
"Ya sudah kalau begitu, kamu periksa ini, aku mau lanjut bekerja."
"Kamu makan siang dengan siapa?" tanya Tomi.
"Aku dengan anak-anak seperti biasa, kami juga mau membahas beberapa pekerjaan."
"Kenapa tidak dengan ku saja? Pak Vincent sudah tidak disini, aku makan siang sendiri."
"Jangan banyak ngeluh, bukan nya kemarin kamu yang minta aku untuk bekerja, ini adalah resiko pekerjaan ku."
Tomi menghela nafas panjang. "Baiklah kalau begitu," ucap Tomi.
"Ya sudah kalau begitu kamu pergi lah," ucap Tomi. Fani tersenyum dia melihat situasi. Karena sepi dia mencium pipi Tomi dan pergi.
Tomi kembali bersemangat ketika mendapatkan ciuman dari kekasih nya itu.
Ulfa dan Yuda kembali ke Cafe, karena belum kuliah Ulfa ingin memanfaatkan waktu nya untuk membuat kue atau memikirkan menu baru untuk Cafe itu.
Dia juga meminta tanggapan pacar nya, Yuda tidak ingin membantu karena dia ingin Ulfa berfikir sendiri Tampa di bantu oleh orang lain.
Ulfa baru beberapa hari bekerja namun sudah mendapatkan gaji tambahan dari Yuda, karena dia cukup mahir, rajin dan juga ramah.
Pelanggan baru banyak yang datang karena Ulfa juga memberikan ide untuk promosi.
Karyawan yang lain mendapatkan bagian yang sama, hanya saja mereka tetap tidak suka kepada Ulfa yang selalu mendapat perhatian.
Padahal sudah jelas-jelas mereka tau kalau Ulfa adalah kekasih Yuda.
Jeki mengetahui kalau Vincent dan istri nya honey moon ke London karena sudah banyak yang membicarakan nya.
"Ternyata rencana Ku tidak berhasil," batin Jeki.
Jeki ingin melihat kebahagiaan Vincent dan Kania hancur, seperti memiliki dendam tersendiri.
Dia masih berusaha memikirkan cara untuk membuat mereka mendapatkan masalah.
Tiba-tiba Sasya datang ke ruangan nya. "Sayang..."
"Iyah sayang?"
"Jam tangan ku sudah sangat usang, aku ingin beli jam baru.'"
"Bukan nya kemarin aku sudah ngirim uang ke rekening kamu?"
__ADS_1
"Iyah sih, tapi semua nya sudah habis untuk perawatan, Lagian aku seperti ini untuk kamu juga."
Jeki tersenyum, " baiklah ini untuk kamu,. kalau kurang aku TF."
Setelah itu Sasya langsung pergi. Tidak mengatakan banyak basa-basi dia langsung meninggalkan Jeki.
Dia mengingat Minhui di rumah. "Ah sudahlah kenapa aku harus memikirkan dia?" ucap Jeki.
Minhui di rumah sendirian sambil mengompres wajah nya yang masih sangat sakit karena tadi malam Jeki mabuk.
Dia pulang bersama Sasya, dia hanya berusaha untuk menasehati nya namun Jeki marah sehingga melakukan kekerasan kepada Minhui.
Di sore hari nya Jeki kembali ke rumah dia tidak melihat Minhui. Rumah juga rapi dan bersih seperti biasa.
Jeki sudah penat dia langsung ke kamar nya. Setelah selesai mandi dia keluar namun tidak melihat Minhui.
"kemana dia?" tanya Jeki karena biasanya kopi nya di atas meja sudah tersedia.
Namun sudah Duduk beberapa menit dia tidak melihat Minhui. Dia memanggil namun Minhui tidak menjawab nya.
"Kemana dia?" akhirnya dia langsung memeriksa ke dalam kamar.
Ternyata Minhui sedang tidur. Jeki mendekati nya. Mau membangun kan dia namun melihat Minhui lagi-lagi Pucat.
Jeki melihat ke arah perut Minhui.
Tiba-tiba di mengingat saat dia menggendong bayi yang berlumuran darah dan bayi itu menangis di pelukan nya.
Tiba-tiba dia langsung keluar dari kamar itu. "Arrghh!!!" dia menghela nafas panjang beberapa kali.
Terlihat sangat prustasi ketika membayangkan hal itu.
Sementara Vincent dan Kania sudah sampai di London. Tidak lupa Kania langsung update postingan di Ig nya.
Jeki melihat nya, Kania dan Vincent Tampak bahagia sekali. "Seharusnya Pria seperti mu tidak pantas bahagia!" ucap Jeki.
Dia mematikan handphone nya dan membaringkan tubuh nya.
Namun tengah malam dia terbangun karena merasa sangat dingin dan tidak nyaman. Dia baru sadar kalau ternyata dia demam.
Mungkin karena memikirkan banyak hal dan juga menyentuh Minhui yang panas dia jadi tertular.
Namum saat dia membuka mata nya sedikit dia melihat Minhui yang sedang menyelimuti nya dan juga memeriksa dahi nya.
__ADS_1
Dia tidak berani bergerak dia hanya diam menunggu Minhui pergi.. Namun tiba-tiba saja kepala nya sakit.
Jeki menjerit, namun Minhui langsung Memijit-mijit kepalanya sampai membaik.
Setelah Jeki tidur dengan nyenyak, Minhui langsung pergi ke kamar nya.
Keesokan harinya Sasya datang menjenguk Jeki.
"Sayang, kenapa kamu bisa demam? Ada apa?" tanya Sasya.
"Hanya demam biasa."
Dia datang hanya menjenguk dan menemani nya. Tidak lama dia berpamitan untuk pergi, karena ada urusan.
Jeki tidak menahan karena dia juga mau istirahat. Namun baru saja kekasih nya pergi, Minhui datang membawa makan dan juga obat.
"Ini obat untuk kamu, di makan dulu setelah itu minum obat."
Setelah itu Minhui langsung pergi.. Jeki melihat Minhui pergi, walaupun dia kurang sehat namun tetap saja dia perduli kepada Jeki.
Minghui duduk di pinggir kasur sambil melihat keluar dari jendela kamar nya.
"Aku sangat merindukan Mamah dan papah, Kalian pasti sudah sangat Marah kepada ku yang tidak pernah mau pulang."
"Maafin aku yah mah, aku benar-benar anak yang sangat durhaka, setelah ini mungkin kita tidak akan pernah bertemu karena aku membuat aib di dalam keluarga kita."
Sebagai orang terpandang Minhui harus memikirkan keluarga nya, kalau dia kembali dengan keadaan seperti itu bisa saja semua orang akan membawa-bawa orang tua nya dalam kesalahan nya sendiri.
Minhui menangis di dalam kamar nya..Jeki baru saja selesai Makan dan minum obat, dia mau masuk ke dalam kamar nya namun tidak sengaja mendengar suara tangisan Minhui.
Sudah sering Jeki mendengar nya namun kali ini Jeki merasa iba, mendengar tangisan yang begitu pilu membuat nya tersentuh.
Jeki mengetuk pintu kamar, namun Minhui langsung berhenti dia berdiri di depan pintu.
"Aku butuh bantuan kamu."
Minhui mengangguk, dia membawa Jeki ke dalam kamar nya, tidak lupa sebelum berbaring Minhui membersihkan tempat tidur.
Namum dia sangat kaget karena ada bekas basah di sprei, dia sudah tau itu bekas apa namun dia tetap diam, dari pada ujung-ujung nya ribut.
Walaupun sangat sakit hati, tapi tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Setelah sudah selesai mengganti alas kasur dia keluar dari kamar itu. Jeki duduk dan bersandar di sandaran kasur.
__ADS_1
"Apa sebaiknya aku mengembalikan dia kepada orang tua nya?" batin Jeki. Dia memikirkan untuk mengembalikan Minhui agar tidak terlalu merepotkan dia dan dia juga tidak perlu tanggung jawab lagi kepada Minhui atau anak yang di dalam perut Minhui.