
"Seperti nya dia belum tidur siang," ucap Kania dia langsung menidurkan Saska.
Dan benar saja tidak lama Saska langsung tidur.
Kania memastikan Saska tidur, setelah itu dia keluar mau membersihkan rumah yang sudah sangat berantakan.
Masih bersih-bersih Vincent sudah pulang. "Kenapa kamu bersih-bersih? Biar aku saja, kamu istirahat sekarang," ucap Vincent.
"Ini sedikit lagi," ucap Kania. Vincent menghela nafas panjang.
Kania melihat banyak nya belanjaan Vincent.
"Mana eskrim yang aku minta?" tanya Kania. Vincent seketika langsung terdiam dia lupa membeli nya karena cukup banyak yang harus dia beli.
"Maafkan aku, aku lupa membeli nya," ucap Vincent.
Kania yang tadi nya terlihat sangat senang, sekarang berubah sangat galak, tatapan nya membuat Vincent ketakutan.
"Aku minta maaf, kalau begitu aku akan pergi membeli nya," ucap Vincent.
"Kamu tunggu sebentar yah," ucap Vincent.
Kania menghela nafas panjang. "Tidak akan ada lagi karena sudah tutup jam segini," ucap Kania.
Dan benar saja setelah sampai di tujuan toko eskrim itu sudah tutup.
Vincent mencoba cari di tempat lain namun tidak ada.
"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?" batin Vincent.
Dia tidak menyerah dia mencari ke toko lain nya walaupun jauh tapi dia harus membawa pulang eskrim itu.
Sudah malam, dia kefikiran kepada Saska. Akhirnya dia membeli eskrim yang rasanya sama walaupun cukup berbeda.
Dia sampai di rumah ternyata Kania masih menunggu nya.
"Bagaimana? Dapat?" tanyakan Kania.
Vincent memberikan eskrim yang dia bawa.
"Aku tak mau ini, aku bukan pesan yang seperti ini!" ucap Kania.
"Tempat yang kamu mau sudah tutup, aku tidak tau harus membeli kemana lagi."
"Aku sudah minta dari tadi, namun mas Vincent melupakan nya."
"Aku tidak sengaja, aku minta maaf, besok aku akan membeli nya untuk kamu, sekarang kamu bisa makan ini dulu kan?" ucap Vincent.
Kania tidak mau, dia memasang wajah cemberut. Vincent kebingungan dia tidak enak kepada istri nya itu.
"Aku sungguh ceroboh," ucap nya kepada diri nya sendiri.
Tiba-tiba handphone nya berdering telpon dari Mami nya.
"Halo Mi?"
"Akhirnya kamu jawab juga telpon Mami, apa kalian baik-baik saja?" tanya Bu Mona.
__ADS_1
Vincent menoleh ke arah Kania. "Mana menantu mami? Apa dia baik-baik saja? Mami mimpi tentang dia dari kemarin."
"Baik-baik saja kok mih, apa Mami mau ngobrol sama Kania?"
Vincent langsung memberikan handphone kepada Kania.
"Papah... Mamah..." Saska berceloteh.
"Loh kok ada suara anak kecil?" tanya Bu Mona.
"Humm itu suara dari handphone Mah," ucap Kania.
"Oohh, apa kamu sehat nak?"
"Sehat kok Mah."
"Wajah kamu sangat pucat sekali, apa kamu sakit? Apa kalian memiliki masalah?"
"Mungkin karena kecapekan saja Mah, aku juga belum mandi jadi nya pucat."
Vincent membawa Saska menjauh dari sana, dia tidak ingin mami nya tau tentang Saska.
Tidak beberapa lama akhirnya telponan selesai. Kania mengembalikan handphone Vincent.
"Kamu masih marah?" tanya Vincent. "Pikir saja sendiri," ucap Kania.
Kania jauh lebih sensitif setelah hamil, Vincent harus berhati-hati agar tidak melukai kesalahan namun percuma saja dia sangat ceroboh sekali dan juga pelupa setelah menjadi seorang suami dan menjadi Ayah.
"Tok!! tok!! tok!!!" ketukan pintu rumah.
"Kenapa Minhui mengunci pintu dari dalam?" batin Fikri yang baru saja pulang bekerja.
"Kenapa kamu mengunci nya dari dalam, aku jadi ganggu kamu," ucap Fikri.
"Aku takut orang lain masuk," ucap Minhui.
"Orang lain siapa? Kenapa kamu kelihatan nya sangat takut?"
"Aku bertemu dengan Jeki siang tadi di luar."
"Bagaimana bisa? Kenapa dia tau kamu ada di kota ini?"
"Aku juga tidak tau, namun orang seperti dia sangat mudah menemukan seseorang seperti ku," ucap Minghui.
"Apa sebaiknya kita pindah dari sini?"
"Tidak, gak usah kita di sini saja," ucap Minhui.
"Kamu yakin gak apa-apa?" tanya Fikri. Minhui mengangguk.
"Ya sudah kalau begitu." ucap Fikri.
"Nih aku bawain makanan, kamu makan yah dari kemarin makan kamu kurang aku lihat," ucap Fikri.
Sementara Jeki ternyata sudah berada di depan rumah Fikri.
"Apakah pria itu yang sebelumnya mengejar-ngejar Minhui?" batin Jeki karena dia masih ingat sebelum pacaran dengan Minhui.
__ADS_1
Minhui dekat dengan pria yang di akui sebagai teman dekat Minhui yang tinggal di kota ini.
"Jangan bilang, Minhui kembali kepada dia."
Jeki tidak bisa melakukan apapun, dia tidak mungkin menerobos masuk ke dalam rumah itu.
Akhir nya dia menunggu sampai besok pagi, dia tidur di dalam mobil sampai Fikri berangkat bekerja.
"Semangat yah kerja nya," ucap Minhui kepada Fikri.
Jeki sangat cemburu ketika melihat kedekatan mereka berdua.
"Jangan lupa tutup pintu baik-baik, jangan kecapean juga," ucap Fikri.
Setelah Fikri pergi cepat-cepat Jeki mendatangi Minhui.
"Jeki! Apa yang kamu lakukan? kenapa kamu bisa di sin?" tanya Minhui kaget karena Jeki langsung masuk begitu saja.
"Aku ke sini mencari kamu, aku ingin membawa kamu pulang bersama anak kita," ucap Jeki.
"Pergi! Aku tidak mau melihat kamu disini!"
"Kamu jangan takut Minhui, aku minta maaf aku tidak akan melakukan apapun kepada kamu."
"Minhui aku mohon pulang lah dengan ku."
"Aku tidak mau! Aku bisa hidup tanpa kamu, aku juga akan melahirkan anak ku sendiri." ucap Minhui.
Jeki berusaha membujuk Minhui, dia bahkan sudah berlutut namun Minhui tidak mau.
"Minhui pulang lah dengan ku, aku berjanji tidak akan melakukan kesalahan lagi. Aku emosi pada saat itu," ucap Jeki.
Jeki memegang tangan Kania menangis di tangan Kania.
"Kamu tidak kasihan kepada anak kita nanti? Apa kamu tidak kasihan kepada ku?" tanya Jeki.
"Aku tidak bisa hidup Tampa kamu, aku mencintai kamu Minhui."
"Aku berjanji akan menikahi kamu setelah anak kita lahir," ucap Jeki.
"Percuma! Aku sudah tidak memiliki perasaan kepada kamu, bukan kah kamu tidak ingin anak ini?"
"Kalau kamu tidak ingin pulang dengan ku, aku akan bunuh diri," ucap Jeki menggangu pisau buah yang tidak jauh dari nya."
Jeki sudah kehilangan akal sehatnya sehingga mau bunuh diri.
"Jangan bercanda Jeki! keluar dari sini."
"Aku tidak akan keluar kalau kamu tidak mau memaafkan aku dan juga tidak mau ikut aku pulang."
"Jeki hentikan!"
"Tidak!! Aku ingin kamu kembali, aku mencintai kamu Minhui, aku gila ketika kamu pergi dari ku."
Minhui tetap tidak mau, darah mulai bercucuran di lantai.
Minhui panik, dia melihat Jeki sudah lemas dia langsung pingsan.
__ADS_1
"Jeki!! Jeki!!!" panggil nya. Dia meminta tolong keluar berharap ada yang menolong nya membawa Jeki ke rumah sakit.