
Dia membeli beberapa keperluan dapur, perabotan rumah tangga.
Saat hendak membayar semua paket yang datang dia bingung karena tidak memiliki uang cash.
"Yahh aku lupa kalau paket yang aku pesan cod," ucap nya. Karena enggan mengganggu suami nya akhirnya dia memeriksa sendiri di dompet Vincent.
Namun ternyata di dompet tidak cukup, dia mencari tas kerja Vincent siapa tau ada di dalam sana.
Setelah di buka ternyata cukup untuk bayar paket nya, namun ia tiba-tiba kepo melihat banyak struk pembayaran dan belanjaan di dalam tas itu.
"Tumben-tumbenan banget mas Vincent menyimpan struk belanjaan dan juga pembayaran seperti ini."
Dia terkejut karena melihat nominal yang keluar cukup banyak untuk rumah sakit jiwa.
"Pembayaran apa ini? Dia melihat struk yang lain nya banyak belanjaan khusus untuk bayi dan menghabiskan lumayan banyak uang sehingga Kania berfikir itu untuk di sumbangkan dan ada juga belanja mainan serta baju anak laki-laki."
Dia masih berusaha untuk berfikir positif. Namun setelah melihat pembelian rumah yang harganya cukup mahal dan dia tidak tau di mana rumah itu.
Dan surat rumah itu atas nama Sarah, dia sudah tidak bisa berfikir positif lagi.
Di malam hari nya dia menunggu Vincent di meja makan.
"Sayang... kamu masak apa malam Ini? Aku sangat lapar sekali," ucap Vincent.
Dia duduk di depan Kania.
"Untuk siapa kamu beli rumah mewah di luar kota?" tanya Kania.
Vincent terdiam. "Kenapa diam mas?" tanya Kania.
"Kamu ngomong apa sih sayang? Rumah apa yang kamu maksud?"
Kania menunjuk kan surat pembelian rumah.
"Jelaskan ini, siapa Sarah dan rumah ini untuk apa?" tanya Kania.
"Aku bisa jelasin, Sarah adalah sepupu jauh aku."
"Jangan bohong mas, aku dari kecil hidup dengan mas, aku tidak mengenal yang namanya Sarah. Kalau pun dia sepupu mas kenapa mas membeli nya rumah mewah seperti ini menggunakan uang mas sendiri?"
"Kamu jangan berfikir yang negatif, aku hanya membantu nya," Vincent sudah sangat gugup.
"Kalau kamu tidak percaya aku bisa buktikan kalau uang aku akan di kembalikan lagi."
__ADS_1
Kania menghela nafas panjang. Dia menatap wajah Vincent. "Kita sekarang sudah suami istri mas, aku ingin sifat mas yang sebelumnya di rumah."
"Sayang... jangan berfikir yang enggak-enggak," ucap Vincent.
"Dan ini untuk Apa? Pembayaran rumah sakit jiwa, belanja perlengkapan bayi, mainan dan semua nya khusus laki-laki satu tahun."
"Ini untuk sumbangan sayang."
"Setau aku, kamu tidak pernah turun tangan untuk Melakukan hal seperti ini, pasti Tomi yang melakukan nya."
"Kebetulan saja, aku juga ingin sesekali melakukan nya dan bertemu langsung dengan anak-anak panti."
Kania masih tetap tidak percaya. "Kenapa sih kamu meributkan hal seperti ini?" tanya Vincent.
"Kita sudah suami istri mas, apapun itu mas harus membicarakan semua nya kepada ku."
Vincent menggenggam tangan istrinya. "Sayang... ini hal kecil, tidak seharusnya aku membicarakan ini kepada kamu, kamu saja sudah pusing memikirkan kuliah kamu."
Kania menepis tangan Vincent. "Aku harus mencari tau siapa Sarah ini," ucap Kania.
Dia langsung mengambil handphone Vincent yang sebelumnya tidak pernah dia check.
"Sayang, kamu tidak percaya sama aku?" tanya Vincent.
"Aku sudah mengenali mas cukup lama, aku tau kalau mas selingkuh atau tidak, dan aku yakin mas selingkuh sekarang."
Kania dan Vincent berhenti ribut. Kania meletakkan Handphone Vincent kembali.
"Kebetulan sekali kamu di sini Tomi." ucap Kania. Dia langsung menanyakan semua nya kepada Tomi.
Walaupun Tomi tidak tau apa yang di bahas oleh Kania, tapi dia berusaha melindungi Vincent tujuan untuk melindungi rumah tangga bos nya itu agar tidak cekcok.
Kania mulai percaya, namun dia masih kesal kepada suami nya.
Dia langsung masuk ke kamar. "Terimakasih kamu sudah datang tepat waktu, apa yang membuat kamu datang ke sini?" tanya Vincent.
Tomi menggeleng kan kepala nya. "Lupakan saja pak."
"Kalau begitu kita berbicara besok saja," ucap Vincent membiarkan Tomi pergi.
Tadi nya Tomi mau cuti karena mau membawa Fani bertemu dengan orang tua nya, tapi melihat keadaan tidak menyakinkan akhirnya dia menundanya.
Vincent menghela nafas panjang. " kenapa aku membawa semua ini pulang sih? Kalau seperti ini Kania pasti akan kefikiran," batin Vincent.
__ADS_1
Namum itu semua sangat berarti bagi nya, dia memutuskan untuk menyimpan semua nya baik-baik di tempat yang di ketahui oleh nya Saja.
Vincent dan Kania tidak makan, makanan sama ekonomi tidak sentuh. Vincent masuk ke kamar.
"Apa kamu sudah tidur?" tanya Vincent. Namun Kania tidak merespon nya dia membelakangi Vincent.
Vincent tau suasana hati istri nya sedang tidak baik, setelah mengucapkan selamat malam dia memeluk istrinya dari belakang dan akhirnya tertidur pulas.
Di tempat lain.. Jeki baru saja pulang bekerja di malam hari karena banyak pekerjaan yang sama sekali tidak bisa di tinggal kan oleh nya.
Sampai di rumah walaupun sudah sangat lelah dia menjaga Saska dan juga membantu pijit pinggang Minhui.
Keesokan paginya...
Pagi-pagi dia terbangun karena mendengar suara rintihan Jeki.
"Ada apa dengan nya?" tanya Minhui. Minhui menyentuh Jeki yang tidur di samping nya.
Dia sangat kaget badan Jeki sangat panas sekali. "Jeki... Jeki...." panggil nya. Jeki membuka mata nya.
"Aku sangat lelah, jangan ganggu aku dulu."
Minhui memaksa Jeki bangun dan minum obat, setelah itu dia mengompres nya. Minhui terlihat sangat khawatir sekali melihat Jeki pucat.
Saska yang tidak berhenti menangis karena baru bangun membuat nya pusing.
"Ya ampun kenapa harus sakit sih?" batin Minhui. Sambil menggendong Saska dia juga mengompres Jeki.
Saska main sendiri dia memasak bubur untuk Saska dan juga Jeki.
"Ayo bangun dulu makan," ucap Minhui kepada Jeki.
"Aku tidak berselera makan, kamu saja yang makan sama Saska."
"Tapi kamu harus makan agar cepat sembuh, Saska dari tadi mau sama kamu. kalau sakit seperti ini dia tidak bisa dekat kamu."
Jeki menghela nafas panjang. Dia berusaha untuk duduk.
"Huff pekerjaan di kantor sangat banyak, aku lembur beberapa hari badan ku sangat sakit," ucap Jeki.
Dia menatap Minhui yang menyuapi nya sambil tersenyum. "Kenapa kamu mengurus ku setiap aku sakit? Apa kamu tidak dendam kepada ku yang sudah menyakiti kamu selama ini?"
"Bicara apa sih? konyol sekali, mau bagaimana pun aku tidak ingin anak ku lahir tidak memiliki Ayah."
__ADS_1
Jeki tersenyum. "Kalau bisa memilih dia pasti tidak mau memiliki Ayah seperti ku." ucap Jeki.
"Aku juga kalau bisa memilih, aku tidak ingin mengandung anak dari mu," Ucap Minhui sambil terus menyuapi Jeki.