
"Arka tidak bolehin aku ikut dia, dia marah kepada ku."
"Arka gitu banget sih, padahal kan kalian sudah pacaran."
"Ayo buruan, aku sudah sangat lapar sekali," ucap Shela.
Mereka sampai di kantin. Shela sangat suka makan, dia juga sering traktir Dewi.
Tidak beberapa lama akhirnya mereka pulang sekolah.
"Arka, aku pulang sama kamu yah?" ucap Shela.
"Tidak bisa, aku mau nganterin Mita pulang."
"Tapi Tante Kania bilang kalau hari ini kamu akan membawa ku ke rumah kamu."
"Kamu ngapain sih ke rumah terus? Aku bosan melihat kamu di rumah terus, mengganggu saja!"
"Ih kamu lupa yah, aku pacar kamu loh!"
"Walaupun kamu pacar aku, itu hanya karena orang tua kita, aku tidak mau sama kamu."
"Aku mau kok sama kamu, aku suka sama kamu," ucap Shela.
"Aku gak perduli, sebaiknya kamu pulang sana ke rumah kamu."
Tidak beberapa lama Mita datang. "Ayo," ajak Mita.
Mereka pergi meninggalkan Shela sendirian di parkiran motor.
Saska melihat Shela yang di tinggal oleh Arka.
"Shela, kamu pulang sama siapa?" tanya kakak kelas nya.
"Aku nungguin supir, tadinya mau sama Arka, tapi dia nganterin Mita."
"Sama kamu saja yok, kami akan ngantar sampai ke rumah kamu."
"Gak usah kak, aku nungguin supir saja."
"Ya sudah kalau begitu," ucap mereka.
Tidak beberapa lama mereka semua sudah pergi. Saska menghampiri Shela.
"Eh kakak di sini?" tanya Shela.
"Kamu mau pulang kan? Ayo masuk ke dalam mobil," ucap Saska.
"Humm aku gak enak kak, aku nungguin supir ku aja."
"Loh, bukan nya kamu mau ke rumah di suruh Mamah?" tanya Saska.
"Iyah sih kak, Tapi Arka gak bolehkan, aku datang besok saja deh."
Tidak beberapa lama akhirnya supir Shela datang.
"Aku pulang dulu yah kak," ucap nya dan langsung masuk ke dalam mobil.
"Humm, ingat kalau dia itu adalah pacar adik mu," ucap Tina.
"Iyah aku tau, emang nya apa yang salah kalau aku membantu nya?"
__ADS_1
"Tidak baik karena orang lain bisa salah paham, tidak biasa nya kamu dekat dengan orang lain dan membantu nya seperti itu."
"Dia sudah seperti adik ku sendiri, tidak ada salahnya bukan?" ucap Saska.
"Udah deh, jangan bahas itu, hari ini kita jadi belanja beberapa alat olahraga yang rusak di sekolah kan?" tanya Tina.
"Jadi, tapi mamah minta aku pulang cepat."
"Loh kenapa?" tanya Tina.
"Biasa, mau belanja bulanan."
"Oohh ya udah deh, besok saja, aku juga mau pulang."
Sesampainya di rumah Saska melihat Kania mondar-mandir.
"Mamah kenapa?" tanya Saska.
"Kenapa Arka tidak membawa Shela ke sini dan melarang nya ke sini, sekarang kemana anak itu?" tanya Kania.
Tidak beberapa lama Arka pulang. Kania siap marah-marah kepada nya. Arka hanya bisa diam saja ketika Kania marah.
Setelah Kania marah dia siap-siap berangkat belanja.
"Mah, aku ikut," ucap Arka.
"Kamu di rumah saja."
"Aku mau ikut," ucap Arka langsung masuk ke dalam mobil kakak nya.
Saska hanya bisa menghela nafas panjang melihat adiknya itu.
"Sudah mah, jangan marah-marah terus," ucap Saska.
"Kalau mamah tau dia tidak memperlakukan Shela dengan baik,. mamah jauh lebih marah, bahkan mamah akan minta Papah menghukum kamu."
Arka seperti membuat Omelan mamah nya menjadi nyanyian, dia tetap tersenyum sambil main handphone di belakang.
Sesampainya di supermarket Kania meminta Arka yang mendorong troli.
Mereka berdua sudah terbiasa dari kecil menemani Kania belanja, apa-apa ikut dengan Kania sehingga menjadi kebiasaan.
"Wahh, sudah ganteng, tinggi, cakep, baik banget mau bantuin mamah nya belanja," ucap pembeli yang lain juga.
Arka berfikir dia yang di puji, namun semua wanita itu melihat ke arah kakak nya.
Arka memasang wajah judes. "Kakak, mau di masakin apa?" tanya Kania.
"Humm udang saja mah."
"Aku juga mau udang mah," jawab Arka.
Kania mengangguk.
Belanjaan mereka cukup banyak. Kania membayar semua nya dengan mudah walaupun pun sampai puluhan juta karena belanja bulanan.
Sesampainya di rumah, Arka dan Saska sibuk dengan urusan masing-masing di ruang tamu.
"Cucu ku...." Bu Mona mendadak datang membuat Kania dan anak-anak nya kaget.
Bu Mona sudah terlihat tua. "Nenek...aku sangat merindukan Nenek," ucap Arka.
__ADS_1
"Mamah datang? kenapa mendadak membuat aku kaget saja."
"Mamah sangat merindukan Arka."
Setiap kali Bu Mona datang, dia pasti membedakan Arka dan Saska.
Sampai sekarang Bu Mona masih kurang menerima Saska, tapi bukan berarti membenci nya, hanya saja dia jauh lebih sayang kepada Arka.
"Aku bantuin mamah masak yah," ucap Saska.
Kania tersenyum sambil mengangguk.
Walaupun Saska laki-laki, tapi dia sudah pintar masak. Kini Saska jauh lebih tinggi dari kania, tinggi nya sudah sama seperti Vincent.
Vincent pulang cepat karena Mami nya datang.
Mereka sudah saling merindukan satu sama lain. Vincent dan Mami nya berbincang-bincang di ruang tamu bersama Arka.
Sementara Kania dan Saska sibuk di dapur.
Tidak beberapa lama akhirnya makanan sudah siap. Mereka makan bersama. Saska seperti biasa akan banyak diam.
Setelah selesai makan dia juga langsung masuk ke kamar.
Arka menghampiri Saska. Dia mengetuk pintu kamar Saska.
"Kak buka pintu nya," teriak Arka dari luar.
"Jangan ganggu kakak," ucap Saska dari dalam.
"Nenek mau tidur di kamar ku, mau numpang di kamar kakak."
Saska membuka pintu, Arka tersenyum dia langsung masuk begitu saja dan melemparkan tubuhnya di kasur Saska.
"Kamar kakak sangat wangi sekali," ucap Arka.
"Berbeda dengan kamar kamu yang sangat berantakan, kalau bukan mamah yang bersihkan, itu kamar pasti jadi kapal pecah."
Arka tersenyum. Dia melihat Saska belajar.
"Humm, Kakak selalu belajar, apa tidak bosan?" tanya Arka. Saska menggeleng kan kepala nya.
"Kok kakak jadi banyak diam sih? Apa karena Nenek yah?" tanya Arka.
Saska menggeleng kan kepala nya. Arka memeluk Saska.
"Walaupun kita tidak satu mamah, tapi kita satu papah. Aku sangat menyayangi kakak, kakak juga di sayangi mamah."
Saska selalu terharu kalau Arka sudah berbicara seperti itu. Saska melepaskan pelukan adik nya.
"Makasih yah," ucap Saska.
"Walaupun banyak yang ngomong yang aneh-aneh, tapi kakak tetap jadi kakak ku yang paling aku cintai."
"Mungkin kalau tidak ada kakak, pasti mamah sering menghukum ku."
Saska tertawa mendengar nya. "Jadi kamu mencintai kakak, agar tidak di hukum sama mamah?"
Arka mengangguk. "Kamu ada-ada saja, mamah marah-marah karena kamu susah di bilangin, keras kepala."
"Tapi mamah hobi nya hanya bisa ngomel kak."
__ADS_1
"Coba kalau mamah gak ngomel, apa kamu tidak kesepian?" tanya Saska.