
Vincent lupa kalau istri nya memiliki banyak penghargaan dan pintar juga, selain itu istri nya bukan hanya ibu rumah tangga biasa.
Vincent Tampa di suruh langsung ikut berdiri di sudut bersama anak-anak nya.
"Lain kali kalau aku melihat mas masih memanjakan anak-anak, aku akan menyita semua kartu kredit, uang dompet dan semua nya agar mas tidak membeli hal seperti ini lagi."
"Iyahh," jawab Vincent.
Kania menghela nafas dia langsung pergi meninggalkan mereka setelah marah-marah.
"Kalian tidak perlu khawatir, Papah masih punya uang untuk beli mainan yang banyak."
"Gak mau pah, nanti mamah marah lagi," ucap Saska.
"Huff lagian kamu sih, kenapa nilai nya bisa jelek?" tanya Vincent.
"Aku lagi bosan belajar Pah."
Di malam hari nya.. Vincent baru saja selesai mandi dia melihat istrinya duduk bersandar di kasur sambil membuka laptop nya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Vincent.
Namun Kania mengabaikan nya.
"Jangan kepo deh, sebaiknya mas pergi lihat anak-anak belajar," ucap Kania.
"Kamu lagi datang bulan yah?" tanya Vincent.
"Kenapa mas bertanya?" tanya Kania.
"Humm, aku hanya ingin tau saja."
"Iyah, aku lagi datang bulan sudah dua hari."
"Pantesan," ucap Vincent.
"Pantesan apa? Kamu mencoba meledek ku?" tanya Kania.
"Enggak kok sayang, kamu lanjut saja bekerja yah," ucap Vincent karena istri nya memiliki bisnis online.
Vincent keluar dari kamar dia melihat anak-anak sedang belajar.
"Nah gitu dong belajar, setelah selesai belajar baru main."
"Ada apa dengan bisa papah bantuin?"
"Ini Pah, aku bingung harus mengerjakan nya seperti apa," ucap Saska.
Ya begitulah setelah Kania memiliki dua anak, dia jauh lebih galak, namun tetap saja mereka semakin mencintai Kania.
Waktu nya tidur...
"Mas, apa kamu tidak kefikiran mau memberikan Arka Adik?" tanya Minhui.
Vincent langsung menggeleng kan kepala nya. "Sudah cukup hanya mereka saja, aku tidak mau kamu kesakitan lagi, aku sangat takut kalau kamu meninggalkan aku."
"Tapi akhir-akhir ini Arka membahas tentang anak bayi terus."
__ADS_1
Vincent menggeleng kan kepala nya. "Kamu jauh lebih berharga dari apapun, Arka dan Saska sudah cukup."
"Kita belum punya anak perempuan."
"Kita sudah memiliki Shela, nanti kalau mereka menikah pasti kita akan memiliki cucu perempuan dan menantu kita juga perempuan."
Karena keputusan mereka berdua, akhirnya Kania juga mengurung kan niat memiliki anak lagi, dia juga takut.
Beberapa tahun kemudian...
Saska sudah duduk di kelas tiga SMA, sementara Arka duduk di kelas satu SMA.
Bukan saudara nama nya kalau tidak berantem hanya perkara kecil saja. Terkadang Kania lelah melihat adik kakak itu berkelahi. Namun walaupun seperti itu mereka saling menyanyangi.
Hari ini mereka berdua kena hukum hanya karena merebut Motor. Kebetulan motor hanya satu saja.
Arka cukup egois karena selalu merebut apa yang menjadi milik kakak nya. Saska cukup pendiam dan penurut.
"Arka!" panggil Somi, teman akrab satu kelas nya.
"Iyah kenapa?" tanya Arka.
"Hari ini ada balapan motor, apa kamu mau ikut?"
"Ikut dong, aku sudah lama tidak datang ke acara seperti itu."
"Arka, kau mau kemana?" tanya Saska.
"Aku mau ikut Somi ke acara balapan."
"Acara balapan? Apa kamu sudah ijin sama mamah?"
"Sebaik nya kamu ijin dulu dek."
"Mamah pasti gak ngijinin kak."
"Ya sudah kalau begitu aku telpon Mamah dulu." namun Arka langsung menahan tangan Kakak nya.
"Aku akan pulang cepat kak, aku janji deh."
Saska menghela nafas panjang. Tidak beberapa lama Teman perempuan Saska datang.
"Haii Arka, kamu mau kemana?" tanya Tina.
"Mau main sama Arka Kak, tapi kak Saska gak bolehin."
"Biarkan saja dia main Saska, Lagian dia sudah besar bukan anak SD lagi."
"Kamu pergi saja," ucap Tina. Saska menghela nafas panjang melihat adiknya itu.
"Selamat siang anak Papah..." ucap Vincent mendatangi Saska yang sedang minum di Cafe mengerjakan tugas nya.
"Papah kok bisa di sini?" tanya Saska.
"Kebetulan papah lewat, eh lihat anak papah lagi sendirian di sini."
"Kamu sedang mengerjakan tugas?" tanya Vincent.
__ADS_1
"Iyah Pah," jawab Saska.
"Adik kamu mana? Jangan bilang kalau dia pergi sama teman-teman nya lagi?" tanya Vincent.
"Seperti yang papah tau, dia sulit di bilangin. Nanti kalau Mamah tau dia pasti kena marah."
"Oh iya Pah, Mamah kemana?" tanya Saska.
"Tadi baru saja bilang kalau dia pergi perawatan sama teman-teman bisnis nya. Mungkin sebentar lagi sudah pulang ke rumah. Kamu juga segera pulang sebelum Mamah marah."
Hari semakin sore, Saska pulang di sambut oleh Kania dengan senyuman manis.
Walaupun kini umur Kania sudah tua, tapi perubahan wajah nya tidak terlalu jauh, dia masih rajin perawatan dan juga mau menghabiskan banyak uang untuk perawatan.
Sementara Vincent, sudah terlihat lanjut usia. Namun tetap saja semakin tampan.
"Kemana adik kamu?" tanya Kania.
"Aku pulang Mamah...." suara motor Arka kedengaran dan juga teriakan Arka.
"Tumben-tumbenan kalian pulang pisah?" tanya Kania.
"Aku dari Cafe belajar mah, tadi Arka pergi sebentar sama teman nya."
"Ya sudah kalau begitu pergi mandi gih, mamah sudah masak makanan kesukaan kamu," ucap Kania kepada Saska.
"Loh, cuma untuk kak Saska saja mah, untuk aku mana?" tanya Arka.
"Jangan berbohong sama Mamah, kamu dari mana hari ini?" tanya Kania.
"Mampus deh aku, Mamah sangat sulit di bohongi," ucap Arka.
"Iyah mah, aku hari ini pergi Nonton balapan dengan Somi, sebentar saja."
"Awas saja kalau kamu ikut-ikutan yah!" ucap Kania.
"Enggak kok mah, aku boleh masuk kan, aku sudah sangat lapar."
Setelah mereka berdua selesai mandi, Kania melayani mereka makan, sementara dia menunggu suami nya terlebih dahulu baru makan.
"Masakan Mamah enak banget sih," ucap Arka. Dia selalu tau caranya membuat Kania senang.
"Kalian lanjut makan yang banyak yah," ucap Kania.
Setelah anak-anak nya tumben dewasa, makan mereka sangat banyak.
Di malam hari nya Vincent baru saja pulang. Seperti biasa dia akan mencium kening istrinya dan memeluk nya.
"Apa kerja hari ini melelahkan?" tanya Kania.
Vincent mengangguk. "Tadi nya sangat melelahkan, sekarang tidak lagi karena melihat istri ku yang sangat cantik."
"Hum kamu bisa saja," ucap Kania.
"Aku sangat lapar, apa kamu masak? jangan bilang anak-anak sudah menghabiskan semua nya?" tanya Vincent.
"Mamah sayang sama papah, pasti mamah memisahkan untuk papah," jawab Arka yang duduk di sofa.
__ADS_1
"Nanti kalau kamu mencari istri, harus bisa seperti Mamah mu," ucap Vincent.
"Bagaimana bisa mencari? Papah sama Mamah sudah menjodohkan aku dengan anak sahabat Papah," ucap Arka.