
Minhui menggeleng kan kepala nya. "Tidak apa-apa, aku sudah tau dari awal kalau kamu tidak akan pernah menganggap anak ini, aku juga tidak akan memaksa mu."
Jeki tidak tau mau mengatakan apa, dia juga bingung kenapa Minhui tidak mau.
"Apakah cara penyampaian ku salah? kenapa dia tidak mau?" tanya Jeki kebingungan.
Jeki mengikuti Minhui ke depan. "Kalau tidak USG kita tidak tau jenis kelamin nya apa, dia sudah berapa Minggu dan apa saja yang kurang sehat."
"Aku tidak mau merepotkan kamu, kamu tidak perlu merasa bertanggung jawab atau memaksa diri untuk menjaga ku karena aku hamil."
Jeki menghela nafas panjang. "Dengar kan aku, terserah apa saja yang kamu katakan tapi kita harus pergi karena aku sudah membuat janji dengan dokter."
"Aku tidak mau!"
"Jangan membuat ku marah, kesempatan ini tidak akan datang dua kali."
Minhui terdiam sejenak. Melihat wajah Jeki membuat nya takut.
"Humm baiklah kalau begitu, Aku akan siap-siap."
Minhui dan Jeki sudah sampai di rumah sakit. Dia duduk menunggu dokter. Jeki melihat di samping mereka ada pasangan suami istri juga yang seperti nya mau memeriksa kandungan nya.
Suami nya tidak berhenti mengajak bayi yang di dalam perut wanita itu berbicara.
Dokter datang, mereka masuk dan langsung di periksa.
Di USG perut Minhui. Jeki sangat fokus melihat ke arah layar isi perut Minhui.
"Apakah itu benar anak ku?" batin Jeki. Ada rasa senang di dalam hati nya.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai, mereka menunggu hasil tes nya.
"Jenis kelamin nya laki-laki," ucap dokter.
Jeki semakin senang sekali mendengar anak nya adalah laki-laki.
Setelah pulang dari rumah sakit, Jeki melihat Minhui hanya diam saja. "Apa kamu mau sesuatu? Kita masih di luar kamu bisa beli apa saja yang kamu mau."
Minhui menggeleng kan kepala nya. "Apa yang kamu pikirkan?"
"Tidak ada."
Jeki menghela nafas panjang. "Kamu tidak suka anak itu laki-laki?"
"Aku sangat suka, aku suka dia laki-laki jadi bisa melindungi ku suatu saat nanti."
"Lalu apa yang kamu pikirkan?"
Minhui menatap Jeki. "Kenapa sih kamu selalu marah? Kenapa kamu tidak mencoba membujuk ku?" tanya Minhui.
Jeki menatap kebingungan. Dia mengingat tadi di rumah.
__ADS_1
Tidak bisa menjawab, mereka memilih langsung pulang saja.
"Rumah ini tidak nyaman untuk mu, aku sudah memutuskan untuk pindah," ucap Jeki.
"Pindah? Kemana?"
"Ke tempat yang sedikit ramai."
"Kenapa?" tanya Minhui.
"Aku akan pulang malam, aku lebih sering tidak di rumah, jadi kamu tidak sendirian."
Di perhatikan seperti itu membuat Minhui sangat senang.
Keesokan harinya..
Vincent bertemu dengan Jeki di salah satu gedung tempat Vincent bertemu dengan klien nya.
"Apa kita bisa berbicara sebentar?" tanya Vincent menahan Jeki.
"Saya sibuk,. tidak ada waktu."
Vincent menghela nafas panjang. "Ini mengenai Sarah dan bayi itu."
Jeki langsung terdiam.
Mereka mencari tempat yang hanya ada mereka berdua di sana.
Suasana sangat tegang, tidak ada pembicaraan di awal, mereka berdua masih saling diam.
Tiba-tiba Jeki menarik baju Vincent dengan sangat kasar.
"Oh jadi kau adalah pria yang di maksud oleh Sarah? Jadi kau yang membuat nya pingsan?" ucap Jeki marah.
"Tenang bro, aku tidak tau akan kejadian seperti itu."
"Aku tidak bermaksud!"
"Satu hal yang harus kau tau, jangan pernah mengganggu adik ku!"
Jeki melepaskan cengkraman nya.
"Aku ingin tau kenapa Sarah bisa masuk ke dalam sana."
"Kau ingin tau? Kau lah penyebab semua nya!"
Vincent menghela nafas panjang. "Aku berbicara dengan baik, aku tidak ingin ada emosi di sini."
"Untuk apa kau bertanya dan mencari Sarah? Bukan kah kau sudah bahagia dengan istri mu?"
"Aku tidak bermaksud mau mengganggu Sarah, aku hanya ingin bertanggung jawab."
__ADS_1
"Tanggung jawab dengan cara seperti apa setelah semua nya sudah seperti ini?"
"Aku akan menjaga Sarah sampai dia sembuh dan aku juga akan membawa anak itu bersama ku dan merawat nya."
Jeki tertawa menatap Vincent. "Apa kau pikir Sarah bisa sembuh? Dia tidak bisa sembuh karena masa lalu nya selalu menghantui nya."
"Dia bertemu dengan cinta pertama nya dan merenggut kesucian nya, setelah itu pria itu meninggal kan nya Tampa alasan dan setelah itu dia depresi sehingga tidak sadar kalau dia hamil."
"Semua orang tau dia hamil di luar nikah, dia di bully, orang tua ku mengusir nya dan tidak ada satu pun yang perduli kepada nya dia sendirian. Dia berusaha mencari pria berengsek itu tapi tidak bisa."
"Hanya aku, aku lah yang menemukan nya pertama kali melahirkan sendiri, keadaan nya sangat buruk sekali dan anak itu hampir saja di bunuh oleh nya."
Mendengar itu Vincent merasa sangat tertampar sekali dia merasa dia pria yang sangat jahat sekali.
"Aku berjanji akan menjaga nya dan bertanggung jawab dengan anak itu."
"Sekarang beri tau di mana anak itu, aku ingin bertemu dengan nya."
"Tidak semudah itu," ucap Jeki.
"Aku mohon, aku ingin bertemu dan memastikan anak itu adalah anak ku."
"Karena pada saat itu, aku mabuk, aku tidak menyadari kalau aku melakukan nya dengan Sarah atau tidak, keesokan harinya aku melihat Sarah sudah tidur di samping ku."
"Kalau aku tau Sarah hamil pada saat itu mungkin aku tidak akan meninggalkan nya, aku pasti akan bertanggung jawab."
"Kenapa kau meninggalkan nya?" tanya Jeki.
Vincent terdiam sejenak.
"Katakan! Apa yang membuat mu meninggal kan nya!"
Jeki menghela nafas panjang. "Tidak perlu menjawab nya, jelas kan langsung kepada Sarah."
"Aku akan mempertemukan mu dengan anak itu."
Jeki dan Vincent berangkat ke sesuatu tempat. Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah yayasan yang terlihat sangat sederhana.
Vincent di bawa masuk ke dalam.
Jeki menunjuk ke arah anak yang sedang di suapin makan oleh suster yang bekerja di sana di pekerjaan khusus menjaga anak itu.
Vincent langsung merinding dan merasakan perasaan yang tidak karuan ketika melihat anak laki-laki yang sangat mirip dengan nya.
Vincent dan Jeki duduk di depan bersama pengurus yayasan menunggu anak itu selesai mandi.
Tidak beberapa lama akhirnya dia datang, suara nya sudah terdengar.
"Saska.. Sini nak," ucap ketua yayasan.
"Ta.. Tah.. Tah...," sambil belajar berjalan dia mendekati ketua yayasan namun dia terjatuh tidak jatuh dari kaki Vincent.
__ADS_1
Vincent langsung mengangkat nya. "Papah... Papah..." anak itu menatap wajah Vincent.
"Anak ini.. Aku bisa merasakan ikatan batin dengan nya," batin Vincent.