
"Ya sudah kalau begitu kamu juga pulang lah, saya sudah memesan taksi, saya akan membawa Kania."
Ulfa mengangguk.
"Paman datang menjemput aku? aku sangat merindukan paman, Paman tau sudah satu Minggu kita tidak saling berbicara, hubungan apa yang serumit ini?" tanya Kania antara sadar dan tidak sadar.
"Kania mabuk?" Yuda membuat Ulfa kaget.
"Kamu sudah tau, kenapa bertanya?"
Yuda menghela nafas panjang.
"Kamu pulang pakai apa? Aku anterin yah." ucap Yuda.
"Aku bisa pulang sendiri."
"Ayo masuk ke dalam mobil."
Yuda menarik tangan Ulfa ke dalam mobil nya.
"Yuda lepas aku! kenapa kamu memaksa aku?" tanya Ulfa dengan sangat kesal.
Yuda tidak mengatakan apapun, mereka melewati taksi yang sudah di pesan oleh Vincent tadi.
Vincent melihat Kania.
"Kenapa kamu minum? Kamu tau kan kalau Omah sama Opah di rumah! Bagaimana kalau mereka tau kamu mabuk seperti ini?" tanya Vincent.
Kania menatap Vincent sambil tersenyum, dia memerhatikan Vincent yang fokus menyetir.
"Kania selagi Omah dan Opah juga mami kamu tidak boleh seperti ini."
"Kenapa? Aku tidak takut kalau di benci, aku anak yang selalu membuat beban orang lain termasuk paman!" ucap Kania.
Vincent menghela nafas panjang.
"Baiklah Kania paman tau kalau kamu kesepian, tapi paman harus berjuang agar hubungan kita tidak sia-sia."
Kania diam.
"Kamu harus sabar sampai hubungan kita kembali membaik."
"Tidak akan pernah paman! Hubungan kita tidak akan mungkin membaik dalam hal apapun itu karena Bu Mona sangat membenci ku."
Vincent menghela nafas panjang, dia menatap wajah Kania.
"Apa kamu tidak percaya kepada saya?" tanya Vincent.
Kania langsung terdiam.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah. Untung saja keadaan rumah sangat sepi, semua orang sudah tidur dia menggendong Kania ke dalam kamar.
Vincent membaringkan badan Kania di tempat tidur, namu Kania menahan leher Vincent.
"Aku sangat merindukan paman," ucap Kania menatap wajah Vincent.
Vincent menatap wajah Kania.
"Kita memang satu rumah namun Bu Mona tidak membiarkan aku bertemu dan berbicara dengan paman. Aku sangat takut," ucap Kania.
Vincent mengelus kepala Kania menghapus air mata Kania.
__ADS_1
"Saya akan terus menjadi milik mu Kania, saya hanya perlu berjuang sedikit lagi agar perusahaan itu kembali ke tangan saya."
Kania menggeleng kan kepala nya.
"Paman aku tidak mau kehilangan paman."
"Saya juga tidak mau kehilangan kamu Kania. saya sangat mencintai kamu."
Vincent mencium bibir Kania.
Kania membalas ciuman Vincent.
Dalam keadaan mabuk badan Kania sangat panas dia membuka baju nya membuat Vincent kaget.
"Kania.. Kania jangan seperti ini." ucap Vincent.
"Paman aku tidak bisa menahan nya lagi," Kania duduk di pangkuan Vincent.
"Kania kamu sadar lah."
Namun Kania sama sekali tidak mau berhenti, Vincent langsung menutup pintu dan mematikan lampu.
"Baiklah kalau ini yang kamu mau."
Vincent membalas perlakuan Kania, dan Kania sangat agresif membuat Vincent takut kalau mereka akan melewati batas.
Keesokan paginya...
"Good morning cantik..." sapa Vincent yang tidur di samping Kania.
Kania bergeliat dia membuka mata nya dia melihat dia tidur di lengan Vincent dan tangan nya di dada Vincent.
"Pagi..." ucap Kania dengan suara serak. Vincent tersenyum dia mencium bibir Kania dengan singkat.
Kania menghela nafas panjang dia duduk.
"Jangan membahas itu paman, aku sangat malu."
Vincent tersenyum dia memeluk Kania dari belakang.
"Ini sudah jam enam pagi, sebaiknya kamu bantu Omah dan Opah siap-siap, saya akan mandi."
"Apa Omah dan Opah benar-benar akan pulang?" tanya Kania.
"Mereka harus mengurus pekerjaan mereka yang ada sana juga sayang, kalau nanti sudah ada waktu senggang mereka akan datang lagi."
Vincent mengelus rambut Kania menatap nya dengan tatapan penuh kasih.
"Tadi malam kamu sungguh agresif sekali membuat saya takut."
"Paman... aku sudah bilang jangan membahas tentang itu."
Vincent melihat Kania malu dia jadi gemas sendiri.
Tidak beberapa lama Kania dan Omah sudah siap merapikan pakaian.
"Omah kapan lagi akan datang ke sini? aku pasti sangat merindukan Omah dan Opah."
"Nanti kalau urusan Omah sama Opah selesai kami akan datang berkunjung ke sini lagi melihat cucu Omah yang sangat cantik ini."
Kania memeluk mereka berdua.
__ADS_1
"Bu Mona saya titip Cucu saya yah."
"Dia sudah besar, kenapa harus di titip seperti anak kecil?" ucap Bu Mona.
"Kami hanya ingin Bu Mona melihat Kania di sini, karena Vincent pasti sibuk dengan pekerjaan nya sendiri tidak sempat untuk melihat Kania.
"Jangan manja deh, sudah besar, kalian juga tidak boleh terlalu memanjakan dia."
"Iyah omah, benar kata Bu Mona aku sudah dewasa, aku juga bisa jaga diri baik-baik, aku tidak mau mengganggu Paman lagi agar dia fokus bekerja."
"Nah gitu dong."
Kania terdiam.
"Baiklah kalau begitu sebaiknya kita berangkat sekarang, nanti ketinggalan pedas."
Vincent melihat Kania sepanjang jalan hanya diam saja. Vincent sangat tidak tega melihat Kania benar-benar harus menjadi dewasa sekali karena orang tua nya itu.
"Sudah jangan sedih sayang, nanti setelah ini saya akan membaca kamu jalan-jalan ke mall mumpung masih hari libur." Vincent berusaha menghibur Kania yang sangat sedih.
"Janji?" tanya Kania.. Vincent tersenyum sambil mengangguk.
"Kalau gitu senyum dong."
Kania langsung tersenyum.
Di siang hari nya Kania kembali ke rumah bersama Vincent, bersama Bu Mona juga.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai. Bu Mona menahan Vincent sebelum masuk ke dalam.
"Vincent apa hari ini kamu bisa nganterin mami keluar?"
"Mau kemana mih?"
"Mami mau ketemu sama teman-teman mami di sini, kamu temanin mami, sekalian mami juga mau ngenalin kamu ke anak teman-teman mami."
"Tapi aku sudah ada janji dengan Kania Mih."
"Mami sangat jarang di sini, mami juga jarang minta bantuan kamu, pokoknya mamih mau kamu ikut sama mami.
Vincent menoleh ke arah Kania yang meminta nya juga pergi.
"Baiklah lah Mih."
Vincent menyusul Kania ke kamar.
Dia memeluk Kania dari belakang.
"Maafin saya yah tidak bisa menepati janji mau ngajakin kamu keluar hari ini."
Kania berbalik dia menatap Vincent.
"Sudah saatnya paman menemani Bu Mona mumpung dia masih di Sini, aku gak apa-apa kok, aku bisa pergi sama Ulfa."
"Kamu gak marah kan?"
Kania menggeleng kan kepala nya.
Setelah itu Vincent pun pergi bersama Bu Mona.
"Kania!!!!! Kania!!! Ulfa baru saja tiba setelah beberapa menit Vincent dan Bu Mona pergi.
__ADS_1
"Kok sepi banget sih? dia yang minta aku datang, dia nya malah gak ada di rumah," ucap Ulfa.