Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 237


__ADS_3

Arka langsung membuat minuman jus untuk Mamah nya.


"Ayo minum dulu mah, jangan sampai mamah kenapa-napa, mamah Santai saja , semua pekerjaan rumah akan beres dengan ku," ucap Arka.


"Baiklah nak, terimakasih banyak yah sudah mau membantu mamah, mamah sangat berterima kasih sekali," ucap Kania.


"Jangan terlalu lebay mah, ini sudah jam biasa," ucap Arka.


"Tapi tetap saja mamah sangat bahagia dan terharu memiliki anak seperti kamu yang sayang kepada orang tua."


"Humm mamah kalau lagi baik saja selalu saja berbicara manis, coba kalau lagi tidak baik, semua nya pasti serba salah," ucap Arka.


"Namanya nya sudah ibu-ibu nak," ucap Kania.


Arka menghela nafas panjang. "Aku sangat sangat berkeringat, aku mau mandi dulu yah Mah," ucap Arka.


Arka pergi meninggalkan mamah nya. Sementara Kania berbaring.


Vincent dan Saska baru saja pulang jam lima sore. "akhirnya papah dan kakak sudah pulang," ucap Arka yang sudah menunggu dari tadi.


"Emangnya ada apa?" tanya Vincent. "Ini adalah berita yang sangat mengejutkan, sebaiknya kita masuk dulu Pah."


"Berita apa nak? kamu jangan membuat orang tua panik seperti ini," ucap Vincent.


"Mamah Pah, Mamah..."


"Mamah kenapa Arka?" tanya Saska. Mereka tidak sabar menunggu penjelasan dari Arka akhirnya mereka langsung pergi masuk ke dalam.


"Mamah... Mamah kenapa?" tanya Saska.


"Emang nya Mamah kenapa?" tanya Kania.


"Kata Arka Mamah ada berita. Aku berfikir mamah kenapa-napa," ucap Saska.


"Tidak apa-apa kok, Mamah baik-baik saja." Saska langsung menatap adiknya dengan tatapan tajam.


"Maksud aku tidak seperti itu," ucap Arka.


"Apa yang kamu maksud?" tanya Saska.


"Mamah hamil kak, aku cuma mau bilang itu saja, namun papah sama kakak terlalu gegabah."


"Hanya itu saja? Hanya mau mengatakan itu sampai membuat kami panik?" tanya Saska.


"Iyah kak, aku tidak bermaksud apa-apa," ucap Arka.


"Eh tunggu, mamah hamil?" tanya Saska kaget. Sudah kaget tambah kaget.

__ADS_1


"Mamah lagi hamil?" tanya Vincent lagi. Kania mengangguk.


"Ya Allah, Alhamdulillah," ucap Vincent langsung memeluk istrinya.


Saska hanya diam saja, tidak mengatakan apapun, tidak ada yang tau apa yang dia pikirkan tapi dia terlihat sangat kebingungan sekali.


"Saska.. kenapa kamu diam saja?" tanya Kania.


"Gak apa-apa kok," ucap Saska.


"Kamu gak seneng mau punya adik bayi?" tanya Kania.


"Bukan seperti itu mah, tapi mamah sudah tidak muda lagi, apa Mamah kuat?" tanya Saska.


"Insyaallah pasti kuat nak, ini rejeki dari tuhan," ucap Kania.


Saska mengangguk. "Ya udah kalau begitu, mulai dari sekarang mamah tidak boleh melakukan pekerjaan yang berat-berat dan harus istirahat saja," ucap Saska.


"Baiklah nak, terimakasih sudah perhatian sama mamah yah," ucap Kania.


"Iyah Mah, pokoknya apapun yang mamah mau katakan saja yah," ucap Saska.


Kania mengangguk sambil tersenyum.


"Aku ke kamar dulu yah mah," ucap Saska. Arka langsung mengikuti kakak nya ke kamar.


"Apa kakak tidak senang mamah hamil lagi?" tanya Arka.


Saska menoleh ke arah Arka. Tiba-tiba saja mereka berdua sama menghela nafas panjang.


"Kalau laki-laki lagi, sebaiknya kita tidur perlu punya adik, aku hanya ingin punya adik perempuan, punya kamu saja sudah membuat kepala pusing, sangat nakal sekali," ucap Saska.


"huff, kakak berbicara selalu saja meledek ku seperti itu, aku nakal karena masih remaja, nanti kalau sudah seumuran kakak, pasti sangat dewasa," ucap Arka.


"Huff, kalau tidak bagaimana?" tanya Saska. "Yahh belajar lagi aja," ucap Arka.


Saska menghela nafas panjang. "Eh dua hari ini mood kakak terlihat jauh lebih baik, apa sudah baikan dengan Shela?" tanya Arka.


"Kami tidak berantem, hanya saja ada seseorang yang membuat hubungan kami jadi retak seperti ini.


"Huff, benar-benar tu orang, kalau boleh tau siapa?" tanya Arka. "Kamu sangat kepo sekali, tapi kalau tidak di kasih tau kamu pasti sangat kepo!" ucap Saska.


"Maka nya ngomong, siapa yang melakukan hal seperti itu?" tanya Arka.


"Tina," jawab Saska. "Jangan bercanda deh kak, mana mungkin kak Tina melakukan hal seperti itu."


"Dia menyukai ku, sudah banyak teman perempuan yang dekat dengan kakak sebelum nya di lakukan seperti itu," ucap Saska.

__ADS_1


"Benar-benar kak Tina, pantesan saja aku melihat dia aneh banget, namun aku berusaha untuk positif dan tidak terlalu memikirkan nya."


"Jadi kakak lebih memilih pertemanan kakak apa hubungan kakak dengan Shela?" tanya Arka.


"Kalau kakak memilih pertemanan, sama saja akan hancur seperti ini karena sudah melibatkan perasaan," ucap Saska.


"Benar juga sih, tapi selama ini hanya dia yang menjadi teman akrab kakak,"


"Kakak mau kehilangan dia, karena dia yang membuat kesalahan. Kakak tidak takut kehilangan teman."


"Bagus deh kalau begitu, aku juga mendukung kakak kalau begitu," ucap Arka.


Di kamar Vincent. "Sayang... Terimakasih yah sudah mau hamil lagi, aku sama sekali tidak tau kamu akan hamil seperti ini," ucap Yana.


"Huff, apa kamu lupa kalau kamu sengaja melakukan nya agar aku hamil kan?" tanya Kania. Hanya mereka berdua yang mengerti dengan pembicaraan itu.


Keesokan harinya...


"Apa yang kamu lakukan sayang?" tanya Jeki kepada Minhui.


"Ini, aku sedang memasak sup untuk sarapan kita," ucap Minhui. "Ya ampun... kenapa harus susah-susah sih, kenapa tidak beli saja?"


"Gak apa-apa, aku sudah lama tidak masak, jadi pengen masak," ucap Minhui.


"Adek sama siapa?"


"Biasa, lagi sama kakaknya lagi main."


"Mau aku bantuin gak?" tanya Jeki. "Gak usah, sebaik nya kamu siap-siap saja ke kantor, nanti kalau sudah selesai baru keluar untuk sarapan dan ini pasti sudah masak."


"Baiklah sayang kalau begitu," ucap Jeki. Jeki kembali ke kamar dan segera siap-siap. Dia tidak akan membiarkan istrinya kerepotan mengurus nya setelah selesai masak.


Shela menemani adik nya main, namun tiba-tiba ada notifikasi dari Saska.


"Aku berangkat kerja yah, oh iya, nanti siang kamu bisa temanin aku makan siang kan?" tanya Saska.


"Tidak perlu makan di luar, aku akan masak dan nganterin ke kantor kamu," ucap Shela.


Saska yang membaca itu sangat senang sekali, dia bingung harus ngomong apa, tapi itu seperti membaca chat dalam mimpi.


"Iyah, baiklah, kabarin aku kalau kamu sudah sampai."


Shela meletakan kembali handphone dan mengajak adiknya bermain. Shela tidak berhenti tersenyum.


Namun dia kebingungan mau masak apa nanti nya untuk pacar nya agar lebih enak dan istimewa.


Dia cukup pintar masak, jadi tidak pusing memikirkan bagaimana masak, dia hanya bingung mau masak apa.

__ADS_1


__ADS_2