
Kania tersenyum. "Jangan berbicara seperti itu, Yuda itu sudah menjadi milik kamu dari awal."
"Selain itu aku juga mau berterima kasih kepada Allah di berikan sahabat seperti saudara seperti kamu."
Mereka langsung berpelukan. "Aku juga sangat beruntung memiliki sahabat seperti kamu," ucap Kania.
Kania menemani Ulfa di kamar nya seharian. Menonton, main game, bercerita tidur bersama. Menghabiskan waktu seharian hanya di dalam kamar saja.
Tidak beberapa lama Yuda pulang tepat jam tiga Sore. Kania juga sudah bisa pergi karena Yuda sudah pulang.
"Sayang, bagaimana keadaan kamu?" tanya Yuda setelah selesai mandi.
"Kepala ku masih sangat sakit sekali, badan ku juga lemas."
"Loh kok jadi sakit lagi? kata Kania kamu sudah sembuh," ucap Yuda.
"Tidak mungkin aku sakit di depan Kania, yang ada dia semakin khawatir sama aku."
Yuda menghela nafas panjang. Dia menatap wajah Ulfa. "Kamu gak percaya aku sakit?" tanya Ulfa.
"Bukan gitu sayang, tapi malam ini aku ada janji sama mamah makan malam di luar."
Ulfa terdiam sejenak. "Kamu tau kan kalau Mamah tidak bisa di tolak."
Ulfa menarik tangan Yuda. "Gak apa-apa kok kamu pergi, aku gak apa-apa sendirian di sini,"
"Huff kamu bilang saja gak apa-apa, asli nya kamu tidak ingin aku pergi kan?" ucap Yuda. Ulfa memasang wajah manja nya.
"Aku pergi satu jam saja, setelah itu aku akan pulang secepat mungkin."
"Humm baiklah kalau begitu," ucap Ulfa. Kania kembali ke rumah nya sampai di rumah dia tidak ingin melakukan apapun selain istirahat di kamar nya.
Di rumah Jeki. Minhui duduk memantau Saska main sendiri.
"Untung saja dia naik Budi dan tidak rewel, aku bisa istirahat sejenak," ucap Minhui.
Tidak terasa hari semakin sore, Minhui dan Saska mandi. Minhui dan Saska sudah sangat malas keluar dari kamar.
Minhui berbaring di kasur menemani Saska nonton film anak-anak di TV.
Jeki baru pulang jam delapan malam. Dia pulang telat karena banyak pekerjaan.
"Aku pulang..." dia membuka pintu namun dia tidak melihat siapapun di ruang tamu.
"Kemana mereka?" batin Jeki.
Belum tenang kalau belum melihat mereka berdua. Jeki memeriksa ke dalam kamar.
Dan ternyata mereka sudah tidur dalam keadaan TV hidup.
Minhui sadar Jeki masuk ke dalam kamar nya. "Aku minta maaf pulang telat, kamu pasti kelelahan mengurus Saska."
__ADS_1
"Tidak apa-apa," ucap Minhui. Jeki menghela nafas panjang.
Minhui masih terlihat kesal kepada nya.
"Apa kamu sudah makan? Aku membeli makanan dari luar."
"Aku sudah makan," ucap Minhui. "Kamu Makan apa?" tanya Jeki.
Minhui tidak menjawab nya. Jeki memaksa Minhui untuk makan.
"Kamu makan dulu, jangan sampai kamu sakit karena menahan rasa lapar."
Minhui makan sementara Jeki pergi membersihkan tubuhnya. Tidak beberapa lama dia kembali membawa kan air hangat, obat dan vitamin untuk Minhui.
Setelah selesai Jeki mengoleskan minyak ke punggung Minhui agar pegal-pegal nya hilang, dan mengoleskan salep ke perut Minhui.
Minhui masih diam saja, setelah selesai dia lanjut tidur.
Tadi nya badan nya sangat pegal, perut nya sakit dan sangat lapar namun sekarang sudah sangat nyaman sekali.
Besok pagi nya...
Minhui bangun, dia tidak melihat Saska di samping nya, dia bangun mencari Saska ternyata dia pindah tidur di kamar Jeki.
"Kenapa dia bisa di sini?" tanya Minhui. "Aku minta maaf tidak bilang dulu, tapi tadi malam kamu hampir saja menimpa badan nya."
"Apa iya? Aku tidak menyadari nya," ucap Minhui.
"Tidak apa-apa, aku akan membeli tempat tidur bayi untuk Saska."
Minhui mengangguk. Dia melihat Saska tidur sangat nyenyak.
"Humm hari ini aku akan pulang telat karena aku akan mengunjungi adik ku," ucap Jeki.
Minhui hanya mengangguk saja. Jeki menatap perut Minhui.
"Apa aku boleh menyentuh nya?" tanya Jeki.
Minhui tidak menjawab nya namun hanya diam saja.. Jeki menyentuh nya dan sangat kaget bisa merasakan pergerakan kecil di dalam perut Minhui.
"Sayang, ini Papah. Kamu bisa merasakan ini Papah kan?" tanya Jeki.
Bayi itu merespon sangat lincah sekali. "Sebaiknya kamu siap-siap ke kantor, jangan lupa membeli tempat tidur untuk Saska."
Jeki mengangguk. Belum puas berbicara dengan anak nya namun Minhui seperti nya tidak nyaman.
Di rumah sakit..
Vincent melihat Sarah masih tidur. "Good morning.." sapa Vincent.
"Pagi sayang... Kamu habis dari mana pagi-pagi seperti ini sudah keluar?" tanya Sarah.
__ADS_1
"Aku membeli bunga, aku juga membeli banyak buah-buahan untuk kamu."
Sarah tersenyum. "Terimakasih sayang, tapi lain kali tidak perlu membeli bunga setiap hari seperti ini."
"Gak apa-apa, yang penting kamu suka."
"Oh iya hari ini aku tidak bisa menemani kamu di sini, aku harus Pulang mengurus beberapa pekerjaan, setelah selesai aku akan datang lagi."
"Yahh, aku masih mau sama kamu."
"Aku harus pergi sebentar, setelah selesai aku janji akan datang secepat nya."
"Aku tidak mau, aku mau kamu di sini Nemanin aku!"
"Sarah... aku bekerja juga untuk kita bersama, untuk anak kita dan membeli rumah baru setelah kamu keluar dari sini."
"Oke baiklah kalau begitu, tapi besok kamu sudah harus di sini."
"Oke baiklah kalau begitu, kamu juga harus jaga diri baik-baik, kamu harus cepat sembuh."
"Iyah sayang.." ucap Sarah.
Vincent pamit pergi. Dia langsung pulang ke rumah nya beberapa jam di perjalanan membuat nya lelah. Setelah sampai di rumah dia berbaring di sofa sehingga ketiduran di sana.
Jam sepuluh pagi Bu Mona baru turun dari lantai dua karena bekerja di dalam kamar nya, tapi dia keluar hanya membuat kopi tidak menyadari Vincent sudah pulang.
Tidak beberapa lama Kania juga baru saja pulang.
"Mas Vincent," ucap Kania.
"Vincent?" ucap Bu Mona.
"Iyah mah, ini mas Vincent sudah pulang, apa mamah tidak tau?"
Mereka sama-sama kaget plus senang juga Vincent sudah pulang.
Vincent bangun karena mendengar suara dua wanita itu.
"Mas Vincent Kapan pulang? Kenapa tidak bilang?" tanya Kania.
Kania langsung memeluk Vincent, dia sudah sangat merindukan suami nya itu.
"Lain kali kalau kamu pulang bilang nak, kamu membuat kami kaget saja."
"Maaf mih, aku tidak sempat bilang karena aku sangat ngantuk sekali," ucap Vincent.
"Kamu pasti sangat lelah, sebaik nya kamu istirahat di kamar, mami mau lanjut kerja dulu," ucap bu Mona.
Vincent menatap wajah Kania. "Sayang, apa kabar kamu?" tanya Vincent.
"Aku baik-baik saja, hanya saja aku kesal kenapa mas tidak menjawab telpon dan tidak membalasnya pesan ku?" tanya Kania.
__ADS_1