
"Kamu hanya sakit saja, setelah semua nya sembuh kamu akan keluar dari sini dan bertemu dengan anak kamu."
Sarah menatap wajah Jeki. "Aku sama sekali tidak ingat kejadian beberapa bulan yang lalu, seperti nya aku merasakan sesuatu yang terjadi," ucap Sarah.
"Tidak perlu terlalu di pikirkan, sekarang kamu harus sembuh demi kakak dan juga anak kamu."
"Sudah berapa lama aku melahirkan kak? Kenapa tidak ada terasa apa-apa sekarang? apa anak ku sudah besar? atau dia masih bayi?"
"Kenapa Sarah bertanya ini sekarang? Apa dia tidak bertanya kepada Vincent," batin Jeki.
"Anak kamu sudah umur satu tahun, dia tumbuh menjadi anak yang sangat tampan dan juga pintar, dia juga tidak rewel dan sangat baik sekali," ucap Jeki.
Sampai malam Jeki di sana menemani Sarah. Dia sangat senang melihat kondisi Sarah yang benar-benar jauh lebih baik sekarang.
Hanya saja terasa sangat asing karena Sarah lupa ingatan, Jeki tidak tau bagaimana berkomunikasi dengan Sarah, dia harus menjaga kata-kata nya.
Tidak beberapa lama Fadil datang. Jeki kaget karena Fadil tidak masuk melainkan hanya duduk di luar ruangan saja.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Apa kau tidak masuk?" tanya Jeki.
"Aku mendengar kalian sangat enak berbicara, aku tidak ingin mengganggu."
"Kebetulan sekali kita bertemu di sini Fadil," ucap Jeki.
"Iyah, kenapa kak?"
Jeki mengajak Fadil jauh dari sana.
Di rumah Minhui kewalahan menghadapi Saska yang tidak berhenti menangis karena petir yang sangat kuat.
"Seperti nya mau hujan," ucap Minhui, dia juga sangat takut di tambah lagi lampu terkadang mati.
Saska sangat takut suara besar dan gelap. Dia tidak mau turun dari gendongan Minhui sambil menangis.
"Apa Jeki masih lama pulang?" batin Minhui. Dia berharap seseorang datang menemani mereka.
Di rumah sakit Jeki baru saja selesai berbicara dengan Fadil mengenai hubungan Fadil dengan Sarah langsung segera pulang melihat cuaca yang buruk.
Jeki meminta Fadil untuk tidak berkecil hati, atau sedih melihat Sarah yang sekarang melupakan pengorbanan diri nya, dan melupakan hubungan mereka.
Jeki yakin kalau Fadil adalah orang yang bisa melindungi adik nya, itu sebabnya dia ingin Fadil terus berada di samping adik nya itu.
"Mau bagaimana pun kamu harus bersabar dan terus bersama Sarah, karena aku yakin suatu saat nanti Sarah akan mengingat kamu," ucap Jeki kepada Fadil.
Kata-kata itu selalu terngiang-ngiang di kepala Fadil dari tadi.
Tidak beberapa lama akhirnya Jeki sampai di rumah, dia heran kenapa mati lampu dan rumah nya sangat gelap, hujan sudah turun saat di tengah jalan tadi.
Dia membawa mobil dengan kecepatan tinggi karena memikirkan Minhui dan Saska di rumah.
__ADS_1
Setelah sampai dia semakin syok melihat rumah yang gelap.
Dari luar dia mendengar suara teriakan Saska, tangisan nya yang sangat kuat sekali.
"Minhui...." panggil nya, dia melihat ke kamar.
"Jeki..." ucap Minhui langsung mendekati Jeki. Jeki memeluk mereka.
"Jangan takut, itu hanya hujan, lampu nya bentar lagi pasti hidup," Minhui sudah bergemetar karena takut di tambah lagi Saska yang membuat nya lelah.
Jeki menenangkan Saska. Setelah Jeki datang mereka berdua mulai tenang. Jeki memangku Saska sampai akhirnya ketiduran.
Minhui juga ketiduran sambil bersandar di pundak Jeki.
Jeki membenarkan tidur mereka terlebih dahulu, setelah itu dia memeriksa lampu keluar.
Lampu seperti nya masih lama hidup, dia menghidupkan mesin untuk sementara.
Dia kembali ke kamar melihat Saska dan Minhui terbangun mungkin kaget melihat lampu hidup.
Jeki naik ke kasur menemani mereka karena terlihat sangat mengantuk.
Dia tidak sempat untuk menukar baju nya lagi. Sementara di rumah Vincent.
Kania baru sadar hujan di luar karena mati lampu, dia mencari lilin.
"Aku minta maaf sayang... Aku tidak bermaksud seperti itu," ucap Vincent.
"Maksudnya apa?" tanya Kania, dia menatap Vincent.
"Ya ampun, aku pikir apa, ternyata ngigau," ucap Kania.
Setelah beberapa lama akhirnya lampu hidup.
"Sayang.... kenapa kamu bangun? Apa kamu tidak ngantuk?"
"Aku sangat ngantuk, hanya saja mati lampu tadi."
"Oohh, ya udah ayo tidur," Vincent mengajak Kania untuk tidur lagi.
Kania tidak bisa tidur lagi, dia menatap wajah suami nya.
"Kenapa sih aku harus merasa cemas seperti ini? Suami ku sudah di sini, kenapa aku mencemaskan sesuatu yang tidak penting?" ucap Kania.
Keesokan paginya...
"Selamat pagi... sayang." ucap Minhui karena Saska bangun lebih awal.
Saska tersenyum dan berusaha membangun kan Jeki.
__ADS_1
Namun Minhui menahan Saska.
"Jangan di ganggu," ucap Minhui.
Namun Jeki terlanjur bangun.
"Papah.. papah..." ucap Saska. Jeki tersenyum dia membawa Saska ke dekapan nya.
"Kamu dari mana saja? Kenapa pulang sangat lama?" tanya Minhui.
"Aku minta maaf, aku tidak tau kalau cuaca buruk."
Minhui menghela nafas panjang. "Seperti nya Saska sangat takut suara besar, aku mau kamar ini jadi kedap suara."
"Humm, aku akan meminta tukang mengurus nya."
Jeki tampak masih ngantuk. Minhui melihat keluar masih hujan namun tidak terlalu lebat.
Dia turun dari tempat tidur, namun tiba-tiba saja perut nya itu mual. Ia berlari ke kamar mandi..Jeki melihat nya ikut panik tidak lanjut tidur.
Saat Minhui keluar dari kamar mandi, dia kaget melihat Jeki berdiri di depan pintu.
"Minun ini dulu," ucap Jeki memberikan Air hangat dan juga obat.
"Terimakasih," ucap Minhui.
Setelah baikan, mereka bersama keluar dari kamar.
"Kamu tidak perlu masak, aku akan memesan makanan dari luar, untuk Saska berikan saja bubur formula."
Minhui mengangguk. "Oh iya hari ini kita harus ke rumah sakit."
"Ngapain?" tanya Minhui. "Wajah kamu sangat pucat, sebaik nya kita periksa, aku takut terjadi apa-apa sama kandungan kamu."
Minhui menghela nafas panjang. "Aku tidak apa-apa, nanti pasti baikan."
Jeki tidak bisa melawan keras kepala Minhui. "Kalau kamu tidak kuat menjaga Saska, aku akan membawa nya."
"Kamu mau membawa nya kemana? Apa kamu tega membiarkan Keponakan mu di urus oleh orang lain, bagaimana kalau mereka sangat jahat kepada Saskia?"
"Tapi kamu pasti kelelahan mengurus nya. Kalau begitu aku akan mencari baby sister mengurus nya."
"Tidak perlu, aku bisa mengurus nya sendiri. Kamu fokus saja dengan pekerjaan kamu."
Jeki menatap Minhui. "Baiklah kalau itu yang kamu mau, tapi aku mohon jangan terlalu kecapean, kamu harus memikirkan kandungan kamu."
"Aku sudah terbiasa capek, aku sudah terbiasa sendirian, kamu tidak perlu memperingati aku."
"Aku memberikan saran yang baik, apa kamu tidak bisa mendengar kan ku?" tanya Jeki.
__ADS_1