar apa yang sudah paman lakukan tadi malam?" tanya Kania.
"Paman sedikit mabuk karena lagi ada masalah. Paman minta maaf karena merepotkan kamu dan tidak bisa memegang janji paman," ucap Vincent.
"Kenapa Paman harus mabuk kalau ada masalah? Apa Paman tidak bisa bercerita kepada ku?" tanya Kania.
Vincent diam dan tidak menatap wajah Kania sama sekali.
"Apa jalan satu-satunya ketika lagi ada masalah harus mabuk? Membahayakan kesehatan paman sendiri?"
"Sebaiknya kamu siap-siap ke kampus saja, Paman mau lanjut istirahat."
"Apa hari ini Paman tidak ke kantor?"
Vincent menggeleng kan kepala nya.
"Ada masalah apa paman? Kenapa paman tidak mau cerita sama aku?" tanya Kania.
"Ini urusan pribadi kamu tidak berhak tau."
"Tapi aku di sini adalah keluarga Paman, aku siap mendengarkan keluhan paman aku juga siap membantu paman."
"Kamu masih kecil tidak akan paham tentang itu."
"Kenapa? Karena perempuan lagi? Paman selalu saja seperti ini karena perempuan."
"Kania!"
"Tidak perlu menyembunyikan nya lagi paman, aku sudah sangat hapal kalau Paman selalu di hancurkan oleh perempuan karena sifat Paman sendiri."
__ADS_1
"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan."
"Apa Paman mau bilang kalau aku salah paham? Apa Paman mau bilang aku tidak mengerti?"
"Aku bukan anak kecil lagi Paman, hanya aku yang tau sifat asli Paman sendiri dan seperti apa yang paman mau."
"Kamu tau apa yang saya mau? Sekarang katakan apa yang saya mau!" ucap Vincent meninggikan nada bicara nya.
Kania langsung terdiam.
"Kamu lah yang membuat saya seperti ini, Kania. Kamu menjebak saya dalam situasi seperti ini."
Kania terdiam.
"Saya sangat bodoh baru menyadari kalau saya mencintai kamu sehingga saya selama ini banyak menyakiti perempuan karena yang saya mau kamu bukan mereka."
"Kamu yang membuat saya seperti, kamu mencintai saya di Saat saya belum sadar dengan perasaan ini."
"Namun di saat saya menyadari perasaan ini saya sangat takut mengatakan nya dengan jujur karena saya tidak mau kehilangan kamu untuk kedua kalinya."
Kania terdiam kaget tidak tau harus mengatakan apa.
"Dan sekarang kamu berpacaran dengan pria lain membuang saya begitu saja."
"Maksud Paman apa?"
"Saya melihat kamu berciuman dengan Yuda di kampus, itu membuat saya sangat cemburu dan saya tidak bisa menahan diri saya sangat sedih dan. saya patah hati."
Kania mengingat kejadian itu dia mau menjelaskan nya namun Vincent lanjut berbicara.
"Saya sudah di hukum karena selama ini saya sudah menjadi Pria yang tidak baik."
Kania menatap wajah Vincent.
"Tapi Paman harus menyadari kalau cinta yang ada sekarang hanya karena terbiasa bersama dan perasaan itu muncul karena suasana saja."
Vincent menggeleng kan kepala nya.
"Tidak! Ini berbeda, Kania. Saya tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya," ucap Vincent.
Kania terdiam sejenak.
"Kakak hanya nafsu saja kepada ku, kalau begitu aku akan mencari pasangan untuk Paman."
Vincent tiba-tiba mendorong Kania dan terbaring di kasur.
"Kamu tidak mencintai saya lagi?"
"Paman.. aku mohon jangan seperti ini, hubungan kita sudah jauh lebih baik menjadi keponakan dan paman."
"Saya bukan Paman kamu! Bukan kah itu yang pernah kamu katakan? Saya ingin kamu membuka hati kamu lagi untuk saya."
"Paman aku...."
__ADS_1
"Kenapa? Karena Yuda?"
Kania menghela nafas panjang.
Dia melihat wajah Paman nya sangat serius tidak bisa di ajak bercanda dan tidak bisa salah berbicara karena akan berujung keributan.
Kania paham dengan situasi hati Vincent sekarang.
"Kania, apa kamu tidak ingin memberikan saya kesempatan kedua? Saya akan memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik mungkin."
"Paman jangan gegabah, mungkin ini hanya karena perhatian ku yang berlebihan membuat Paman beranggapan lain."
Vincent menggeleng kan kepala nya.
"Tidak Kania! Saya tidak berfikir seperti itu, saya tulus mencintai kamu bukan Keponakan melainkan wanita yang saya beli inginkan."
Tiba-tiba handphone Vincent berdering.
"Paman lepas kan aku, aku mau ke kampus," ucap Kania karena Vincent mengabaikan ponsel nya demi menahan Kania.
"Saya tidak akan membiarkan Yuda ada di dekat kamu lagi, kamu adalah milik saya," ucap Vincent sambil mencium kening Kania membuat Kania seketika kaget.
Vincent turun dari tempat tidur dan menatap Kania.
"Kalau kamu tidak mencintai saya lagi tidak apa-apa, tapi kamu harus memberikan saya kesempatan untuk membuat kamu jatuh cinta lagi kepada saya."
Vincent tersenyum sambil memainkan mata nya membuat Kania heran.
"Bisa-bisa nya dia tersenyum seperti tidak ada masalah sekarang."
Kania langsung keluar dari sana agar Vincent tidak menahan nya.
Sementara Vincent di dalam kamar mandi termenung. Dia memikirkan bagaimana cara untuk mendekati Kania membuat Kania jatuh cinta kepada nya lagi seperti dulu.
Kania di dalam kamar nya baru saja selesai mandi dan sedang menata rambut nya.
"Huff situasi seperti ini yang tidak aku suka, aku satu rumah dengan Paman Vincent tapi jadi canggung," ucap Kania.
"Ah sudahlah, mungkin paman masih dalam pengaruh alkohol jadi dia berbicara aneh, nanti dia pasti melupakan nya sama seperti sebelumnya."
Kania keluar dari kamar nya sudah melihat rumah sepi.
"Bagus deh Paman sudah berangkat kerja terlebih dahulu," ucap Kania berjalan keluar.
"Pagi Kania.. Kamu mau berangkat ke kampus?" sapa Vincent yang ternyata menunggu di depan mobil Kania.
"Hari ini paman akan mengantar kan kamu ke kampus."
"Aku bisa pergi sendiri."
Vincent menggeleng kan kepala nya.
"Tidak bisa! Mulai hari ini dan seterusnya Paman yang akan mengantar dan menjemput kamu ke kampus agar pria yang bernama Yuda itu tidak mendekati kamu lagi."
__ADS_1
Kania menghela nafas panjang.
"Huff ternyata dia sudah sadar sepenuhnya," batin Kania.