Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 232


__ADS_3

Setelah pulang dari kantor mereka langsung ke tempat perbelanjaan.


"Huff, hanya untuk belanja seperti ini saja, memaksa ku pulang, apa tidak bisa kakak dengan Papah saja?" tanya Arka.


"Diam saja kamu, di suruh belanja tidak mau, giliran makan sangat kuat," ucap Saska dengan kesal. "Menyebalkan sekali, mana ada anak laki-laki belanja seperti ini," ucap Arka.


"Kalau kamu tidak mau, lebih baik sekarang kamu pergi pulang saja," ucap Vincent dengan kesal. .


"Maaf Pah, aku hanya bercanda," ucap Arka seketika langsung diam. Vincent sudah sangat pusing apa saja yang mau di beli.


Untung nya Saska bisa, dia sudah sering ikut dengan Kania dan selalu memerhatikan bagaimana Kania belanja.


"Perasaan sudah dua jam lebih mereka pergi belanja, kok belum pada pulang sih?" batin Kania sambil melihat jam yang ada di handphone nya.


"Apa aku harus menelpon mereka? Tapi seperti nya tidak perlu deh," batin Kania.


Setengah jam kemudian akhirnya mereka pulang. "Loh, kok kamu tidak istirahat sih? Kok malah duduk di luar seperti ini?" tanya Vincent.


"Aku menunggu kalian pulang, ini sudah terlalu lama kalian pergi," ucap Kania.


Vincent menoleh ke arah anak-anak nya. Kania melihat begitu banyak nya belanjaan.


"Ayo masuk dulu," ajak Vincent. Mereka langsung masuk dan Kania melihat semua belanjaan itu.


"Ya ampun, kenapa membeli sangat banyak Mas? Bagaimana kalau tidak habis dan juga semua nya bisa busuk karena tidak muat di kulkas."


"Tidak apa-apa, dari pada setiap Minggu belanja," ucap Vincent.


Kania menghela nafas panjang. "Ya udah deh kalau begitu, makasih banyak yah," ucap Kania.


"Sayang... apa tidak sebaiknya kita Bayar asisten rumah tangga saja?" tanya Vincent.


"Kalau kamu sendiri yang mengurus rumah dan urusan kami, bisa-bisa kamu malah sakit seperti ini dan bisa lebih parah," ucap Vincent.


"Gak apa-apa mas," ucap Kania. "Besok aku akan mencari untuk bantu-bantu, pokoknya kamu gak boleh nolak yah."


"Iyah mah, lagian saran Papah Bagus, agar kami tidak repot-repot untuk belanja lagi dan bukan tugas kamu membersihkan dapur, rumah, merapikan pakaian," ucap Arka.

__ADS_1


"Jadi kamu tidak mau?" tanya Kania sambil mencubit Telinga Arka.


"Bukan gitu mah, aku minta maaf deh mah, aku janji gak akan seperti itu lagi, maaf Mamah," ucap Arka dengan mode manja.


"Huff kamu sangat berbeda dengan kakak mu, selalu saja protes selalu saja menentang apa perkataan Mamah," ucap Kania.


"Ya udah deh aku minta maaf," ucap Arka.


"Kamu rapikan itu semua," ucap Kania. "Itu tugas perempuan Mah," ucap Arka lagi.


"Kalau begitu kamu nikah saja agar Mamah punya menantu perempuan karena mamah tidak punya anak perempuan, punya kamu saja sudah membuat Mamah sakit kepala," ucap Kania.


Namun tiba-tiba suasana jadi hening ketika mendengar kata-kata Kania.


Dia menoleh ke arah Saska. "Enggak, maksud mamah menghadapi Arka sudah membuat kepala mamah pusing, untung nya mamah punya anak yang sangat baik, berbakti kepada orang tua dan selalu perduli," ucap Kania.


Saska masih dengan ekspresi datar nya. "Aku ke kamar dulu yah mah, gak usah panggil aku makan malam, aku sudah makan di luar saat belanja tadi."


Saska berpamitan mau istirahat. "Aku juga mau istirahat mah," ucap Arka langsung berangkat.


"Sayang... kamu sakit apa? Kenapa wajah kamu sangat pucat seperti ini?" tanya Vincent.


"Gak kenapa-napa kok, aku hanya kecapean Saja."


"Kamu tidak boleh melarang aku mencari orang bekerja di rumah ini, aku akan mencari yang terbaik agar sesuai seperti yang kamu mau," ucap Vincent.


"Baiklah mas kalau begitu, seperti nya anak-anak juga tidak mau membantu aku lagi, aku juga kasihan kepada mereka yang selalu di repotkan karena aku."


"Nama nya juga Arka Sayang, jangan ambil hati kalau dia seperti itu," ucap Vincent.


"Iyah Mas, kalau begitu mas mandi gih, aku mau bersihin ini semua dan menyusun ke tempat nya."


Vincent mengangguk. Tidak beberapa lama Saska selesai mandi dia turun ke bawah dan membantu Kania.


"Mamah sedang sakit, mamah duduk saja, aku akan merapikan ini semua." ucap nya kepada Kania.


"Gak apa-apa nak, biar mamah saja, kamu pasti lelah." Saska langsung meminta Mamah nya duduk di kursi. "Duduk saja di sana, wajah Mamah sangat pucat," ucap Saska.

__ADS_1


Kania mengangguk. Dia memerhatikan anak nya yang sedang merapikan barang-barang ke tempat dengan lihai karena sudah terbiasa.


"Belakangan ini Mamah memerhatikan kamu seperti nya ada masalah, apa kamu sedang galau?" tanya Kania.


Saska terhenti sejenak dia menoleh ke arah Kania. "Tidak biasanya anak Mamah seperti ini, apa karena perempuan?" tanya kania.


"Enggak kok Mah," ucap Saska. "jangan berbohong deh, kamu adalah anak Mamah, Mamah bisa merasakan nya," ucap Kania.


"Sebenarnya aku, sebenarnya aku itu," dia sangat ragu.


"Ngomong saja nak, kamu bisa percaya sama Mamah kalau mau cerita tentang pribadi Kamu."


"Aku sedang galau karena wanita yang aku suka sudah lama tidak memberikan kabar, dia tidak mau membalas pesan dan menelpon ku."


"Apa itu gebetan kamu?" tanya Kania. "Kalau hanya sekedar gebetan kenapa kamu begitu galau?" tanya Kania.


"Bukan mah, dia adalah pacar ku, sudah satu bulan lebih kami berpacaran, tapi Mamah jangan ngomong sama papah yah," ucap Saska.


"Baiklah kalau begitu, tapi kalau ada waktu perkenalan dia kepada kami," ucap Kania.


"Iyah mah," ucap Saska. "Biasanya kalau seperti itu, pasti kalian lagi ada masalah atau berantem," ucap Kania.


"Enggak Mah. Kami tidak ada masalah sama sekali, Minggu kemarin kami masih baik-baik saja, namun Minggu ini dia sama sekali tidak mau membalas Pesan ku," ucap Saska.


"Apa kamu sudah mencari nya?" tanya Kania. "Sudah mah, namun dia ternyata sudah pulang kampung."


"Ya kalau begitu kamu tunggu saja di sini, kalau dia sudah kembali kamu bisa datang kepada nya dan meminta penjelasan dari nya, apa yang dia maksud kenapa tiba-tiba seperti itu," ucap Kania.


"Iyah Mah, tapi sekarang pikirkan ku sama sekali tidak tenang, aku sangat takut," ucap Saska.


"Jangan berfikir yang aneh-aneh, berdoa saja tidak ada yang terjadi, mungkin dia marah karena sesuatu dan membuat nya salah paham, coba kamu ingat apa yang membuat dia seperti ini."


"Apa kamu pernah membuat nya cemburu dengan dekat dengan wanita lain?" tanya Kania.


"Tidak pernah mah, aku selalu bersama Tina, tidak ada wanita lain yang dekat dengan ku," ucap Saska.


"Masa iya? kamu yakin tidak dekat dengan wanita lain atau ada bercanda dengan wanita lain?" tanya Kania.

__ADS_1


__ADS_2