
Semua orang mengikuti dia dan membuat suasana jadi sangat asik.
Seseorang mengirim kan Vidio Kania dan juga Ulfa kepada Vincent.
Vincent hanya bisa menghela nafas panjang melihat pacar nya itu. "Untung saja dia cantik, jadi tidak mempermalukan aku," batin Vincent.
Vincent langsung mengirim ke Yuda.
Yuda yang sedang berada di Cafe milik nya melakukan pekerjaan nya melihat video itu.
"Tunggu-tunggu, bagaimana bisa Ulfa di sana?" ucap Yuda panik karena Ayah nya juga ada di sana.
Dia melihat Ayah nya ternyata ikut menari dengan Kania dan Ulfa.
Yuda hanya bisa menghela nafas panjang melihat kelakuan Ulfa sama seperti yang di Alami Vincent.
Setelah mereka pulang dari sana Yuda langsung menemui Ulfa, sementara Vincent langsung menelpon Kania.
Vincent menasehati Kania dari handphone nya, Kania tidak berani melawan pembicaraan Vincent.
Begitu juga dengan Yuda yang tidak berhenti mengomel kepada Ulfa karena pakaian nya seksi dan menari di tempat umum.
"Aku hanya terbawa suasana saja, lagian tidak ada orang yang mengenal ku di sana."
"Bagaimana tidak ada? Pria yang ikut menari dengan mu adalah ayah ku," ucap Yuda.
"Tidak mungkin," ucap Ulfa masih gak percaya.
Yuda langsung menunjuk kan foto Ayah nya, Ulfa seketika langsung panik. "Bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan?" tanya Ulfa.
"Sudah-sudah tidak perlu di pikirkan tentang itu, sekarang pulang ganti pakaian kamu!"
"Kamu marah yah sama aku?" tanya Ulfa.
Dia mencoba meminta maaf dan berjanji tidak melakukan nya lagi.
Keesokan harinya Kania dan Ulfa duduk berdua di salah satu Cafe setelah selesai kuliah.
Tomi melihat mereka berdua dan ikut duduk bergabung.
"Huff wajah kalian berdua tampak sangat sedih, ada masalah apa?" tanya Tomi.
Kania menatap Tomi. "Sebaiknya kamu jangan ganggu deh."
"Aku baru saja datang bertanya baik-baik, malah di marahin."
"Ada apa? Coba ceritakan."
"Tidak mungkin kamu tidak tau, jangan berpura-pura seperti itu," ucap Kania lagi.
"Tentang tadi malam?" tanya Tomi, dia juga mendengar kabar dari Vincent yang sekarang Tomi di suruh untuk mengawasi Kania.
__ADS_1
"Sudah lah, tidak perlu di pikirkan, lagian hanya masalah sepele."
"Sepele Bagaimana? sekarang video kita sudah tersebar di beberapa akun orang lain, aku sangat malu sekali.".
"Lalu kamu sendiri kenapa Ulfa?" tanya Tomi.
"Kakak harus tau, kalau pria yang ikut menari bersama ku itu adalah orang tua Yuda, aku sangat malu sekali.."
Tomi menghela nafas panjang.
"Aku tidak bisa membantu kalian kalau seperti ini," ucap Tomi.
Kania dan Ulfa menghela nafas panjang.
"Kania apa kelas mu sudah selesai?" tanya Tomi.
"Masih ada satu jam lagi."
"Kalau bisa jam dua siang kamu sudah di kantor," ucap Tomi.
"Humm baiklah, aku masih ingat jadwal ku kok," ucap Kania.
"Oh iya apa kalian sudah makan? Pesan lah apa yang ingin kalian makan, aku akan membayar nya," ucap Tomi.
"Aku tidak berselera mau Makan, sampai sekarang Yuda mengabaikan ku," ucap Ulfa.
"Huff aku juga tidak berselera mau makan, sebaiknya kita pergi saja Ulfa," ajak Kania karena sebentar lagi kelas akan di mulai.
Dia memesan kopi dan makanan, setelah selesai dia berjalan ke meja kasir hendak membayar makanan nya. Namun dia sangat kaget kenapa tagihan nya cukup banyak.
"Boleh di periksa lagi mbak? seperti nya mesin nya erorr," ucap Tomi.
"Tidak pak, ini sudah benar, kami langsung menggabungkan dengan belanja dua wanita cantik yang duduk bersama bapak tadi."
Tomi menghela nafas panjang. "Bisa-bisa nya mereka menipu ku," batin Tomi.
Kania sudah sampai di kantor dia tidak memiliki meeting hari ini, namun beberapa klien nya datang ke perusahaan nya.
"Senang bertemu dengan bapak," ucap Kania.
"Kami juga sangat senang bertemu langsung dengan penerus perusahaan ini anak dari almarhum," ucap pria yang sudah lanjut usia itu.
"Kamu sangat salut kepada kepintaran kamu, kami sangat jarang menemukan wanita yang pintar dan berani seperti kamu, semoga kedepannya semakin sukses,"
"Terimakasih banyak pak."
"Oh iya dengar-dengar kalau kamu memiliki hubungan yang sangat spesial dengan Vincent, apa itu benar?" tanya klien nya.
Kania bingung harus menjawab apa, karena mereka tidak memiliki hak untuk menanyakan hal pribadi.
"Kamu tidak perlu tersinggung, kami hanya ingin tau memperjelas saja, karena ingin menyangkut masa depan kita semua."
__ADS_1
"Benar pak, seperti yang bapak tau kami bukan lah saudara kandung melainkan saudara angkat."
"Tidak ada yang salah dengan hubungan kami, karena semua nya normal."
"Tapi semua publik tau kalau Vincent adalah Paman kamu."
"Cepat atau lambat mereka akan tau kalau Vincent bukan Paman kandung saya dan dia adalah calon suami saya."
"Kalau begitu sangat bagus sekali, apapun yang terjadi tetap lah perjuangkan hubungan kalian. Karena Vincent juga sudah pantas untuk menikah."
Kania tersenyum. "Selain itu kamu dan Vincent harus memberikan keturunan untuk mengurus perusahaan kedepannya."
Kania mengangguk saja, dia sudah bingung harus menanggapi mereka seperti apa lagi.
"Oh iya kalau boleh tau, kenapa Vincent bisa menjadi paman angkat mu? apa orang tua kalian memiliki hubungan?"
Kania terdiam sejenak, tidak mungkin dia jujur.
Kania mengatakan kalau orang tua mereka sahabat saja.
Agar tidak banyak tanya, Kania mengatakan kalau dia memiliki pekerjaan selanjutnya di luar.
Mereka akhirnya pergi meninggalkan perusahaan itu.
"Huf! Bagaimana bisa laki-laki seperti mereka memiliki sifat penasaran seperti perempuan," ucap Kania.
"Ternyata bekerja seperti ini harus banyak bersabar," batin Kania.
"Bagaimana Kania? Apa mereka semua sudah pergi? Apa yang mereka butuhkan ke sin?" tanya Tomi.
"Kenapa kamu baru saja datang dan membiarkan aku menghadapi mereka?" tanya Kania dengan sangat kesal.
"Mereka itu sangat dekat dengan direktur Je, jadi tidak ada gunanya kita merespon mereka dengan baik," ucap Tomi.
"Tapi saham mereka di perusahaan kita cukup besar."
"Karena itu saja pak Vincent masih mempertahankan mereka, kalau tidak mungkin pak Vincent sudah menghapus nama mereka."
Kania menghela nafas panjang.
"Pantesan saja dia sangat penasaran kehidupan pribadi ku dan juga hubungan ku dengan Paman Vincent."
"Sudah tidak perlu di hiraukan, sekarang kamu lihat lah ini pekerjaan yang harus kamu selesaikan sangat banyak."
"Aku heran kenapa sih seorang bos memiliki pekerjaan yang lebih banyak, bahkan aku tidak memiliki waktu untuk istirahat," ucap Kania.
"Jangan sampai Bu Mona mendengar keluhan mu."
Kania langsung duduk dengan benar dan mengembalikan senyuman nya yang manis.
"Demi restu calon mertua," ucap Kania membawa semua formulir ke dalam ruangan Vincent.
__ADS_1