
Di rumah Jeki. Jeki masih belum mengatakan apapun kepada Minhui dia mengurus Saska agar tidak merepotkan Minhui yang sedang sakit.
"Ada sih yang terjadi? Aku sangat bingung," ucap Minhui.
Saska berlari ke arah nya. Dia memeluk Saska karena sangat merindukan nya dan juga mengkhawatirkan nya.
"Tante Sangat rindu sama kamu, kamu gak rindu sama Tante?"
Namun Saska memeluk Minhui seperti mengerti apa yang di maksud oleh Minhui.
Di malam hari nya..
Minhui melihat Jeki yang seperti nya sibuk menelpon seseorang.
Dia tidak sengaja mendengar percakapan Jeki. Dia benar-benar kaget mendengar kalau Saska ternyata anak dari Vincent.
Tidak bisa berkata-kata lagi. "Pantesan saja Saska sangat mirip kepada Vincent."
"Ternyata Sarah itu adalah adik kandung Jeki?" batin Minhui.
Dia kenal dengan Sarah karena mantan Vincent.
Jeki berbalik dia melihat Minhui berdiri di belakang nya. "Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Jeki.
"Aku mau manggil kamu makan, kamu belum makan," ucap Minhui.
"Aku tidak lapar, kamu dan Saska makan saja terlebih dahulu."
"Kamu mau kemana?" tanya Minhui.
Jeki mau menenangkan diri di luar, dia tidak ingin menunjukkan kesedihan dan kemarahan nya kepada Minhui dan Saska.
"Aku ada urusan di luar," ucap Jeki.
Namun Minhui menahan tangan Jeki. "Aku tau kamu pasti ingin pergi melihat keadaan adik kamu kan?" tanya Minhui.
"Aku gak apa-apa dengan Saska, kamu bisa pergi melihat Sarah."
Jeki menggeleng kan kepala nya. "Sudah ada Fadil di sana, keadaan nya juga tidak terlalu parah."
"Tapi..."
"Tidak mungkin aku meninggal kan kamu dengan Saska seperti ini."
"Kalau begitu ayo makan."
"Aku akan keluar sebentar."
"Ngapain?" tanya Minhui.
"Kalau kamu tidak makan, aku dan Saska juga tidak akan makan."
Jeki melihat ke arah luar. Namun Minhui langsung menarik tangan Jeki ke dalam.
__ADS_1
Mereka makan bersama di meja makan. "Kamu makan saja, aku akan nyuapin Saska," ucap Jeki.
"Kamu yang harus Makan, seharian tidak makan. Badan sudah kurus tambah kurus, mau jadi apa?" tanya Minhui.
Jeki melihat menu makanan. "Bibik tidak masak hari ini, dia pulang cepat dan beberapa hari tidak masuk. Aku yang masak," ucap Minhui.
"Oohhh," ucap Jeki.
Setelah beberapa lama akhirnya selesai makan. Minhui membawa Saska untuk ke kamar. Jeki menyusul mengikuti ke dalam kamar.
"Ngapain ke sini?" tanya Minhui.
"Humm malam ini aku bisa tidur di sini sama Jeki kan?"
"Tidak bisa! Kamu kembali ke kamar kamu seperti sebelumnya."
"Tapi, kamu akan kesusahan menjaga Jeki kalau bangun tengah malam, aku akan membuat susu nya kalau dia bangun."
"Tidak perlu, kamu bisa tidur di kamar kamu sendiri."
Jeki menundukkan kepala nya. "Aku sangat sedih, aku tidak mau tidur sendirian."
Minhui menghela nafas panjang. Akhirnya dia pasrah dan langsung membiarkan Jeki masuk.
Minhui berbaring di kasur. Sambil menepuk-nepuk Saska agar tidur.
Jeki berbaring di samping Minhui. Dia mau memeluk perut Minhui namun di tahan oleh Minhui.
Minhui sadar kalau ternyata Jeki belum tidur. Minhui akhirnya membiarkan Jeki memeluk nya sampai pada akhirnya mereka tidur bersama.
Keesokan paginya....
"Tok!!! tok!! tok!!" ketukan pintu kamar yang di tempati oleh Kania tak kunjung buka dari tadi malam.
Sudah satu jam Vincent mengetuk pintu itu, namun tetap saja Kania tidak membuka nya.
"Apa yang kamu lakukan di dalam sana? ayo buka pintu nya, ayo kita bicara," ucap Vincent.
Tidak ada jawaban dari dalam. "Kania, buka pintu nya," ucap Vincent.
Tidak beberapa lama pintu terbuka. "Kania, ayo makan dulu, kamu belum makan," ucap Vincent.
Kania menatap Vincent dengan tatapan dingin. Vincent melihat Kania keluar sambil menarik koper besar.
"Kamu mau kemana membawa koper?"
"Aku tidak ingin melihat mas Vincent untuk sementara, aku ingin menenangkan diri, jangan mencoba menghalangi aku."
Vincent menggeleng kan kepala nya. "Jangan Kania, kamu tidak boleh pergi, aku akan memperbaiki semua nya.,"
"Apa yang bisa mas perbaiki? Semua nya sudah terlanjur."
"Aku tidak mencintai Sarah lagi, aku hanya mencintai kamu."
__ADS_1
Kania mendorong Vincent. Tidak perduli pria itu adalah suami nya.
"Sudah cukup selama ini aku sabar menghadapi kelakuan mas Vincent, aku menjadi wanita bodoh karena satu cinta, sekarang aku tidak akan melakukan nya lagi."
"Kenapa kamu berbicara seperti itu sayang?" tanya Vincent.
"Aku tidak tau kalau Sarah hamil pada saat itu," ucap Vincent.
"Aku hanya ingin tanggung jawab kepada anak ku, bukan karena aku ingin kembali kepada dia."
"Kalau begitu, sebaiknya mas menikahi nya," ucap Kania.
Vincent menggeleng kan kepala nya. "Itu tidak akan terjadi, aku sudah memiliki kamu, tidak mungkin aku menikah lagi."
Vincent memegang tangan Kania menatap wajah Kania, namun Kania tidak mau menatap nya.
"Kamu bisa maafin aku kali ini kan? Aku janji tidak akan mengulangi lagi, aku benar-benar akan memperbaiki diri untuk kamu."
Kania tersenyum. "Aku tidak percaya mas, buktinya masalah sebesar ini masih berani mas sembunyikan dari ku, itu tandanya mas tidak pernah mempercayai ku tidak yakin kepada ku."
"Aku sudah mengatakan kalau aku jujur kamu pasti marah seperti ini."
"Kalau kamu jujur dari awal, aku bisa memikirkan nya lebih dewasa mas, aku bisa memberikan solusi, tapi mas menyembunyikan itu artinya mas memiliki hubungan dengan Sarah kembali."
Kania mau pergi namun di tahan oleh Vincent. "Lepaskan aku," Kania menepis tangan Vincent.
"Jangan mencoba mengikuti aku, kalau mas tidak ingin aku benar-benar ingin aku menghilang."
Vincent tiba-tiba berlutut di belakang Kania sambil memohon dan menangis.
"Kania.... aku mohon jangan pergi, bagaimana dengan ku kalau kamu pergi?" tanya Vincent.
Namun Kania tidak perduli dia langsung pergi begitu saja.
Vincent menangis ketika melihat istrinya pergi dari rumah nya.
"Kania, bicarakan baik-baik dengan suami mu," ucap Tomi.
"Kamu jangan ikut campur dengan ini, kamu tidak tau apa yang aku rasakan," ucap Kania kepada Tomi.
Tomi dan Fani tidak bisa berkata-kata. "Sudah, biarkan saja Kania pergi, dia butuh tempat dan waktu untuk menenangkan diri."
"Tapi dia salah paham," ucap Tomi.
"Kalau aku di posisi Kania, aku akan jauh lebih Kecewa. Selama ini dia mencintai Paman nya sendiri Tampa berpaling dan sangat setia, tapi suami nya itu memiliki kelakuan yang sangat buruk."
"Kamu memburuk kan pak Vincent?" tanya Tomi.
"Bukan seperti itu, tapi ini adalah fakta."
"Dulu kamu juga tergila-gila sama pak Vincent, sekarang kamu malah memburuk kan nya."
"Sudah lah, berdebat dengan mu tidak ada gunanya, kamu sama saja seperti pak Vincent."
__ADS_1