
"Jangan lebay deh, aku baik-baik saja," Ucap Kania.
"Tidak mungkin, aku yakin selama dua malam ini pak Vincent menghajar kamu!"
"Huff Kalian semua jangan ngaco deh," ucap Kania dengan sangat kesal sekali.
"Kamu baru selesai masak?" tanya Ulfa.
"Iyah, ini untuk kalian semua."
"Ya ampun kamu baik banget sih, kami juga membawa banyak buah-buahan, vitamin, susu dan juga banyak yang lain nya."
Kania hanya bisa menghela nafas panjang melihat kelakuan teman-teman nya itu.
Sampai Sore mereka di sana menemani Kania, sebenarnya mereka sangat betah, namun mendengar Vincent sudah dekat rumah mereka semua bergegas mau pulang.
Mobil Vincent terparkir di halaman rumah mereka langsung keluar dari dalam rumah dan meninggalkan rumah itu sebelum Vincent keluar dari dalam mobil nya.
Vincent keluar dia melihat teman-teman Kania pergi buru-buru. Mereka menggunakan mobil dua karena cukup ramai tidak muat dalam satu mobil.
"Cepat juga teman-teman kamu pulang," ucap Vincent. Kania mengangguk sambil tersenyum. Dia menyalim tangan suami nya.
"Apa kamu merindukan saya?" tanya Vincent, Kania langsung memeluk Vincent.
"Saya membawa makanan untuk kamu," ucap Vincent.
Kania melihat bawaan Vincent.
"Mana yang aku titip?" tanya Kania.
Vincent menggeleng kan kepala nya. "Saya tidak membeli nya karena saya tidak memiliki waktu untuk ke tempat itu."
Kania terdiam sejenak, dia melihat wajah Vincent.
"Mas Vincent malu yah?" tanya Kania.
Vincent tidak menjawab dia langsung membawa Kania masuk ke dalam karena sudah mau magrib.
Tomi setelah selesai bekerja dia langsung mencari Fani ke apartemen nya.
"Fani! Fani?" panggil nya sambil mengetuk pintu apartemen Fani.
Dia tidak berhenti mengetuk pintu apartemen Fani. Namun sudah sepuluh Menit pintu tidak ada yang membuka untuk nya.
"Kemana dia? Kenapa tidak ada di apartemen nya?" batin Tomi.
Sementara Fani ada di dalam, namun dia berpura-pura tidak mendengar agar Tomi berfikir dia tidak ada didalam.
Namun ternyata Tomi tak kunjung pergi, dia terus mengetuk pintu dan memencet bel sampai Fani yang kurang enak badan terganggu kepalanya semakin pusing mendengar suara itu.
Akhirnya dia membuka pintu dan melihat Tomi di balik pintu. "Kenapa kamu baru membuka pintu? apa kamu tidak mendengar dari tadi aku Panggil kamu?" tanya Tomi.
__ADS_1
"Aku tidak mendengar nya, aku tidur," ucap Fani.
Tomi melihat Fani yang sangat pucat dan juga memakai baju tebal.
"Apa kamu masih kurang enak badan?" tanya Tomi.
"Katakan saja apa maksud kamu datang ke sini, aku mau lanjut istirahat," ucap Fani.
Tomi mengeluarkan surat pengunduran Fani.
"Apa maksud kamu dengan memberikan surat pengunduran diri seperti ini? Apa kamu lupa posisi kamu apa dan tanggung jawab kamu apa?* tanya Tomi.
"Aku akan menyelesaikan proyek ku, dan setelah itu aku akan berhenti."
"Tidak bisa! Pak Vincent akan marah."
"Aku tidak perduli," Ucap Fani mau masuk ke dalam namun di tahan oleh Tomi.
"Kita belum selesai berbicara."
"Tidak ada yang mau di bicarakan lagi,"
"Aku minta maaf Soal sikap aku pada malam itu," ucap Tomi.
Fani mengabaikan nya. "Aku minta maaf, kalau kamu tidak memaafkan aku, aku tidak akan pergi dari sini."
Fani menghela nafas panjang.
"Aku sudah capek minta maaf sama kamu, namun kamu tidak pernah mau memaafkan aku, dan sekarang kamu memaksa aku memaafkan kamu setelah kamu membuat aku sedih, malu."
"Aku tau aku salah, aku sudah memaafkan kamu, aku juga minta maaf. Aku ingin kita balikan."
Tania terdiam sejenak sambil memikirkan permintaan Tomi.
"Kamu mau kan memaafkan aku."
Fani tidak mengatakan apapun tapi dia langsung memeluk Tomi.
"Bagaimana bisa aku tidak memaafkan kamu, aku sudah berjuang berbulan-bulan untuk minta maaf."
Tomi tersenyum dia membalas pelukan Fani.
"Sekarang kita sudah baikan?" tanya Tomi.
"Bukan hanya baikan, kita juga balikan," ucap Fani.
Tomi tersenyum. "Badan kamu panas banget, apa kamu sudah berobat?" tanya Tomi.
"Aku tidak bisa keluar, aku sama sekali belum bisa keluar dari apartemen untuk membeli obat."
"Jadi kamu belum makan obat sama sekali?" tanya Tomi. Fani menggeleng kan kepala nya.
__ADS_1
Tomi sangat merasa bersalah, dia langsung membawa Fani ke dalam kamar, dia keluar sebentar mencari obat.
Tidak beberapa lama pulang membawa obat dan juga makanan.
Dia meminta Fani makan terlebih dahulu dan setelah itu minum obat.
Tomi juga membuka buah. Tidak beberapa lama akhirnya Fani mulai ngantuk karena pengaruh obat dan perut nya kenyang.
Tidak beberapa lama akhirnya dia tidur. Tomi menyelimuti nya.
Tidak sengaja dia melihat bunga yang ada di pernikahan Kania dan Vincent ternyata masih di simpan oleh nya.
"Maafin aku yah, ternyata ego ku sangat tinggi sehingga aku tidak tau kalau kamu tersakiti oleh ku," ucap Tomi.
Di rumah Kania, dia sedang bersih-bersih kamar sementara Vincent sedang di ruangan kerja nya.
Kania membuka laptop nya melihat-lihat tentang nilai nya.
Dan ternyata nilai nya cukup bagus dia sangat senang sekali. Akhirnya dia bisa tidur dengan nyenyak.
Tidak beberapa lama Vincent masuk ke dalam kamar, Kania langsung menutupi tubuh nya.
Vincent terlihat sangat lelah, Kania berharap Vincent langsung tidur saja.
"Kenapa kamu belum tidur istri ku?" tanya Vincent naik ke kasur dan menatap Kania cukup dekat membuat Kania gugup.
"Aku belum ngantuk, kalau mas mau tidur, tidur saja dulu."
"Apa kamu tidak berniat untuk melanjutkan Yd yang tadi malam?" tanya Vincent. Kania langsung menutupi dadanya dengan selimut.
"Tidak baik menolak permintaan suami," ucap Vincent. Kania tidak bisa berkutik. Vincent tersenyum dia menutup laptop Kania meletakkan di atas meja.
Vincent mencium punggung tangan Kania.
"Kamu sangat wangi sekali, apa kamu sengaja luluran hari ini?" tanya Vincent.
"Saya sangat suka Wangi kamu."
Kania tiba-tiba mendorong Vincent bersandar di sandaran kasur. Vincent cukup kaget namun dia tetap tersenyum.
Kania mencium bibir Vincent. Namun Vincent merasa Kania kurang lihat dia membaringkan badan Kania di kasur.
"Tunggu dulu mas," ucap Kania. "Ada apa?" tanyakan Vincent.
"Matikan lampu nya dulu, aku sangat malu."
Vincent tersenyum dia mematikan lampu menggunakan tangan nya karena tidak jauh dari nya.
Setelah itu dia melanjutkan aktivitas nya itu.
Vincent sangat lembut membelai badan Kania.
__ADS_1
Siapa yang tidak akan nyaman di belay seperti itu, dan diperlakukan sangat lembut. Kania tidak percaya dengan kata-kata Teman nya.