
Minhui menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak mau mereka mengusir ku lagi, aku sangat takut," ucap Minhui karena sebelumnya Minhui pernah datang namun di usir membuat nya sangat sedih.
"Lalu kamu mau nya bagaimana?" tanya Jeki. Minhui menggeleng kan kepala nya, dia sangat bingung.
Di sisi lain dia sangat khawatir dan merindukan kedua orang tua nya, namun dia juga takut kejadian yang sama terulang kembali.
"Sudah, jangan terlalu memikirkan hal itu, sekarang kamu fokus sama diri kamu dan keluarga kita," ucap Jeki.
Jeki langsung memeluk Minhui. "Kamu tidak perlu ragu kalau mau menjenguk mereka," ucap Jeki.
Minhui mengangguk. Tiba-tiba Laura merengek dengan cepat Jeki langsung mengangkat dan menenangkan Laura.
Minhui berbaring di samping suami nya. "Oh iya, humm apa menurut kamu sebaiknya kita putuskan saja perjodohan Shela dengan Arka?" tanya Jeki kepada istrinya.
"Loh kenapa?" tanya Minhui.
"Tidak apa-apa, hanya saja aku tidak mau membuat Shela kefikiran dan terikat karena perjodohan ini."
"Bukan kah ini sebelumnya sudah di bicarakan? Kita sudah setuju sampai mereka kuliah bebas berhubungan dengan siapapun. Tapi setelah mereka dewasa mereka bisa memilih jangan memutuskan seperti ini," ucap Minhui.
"Baiklah kalau begitu sayang," ucap Jeki.
"Aku hanya kefikiran anak kita, aku tidak ingin dia tertekan karena ini."
"Shela tidak mungkin tertekan, kita juga tidak memaksa nya," ucap Minhui.
"Baiklah-baiklah kalau begitu, aku ikut keputusan kamu saja, kamu tau yang terbaik untuk anak kita."
Beberapa hari kemudian.. Saska sudah selesai perpisahan.
Dan hari ini mereka memutuskan untuk pergi jalan-jalan sebagai perpisahan dengan teman sekelas.
Sebelum Saska berangkat, Shela menyempatkan diri untuk menemui nya di halte.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Saska karena kaget ada Shela di halte.
"Aku baru saja pulang dari sekolah," ucap Shela.
"Aku ingin melihat kakak pergi," ucap Shela.
"Kamu jangan sedih dong, hanya satu Minggu saja tidak lah lama," ucap Saska.
"Enggak, aku gak sedih kok."
"Humm , kelihatan jelas kalau kamu terlihat sangat sedih, kamu mencoba membohongi aku," ucap Saska.
Shela hanya tersenyum. "Aku harus masuk ke dalam, kamu langsung pulang yah," ucap Saska.
Saska adalah panitia nya jadi dia tidak bisa lama-lama berbicara dengan Shela dia segera berpamitan dan pergi.
__ADS_1
Shela melambaikan tangan nya. "Hufff, aku tinggal lagi, rasa nya begitu sedih sekali," ucap Shela.
"Ayo non kit pulang, ibu dari tadi nelpon," ucap supir.
"Mamah kenapa sih akhir-akhir ini posesif banget, gak bolehkan telat pulang, harus kabarin, dan apa-apa harus ngomong."
"Huff, aneh sekali padahal biasanya tidak pernah seperti itu," batin Shela.
Namun saat mau pergi dia tidak sengaja melihat Arka datang entah dari mana.
"Loh, kok kamu di sini?" tanya Shela.
"Nganterin kak Saska, kamu sendiri ngapain?"
"Pasti mau lihat kak Saska kan?" ucap Arka.
Shela mengangguk. "Oh iya, hari ini Mamah mau kamu ke rumah, kamu ikut dengan ku saja," ucap Arka.
Shela melihat motor Arka. Dia mengingat lagi ketika Arka membonceng nya.
"Aku naik mobil saja," ucap Shela.
"Aku tidak akan ugal-ugalan lagi, kamu bisa naik motor dengan ku agar lebih cepat."
"Gak mau!" Shela langsung masuk ke dalam mobil.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah Kania.
"Maaf Tante, aku baru saja selesai ujian jadi kemarin sangat sibuk."
"Ya sudah kalau begitu, kamu mau kan malam ini nginap di sini, Tante akan ngomong sama mamah kamu."
Shela mengangguk, karena dia juga sangat senang bisa menginap di sana apa lagi kalau ada Saska.
"Humm seandainya saja Mita dan mamah sangat akrab seperti itu," batin Arka.
Di malam hari nya... Shela meminjam baju Kania yang terlihat sangat pas di badan nya.
Dia membantu Kania memasak di dapur untuk makan malam. Arka datang ke dapur dan mengambil foto mereka diam-diam.
"Apa yang kamu lakukan Arka?" tanya Shela kesal karena ketahuan. Arka hanya tertawa saja melihat nya.
Ternyata dia mengirimkan foto itu ke handphone Saska. "Seandainya ada Mita akan jauh lebih menyenangkan," ucap Arka dalam hati.
Sementara Saska baru saja sampai malam hari di hotel tempat mereka liburan.
karena sudah lelah di perjalanan dia membaringkan tubuhnya sambil memeriksa handphone nya. Dia melihat foto Shela yang ternyata memakai dress yang pernah di pilih Saska untuk Kania.
"Dia sangat cantik sekali, huff sayang nya hanya Arka yang bisa melihat kecantikan nya secara nyata," ucap Saska.
__ADS_1
"Tunggu, apa dia masak untuk makan malam Arka? huff," belum apa-apa saja dia sudah sangat cemburu sekali.
"Apakah masak dengan Tante menyenangkan?" tanya Kania.
"Sangat menyenangkan Tante, karena setiap di rumah aku tidak ada teman masak, mamah tidak bisa karena ngurus Laura."
Kania tersenyum. Di malam hari nya Kania masuk ke dalam kamar dan istirahat. Dia menelpon Saska.
"Halo?"
"Halo! Apa kakak sudah tidur?" tanya Shela.
"Belum, kami Baru saja selesai kegiatan di luar, jadi baru masuk ke dalam kamar."
"Pasti sangat menyenangkan bukan di sana?" tanya Shela.
"Humm, cukup menyenangkan." ucap Saska.
"Aku sangat merindukan kakak," ucap Shela. Saska tersenyum. "Baru satu hari, bagaimana dengan berhari-hari?" tanya Saska.
Shela memasang wajah cemberut. "Aku yakin kamu pasti sedang memasang wajah imut bukan?" tanya Saska.
"Apa malam ini kamu tidur di rumah?" tanya Saska.
"Iyahh, tapi terasa sepi karena kakak tidak ada," ucap Shela.
"Apa kamu mau sesuatu agar kamu tidak merindukan aku?" tanya Saska.
"Seperti nya tidak akan ada, karena aku mau kakak di sini."
"Yakin gak mau?" tanya Saska. "Ya udah deh, dari pada aku tidak bisa tidur."
"Kamu masuk saja ke kamar ku, kamu bisa tidur di sana," ucap Saska.
"Gak mau, nanti Tante sama Om tau, mereka malah berfikir yang aneh-aneh."
"Tidak mungkin mereka tau, mereka tidak akan naik ke lantai atas."
"Aku tidak tau password nya," ucap Shela.
Saska memberikan sandi pintu dan Shela segera masuk.
Setelah masuk dia sangat kaget karena sangat rapi, bersih dan seluruh ruangan berbau badan Saska yang membuat Shela jatuh cinta dan sangat nyaman.
Di tambah lagi ternyata sangat banyak foto-foto nya di dinding.
"Apa kamu nyaman di sana?" tanya Saska.
"Kamu kamu jauh lebih cantik dan rapi dari pada kamar ku," ucap Shela. Saska tersenyum.
__ADS_1
"Kamu bisa tidur di sana malam ini, setelah kamu pergi jangan lupa rapikan kembali," ucap Saska.