
"Sudah kerjakan saja sampai selesai," ucap Tomi.
"Mau bagaimana pun ini kesalahan kita dengan mudah mempercayai orang lain sehingga data-data perusahaan bisa di ambil oleh orang lain." ucap Tomi.
"Kenapa kita yang salah sih? Jelas-jelas ini semua karena pak Vincent yang membiarkan Nona Minhui bisa bebas di perusahaan ini."
"Sudah-sudah jangan ribut, percuma saja kalian ribut."
Mereka sudah sangat lelah mau pulang itu sebab nya jadi ribut satu sama lain.
Tomi hanya bisa diam saja tanpa bisa mengatakan apapun.
Vincent melihat jam lagi ternyata sudah jam sebelas malam.
Dia memutuskan untuk pulang ke rumah karena tidur di kantor membuat nya tidak bisa tidur dan membuat seluruh badan nya sakit.
Vincent keluar dari ruangan nya ternyata masih banyak karyawan yang ada di kantor.
"Sebaiknya kalian semua pulang dan istirahat, kalau memaksa kan malam ini percuma saja," ucap Vincent.
Mereka sangat senang dan bersiap-siap pulang.
"Tomi kamu juga pulang lah," ucap Vincent.
"Bapak juga istirahat lah," ucap Tomi.
Vincent mengangguk. Tomi melihat Vincent pergi dengan wajah yang terlihat sangat letih sekali.
"Saya tau kenapa bapak mempertahankan Saham ini. Sebisa mungkin saya akan terus membantu," batin Tomi.
Tidak beberapa lama akhirnya Vincent sampai di rumah.
"Apa dia sudah tidur?" ucap Vincent sambil melihat ke arah kamar Kania.
"Sudah dua hari aku tidak melihat wajah nya aku sangat merindukan dia."
Vincent membuka pintu kamar Kania yang tidak terkunci. Vincent mendekati Kania yang sudah tidur sangat nyenyak.
"Kania apa ini yang selama ini kamu rasakan terhadap paman? Maafin paman tidak pernah mengerti dengan perasaan kamu," ucap Vincent sambil merapikan rambut Kania.
"Paman sendiri tidak tau apa yang telah terjadi di antara kita berdua namun sekarang Paman tidak ingin kehilangan kamu."
Vincent tidak bisa menahan diri dia mau mencium Kania namun Kania bergeliat membuat nya kaget dan langsung menghindar dari tempat tidur.
Vincent akhirnya memilih keluar dari kamar Kania. Sekilas Kania ternyata menyadari Vincent masuk ke dalam kamar nya namun karena sangat mengantuk dia tidak sanggup membuka mata nya.
Vincent mandi di kamar mandi namun tidak berhenti memikirkan Kania.
"Vincent kamu sudah gila, berhenti memikirkan hal kotor!" dia tidak berhenti merutuki diri nya sendiri.
Tidak beberapa lama akhirnya dia selesai mandi dan langsung tidur.
__ADS_1
Di pagi hari nya Kania banyak lebih awal seperti biasa. Dia melihat ada satu kertas kecil di atas meja.
"Terimakasih makan malam nya."
Surat itu dari Vincent.
"Ternyata aku tidak mengigau dia masuk ke kamar ku." ucap Kania.
Setelah beberapa lama akhirnya dia keluar dari kamar nya.
Dia keluar dari kamar nya sudah melihat Vincent di dapur sedang membuat kopi.
"Kamu sudah bangun?" tanya Vincent sambil tersenyum, Kania mengangguk.
"Hari ini kamu kuliah?"
Kania mengangguk.
Vincent tersenyum canggung karena Kania lebih banyak diam.
Kania membuat roti bakar sebelum berangkat dan sarapan bersama Paman nya di meja makan.
"Kenapa jadi sangat canggung? Biasanya aku tidak pernah merasakan hal seperti ini," batin Vincent bahkan menatap Kania saja dia tidak memiliki keberanian.
"Aku dengar Paman baru sudah putus dengan Mbak Minhui, apa itu benar?" tanya Kania memberanikan diri untuk bertanya.
Vincent mengangguk. "Kamu tau dari mana?"
"Tomi," jawab Kania.
"Dia juga bilang kalau PT Wir Asia sudah di rebut oleh direktur Je," ucap Kania.
"Kamu tidak perlu mendengarkan apa kata Tomi, kamu fokus saja kuliah."
Kania terdiam sejenak sambil menundukkan kepala nya.
"Kenapa Paman sangat tega membuat mbak Minghui sakit hati? Apa Paman tidak memiliki hati nurani? Setelah Paman mengambil untung dan memanfaatkan badan nya paman dengan mudah mencampakkan nya!"
Vincent menggeleng kan kepala nya. "Tidak seperti itu, Kania."
"Lalu seperti apa Paman?"
Vincent melihat wajah Kania marah dia tidak bisa menjelaskan apa-apa lagi.
"Kapan Paman aku berubah? Mau sampai kapan paman seperti ini? Apa Paman menyadari dari semua perbuatan Paman ini apa yang akan paman terima?" ucap Kania.
"Paman benar-benar minta maaf."
"Tidak perlu minta maaf kepada ku, Paman harus merenungi semua apa yang paman lakukan!"
Kania mengambil tas nya dan langsung pergi.
__ADS_1
Vincent menghela nafas panjang sambil memegang kepala nya.
"Sekarang aku menyadari yang aku lakukan itu salah dan sekarang aku sudah menerima hukuman nya." batin Vincent.
Dia mengingat Beberapa tahun lalu dia pernah melakukan pekerjaan yang ilegal menipu orang lain agar bisa mendapatkan keuntungan yang besar.
Karena hal itu dia terkenal dengan pria yang kejam dan tidak berhati.
Dia pun melakukan hal itu karena memiliki alasan yang di ketahui oleh nya dan keluarga nya angkat nya.
Di malam hari nya Kania sedang nongkrong bersama teman-teman nya. Namun Tiba-tiba saja Kania di cari oleh seseorang.
"Kania sudah lama kita tidak bertemu." ucap Direktur Je yang ternyata ada di tempat yang sama.
Kania mengetahui orang itu adalah musuh Paman nya jadi dia sedikit waspada.
Namun kelihatan nya direktur Je tidak mencurigakan jadi dia bisa santai. Mereka juga berbicara dengan biasa tidak ada rasa canggung sama sekali.
Kania sudah pulang dan sampai di rumah.
"Apa Paman belum pulang juga?" batin Kania, dia melihat jam.
Kania masuk ke kamar paman nya yang sudah sangat lama tidak dia masuki. Ternyata kamar itu sudah sangat berantakan tidak pernah di bersihkan.
Dia berniat untuk membersihkan nya namun dia kaget karena melihat obat aneh yang ada di kamar Paman nya.
"Ini obat apa? kenapa aku baru melihat nya?" ucap Kania.
Dia mencari tau di google ternyata obat itu untuk sesak nafas.
"Kenapa Paman meminum obat seperti ini? Apa dia sakit?"
"Apa yang kamu lakukan di kamar paman?" tanya Vincent yang baru saja pulang dan mendapati Kania di kamar nya.
"Paman sudah pulang? aku hanya mau merapikan kamar Paman dan mengumpulkan pakaian kotor."
Kania langsung keluar dari kamar Vincent.
"Apa kamu tidak masak?" tanya Vincent.
"Aku tidak masak karena makan di luar, kalau Paman mau makan aku akan masak sebentar." ucap Kania.
Vincent mengangguk. Tidak beberapa lama akhirnya makanan sudah masak Vincent terlihat sangat lapar sampai makanan yang di masak oleh Kania hampir habis.
"Kamu tidak makan?" tanya Vincent.
Kania menggeleng kan kepala nya.
Vincent menghela nafas panjang.
"Paman bisa menjelaskan kenapa Paman bisa putus dengan Minhui, kamu jangan marah kepada paman." ucap Vincent.
__ADS_1
Kania menggeleng kan kepala nya.
"Aku tidak butuh penjelasan paman, aku hanya ingin paman berubah." ucap Kania.