Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 80


__ADS_3

Setelah beberapa lama akhirnya Vincent pulang.


"Vincent kamu dari mana saja? Kenapa kamu baru pulang? Ini sudah jam berapa kamu membuat Kania khawatir saja," ucap Bu Mona.


"Maaf mih, aku tadi nganterin Staf aku," ucap Vincent.


"Ya sudah kalau begitu, kamu istirahat lah, mami juga mau istirahat."


"Kania kamu juga istirahat lah, Besok kamu harus kuliah."


Kania mengangguk. Setelah Bu Mona pergi Kania memukul lengan Vincent.


"Auh sakit."


"Salah siapa paman pulang malam? Tadi janji nya jam sembilan sudah pulang."


Vincent tersenyum dia mendekati Kania.


"Saya harus menyelesaikan pekerjaan saya."


Kania menatap Vincent.


"Aku tau yah pekerjaan di kantor tidak terlalu banyak dan juga sekitar jam sembilan sudah pulang, tapi Paman telat satu jam."


Vincent memegang tangan Kania. "Saya harus mengantarkan Fani pulang ke rumah nya."


"Mengantar kan Fani pulang? Kenapa?" tanya Kania.


"Jangan-jangan Paman di goda oleh Fani sehingga paman mengantarkan nya pulang? Paman benar-benar tidak bisa setia!"


"Bukan seperti itu, Fani pulang malam dan menunggu kendaraan sampai larut malam, saya tidak tega membiarkan nya di sana sendirian."


"Bohong! Awas saja kalau paman selingkuh dengan Fani!"


"Bukan sayang, kamu jangan salah paham," ucap Vincent mengikuti Kania sampai ke kamar Kania.


"Aku tidak mau mendengar kan alasan apapun itu, aku benar-benar sangat tidak percaya."


Vincent menarik tangan Kania dan memeluk pinggang nya.


"Kamu yakin marah kepada saya?" tanya Vincent.


Kania di tidur kan oleh Vincent ke tempat tidur.


"Saya tidak akan pernah menyukai orang selain kamu, saya tidak tau apa yang sudah kamu lakukan sehingga saya cinta mati kepada kamu," ucap Vincent.


Kania pura-pura mau muntah.


"Lepas kan aku paman,"


Vincent menggeleng kan kepala nya.


"Boleh kah malam ini saya tidur di sini?" tanya Vincent.


Kania langsung menggeleng kan kepala nya.


"Tidak boleh paman, kalau sampai Bu Mona tau dia akan berfikir yang tidak-tidak."

__ADS_1


Vincent duduk di pinggir kasur.


"Dua Minggu saya akan melakukan perjalanan ke perusahaan PT Wir Asia, kamu tidak apa-apa?" tanya Vincent.


"Paman sudah bertanya ini beberapa kali kepada ku, aku baik-baik saja dengan itu," ucap Kania.


"Kenapa kamu tidak ikut saja? saya ingin kamu ikut."


Kania tersenyum menatap Vincent. "Paman mau bagaimana pun aku tidak boleh selalu berada di naungan paman, aku juga harus belajar sendiri."


"Saya tidak suka kamu dewasa seperti ini, saya takut kamu tidak akan memerlukan saya lagi."


"Sebaiknya Paman pergi mandi, semakin malam pembicaraan Paman semakin aneh."


"Tapi saya sangat takut kamu tidak membutuhkan saya, saya takut kalau kamu tidak mencintai saya karena saya sudah tua dan juga pasti saya akan jauh lebih posesif."


Kania tertawa mendengar nya.


"Kenapa kamu tertawa."


"Akhirnya paman mengakui kalau paman sudah tua."


Vincent langsung memasang wajah cemberut malu karena di tertawa kan oleh Kania.


"Oke-oke baiklah, aku akan berhenti tertawa, tapi sebaiknya paman pergi mandi."


Vincent mengangguk dia memegang tangan Kania.


"Apa kamu ingin ikut mandi dengan saya?"


Kania lagi-lagi menepuk lengan Vincent Deng cukup kuat.


Vincent takut karena Kania memasang wajah tajam. Setelah Vincent keluar Kania tersenyum.


Tiba-tiba Vincent kembali lagi membuka Kania kaget.


"Saya belum makan malam, apa kamu masak?" tanya Vincent.


"Aku akan memasak mie instan."


Vincent mengangguk.


Setelah Vincent pergi Kania keluar untuk masak mie. Tidak beberapa lama akhirnya selesai Vincent juga keluar untuk makan.


"Kapan kamu akan mengajukan judul skripsi?" tanya Vincent.


"Aku masih belum yakin, aku akan memikirkan nya lagi."


"Jangan terlalu lama, lebih cepat lebih baik."


Kania mengangguk.


"Oh iya Paman, sebelum aku mengajukan judul skripsi apa aku boleh ke luar negeri menemui Omah dan Opah sekaligus berjiarah ke makam Mamah dan papah?" tanya Kania karena jasad orang tua nya di bawa kembali ke luar negeri walaupun meninggal nya di kota itu.


Vincent menghela nafas panjang.


"Saya kurang setuju!" ucap Vincent.

__ADS_1


"Ihh Paman, aku ingin minta restu agar skripsi ku berjalan dengan lancar."


"Kania kita baru saja memperbaiki hubungan kita yang selama ini hancur, tidak tau bagaimana, namun sekarang kamu sudah mau meninggalkan kan saya."


"Tapi paman."


"Kalau kamu meninggal kan saya, saya akan marah."


"Bukan nya Paman juga akan meninggalkan aku dua Minggu di sini?"


"Kalau bisa memilih saya juga tidak ingin pergi Kania, saya ingin bersama kamu."


Mendengar Vincent sangat serius membuat Kania tersenyum.


"Oke baiklah, aku akan menunggu waktu yang pas dan tepat agar bisa bertemu Omah." ucap Kania.


Vincent mengangguk. Setelah selesai makan mereka istirahat ke kamar masing-masing.


Sementara di tempat lain Ulfa tidak bisa tidur karena hari ini dia merasa ada yang aneh dengan Yuda yang tiba-tiba cuek dan bersifat dingin kepada nya.


Ulfa duduk di kasur nya sambil memegang handphone nya.


"Kenapa aku harus memikirkan Yuda sih?" ucap nya langsung menepis Pikiran nya agar bisa tidur, namun ternyata percuma saja dia malah semakin memikirkan Yuda.


"Apa dia marah kepada ku? Apa aku melakukan kesalahan membuat dia tiba-tiba cuek kepada ku?"


"Arrghh!! Bisa bergadang aku kalau memikirkan dia seperti ini."


Di rumah Yuda, dia juga sedang memainkan gitar nya di balkon kamar nya.


"Apa sekarang Ulfa sudah tidur? Aku yakin dia pasti kesepian karena di rumah sendirian."


"Maafin aku yah Ulfa, aku harus melakukan ini demi kamu."


"Tok!! Tok!! Tok!!" ketukan pintu kamar Yuda.


"Masuk aja mah."


"Kenapa kamu belum tidur?" tanya mamah nya.


"Aku belum ngantuk Mah."


"Kamu marah karena mamah melarang kamu berhubungan dengan Ulfa?" tanya Mamah nya sambil duduk di samping Yuda.


Yuda hanya diam saja. "Kamu tidak makan malam kamu juga tidak menjawab pembicaraan mamah."


"Aku sedang memikirkan tugas ku mah, aku juga lelah."


"Kalau kamu seperti ini, berarti kamu lebih memilih Ulfa dari pada mamah."


"Mah apa salah nya sih kalau aku menyukai Ulfa? Apa yang salah dengan Ulfa?"


"Apa hanya karena dia anak yatim-piatu dan juga orang tidak punya jadi Mamah tidak mau aku dekat dengan dia?"


"Mamah sudah bilang kalau hanya sekedar berteman Mamah tidak melarang nya, namun kalau pacaran mamah takut itu mempengaruhi nilai kamu!"


"Bohong!"

__ADS_1


"Baiklah Mamah jujur, mamah adalah dosen di sana, kamu juga adalah anak dosen, apa kata orang kalau kamu berpacaran dengan Ulfa?"


Yuda menatap mamah nya. "Aku tidak menyangka kalau Mamah gila status seperti ini, aku sangat membenci mamah."


__ADS_2