Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 198


__ADS_3

"Tapi rumah ini banyak kenangan buruk, aku ingin memperbaiki semua nya dengan kamu di rumah baru kita." ucap Jeki.


"Baiklah kita akan pindah setelah aku melahirkan," ucap Minghui. Jeki sangat senang.


"Terimakasih banyak sudah mau kembali bersama ku," ucap Jeki sambil menggenggam tangan Minhui.


"Waktu nya makan, ayo lanjut makan dulu," ucap Minhui.


Setelah selesai makan mereka pun tidur ke kamar. "Hari ini Saska tidak di sini," ucap Jeki.


"Maksud kamu apa?" tanya Minhui.


"Humm aku pengen melakukan nya," ucap Jeki.


"Jangan aneh-aneh deh!" ucap Minhui. "Kita sudah melakukan nya kemarin."


"Sekali saja tidak cukup," ucap Jeki.


Minhui menghela nafas panjang. "Aku sangat lelah, sebaik besok saja," ucap Minhui.


Namun Jeki sangat keras kepala, dia terus membujuk Minhui sampai akhirnya Minhui mau.


Jeki berjanji akan melakukan nya dengan cepat agar Minhui tidak terlalu kelelahan.


Keesokan harinya..


Vincent sudah bisa keluar dari kamar, dia melihat Kania sedang menemani Saska bermain. Dia tersenyum bahagia, seketika sakit yang ada di badan nya hilang begitu saja.


"Mas Vincent, kenapa mas keluar dari kamar?" tanya Kania.


"Aku sangat bosan di kamar," ucap Vincent.


Kania menghela nafas kasar. "Kalau ngeyel seperti ini, aku takut mas Vincent tidak akan sembuh," ucap Kania.


"Tidak apa-apa agar kamu bisa menjaga ku terus," ucap Vincent.


"Seperti anak kecil saja," ucap Kania. Vincent berbaring di paha Kania.


"Aku ingin tidur di sini saja," ucap nya sambil berbaring di paha Kania.


"Di kamar saja mas, di sana jauh lebih nyaman."


namun Vincent tidak mau, dia menggeleng kan kepala nya.


"Papah.. Papah..." Saska menepuk-nepuk perut Vincent karena berbaring di sofa.


"Apa sayang?" tanya Vincent.


"Dia pasti marah karena mas Vincent tidur di sini," ucap Kania.


Vincent duduk dia membawa Saska ke gendongan nya, namun ternyata Saska mau duduk di pangkuan Kania.


Vincent tertawa melihat nya. "Kamu sangat cemburuan sekali, apa kamu lupa kalau dia adalah istri papah."

__ADS_1


"Dia cemburu karena turunan dari kamu," ucap Kania.


"Apakah dia Tampan seperti ku?" tanya Vincent lagi.


"Humm menurut ku Saska jauh lebih tampan."


Vincent Menatap kesal, Kania tertawa.


"Kamu yakin? kamu dari awal mengatakan aku Tampan, walaupun aku sudah tua tapi kamu mengatakan kalau aku itu tetap tampan dan awet muda."


"Baiklah, kamu adalah paling tampan, namun saat sakit seperti ini kamu sangat jelek," ucap Kania. Vincent yang tadi nya sudah senang di puji, sekarang dia malah kesal.


"Kamu membuat ku sangat kesal, aku tidak akan melepaskan kamu," ucap nya kepada Kania sambil mengelitiki istri nya, namun dia belum memiliki kekuatan sehingga mudah lelah.


"Kepala ku tiba-tiba pusing," ucap Vincent. "Tu kan, sudah di bilangin kalau kamu itu belum sembuh," ucap Kania.


Vincent kembali berbaring di paha istrinya dan meminta Kania memijit-mijit kepala nya.


"Aku tidak mau sakit, aku sangat bosan."


"Maka nya istirahat yang cukup, makan yang banyak tidak lupa minum obat agar cepat sembuh," ucap Kania.


Vincent mengangguk. "Iyah, aku mau istirahat di sini sama kamu. Di kamar aku tidak punya teman," ucap Vincent.


Dua hari kemudian akhirnya Vincent sembuh. Dia sudah bisa beraktivitas seperti biasanya.


"Hari ini aku sudah sembuh, aku harus berangkat kerja sekalian ngantar Saska ke rumah Jeki," ucap Vincent.


"Sudah, terimakasih yah sudah mau merawat ku, aku akan memenuhi permintaan kamu sebagai tanda terimakasih."


"Tidak perlu mas, melihat kamu sembuh saja sudah membuat aku senang."


Vincent tersenyum.


"Aku baru saja selesai masak, ayo makan dulu. Ingat jangan terlalu memaksakan diri untuk bekerja," ucap Kania."


Vincent mengangguk. Tidak beberapa lama akhirnya selesai dia mau berangkat.


"Humm boleh gak Saska aku saja yang nganter ke rumah kak Jeki?" tanya Kania.


"Kamu yakin?" tanya Vincent.


"Aku juga mau mengantar kan kado yang kemarin."


"Ya udah kalau begitu, jangan lupa kabarin aku kalau kamu sudah sampai di sana."


Vincent berangkat bekerja. Namun sebelum nya dia memeluk istrinya erat terlebih dahulu.


Setelah Vincent pergi dia melihat Saska di dalam. "Saska..." panggil Kania.


Saska langsung berlari ke arah Kania.


"Ternyata semenjak Saska di sini rumah ini tidak sepi lagi, pasti ada saja yang membuat ramai." ucap Kania.

__ADS_1


"Ternyata belajar ikhlas dan menerima itu tidak lah mudah, tapi setelah di coba kita mendapatkan hikmah yang baik," ucap Kania.


Dia mulai menyanyangi Saska dan dia sudah sudah mulai nyaman dengan Saska.


"Kalau kamu tidak di sini, siapa yang akan menangis setiap pagi, setiap mau makan dan berteriak-teriak kalau lagi main?"


"Walaupun hanya empat hari kamu di sini, tapi itu sangat berkesan sekali," ucap Kania.


"Apakah Saska bisa tinggal lebih lama di sini? Apakah Jeki akan mengijinkan nya?"


"Tapi jangan dulu deh, keadaan ku juga terkadang baik terkadang tidak."


Kania siap-siap mau mengantar kan Saska.


Dia mengendarai mobi sendiri, tidak lupa dia membuat Saska duduk di kursi bayi di belakang.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai. "Seperti nya kak Jeki sudah berangkat bekerja," ucap Kania.


Dia membawa Saska pulang. "Permisi... mbak Minhui kami datang..." ucap nya dari balik pintu luar.


Tidak beberapa lama pintu terbuka. "Saska... Tante sangat merindukan kamu nak, sini sama Tante," ucap Minhui.


"Ya ampun Kania, kenapa tidak bilang kalau mau mengantar kan Saska? Kami bisa datang menjemput nya."


"Gak apa-apa mbak, sekalian aku juga mau main ke sini."


"Ayo masuk dulu."


Mereka masuk ke dalam.


"Oh iya mbak, ini ada kado dari aku dan mas Vincent, semoga lahiran nya nanti lancar."


Minhui mengucapkan terimakasih.


"Humm aku sekalian mau ngomong, kalau nanti mbak melahirkan dan tinggal di rumah sakit, gak apa-apa kok Saska sama aku saja." ucap Kania.


Minhui Menatap Kania. "Aku tidak salah dengar kan?" ucap nya.


Kania menggeleng kan kepala nya. "Saska juga anak nya mas Vincent, dia harus bertanggung jawab merawat Saska."


"Terimakasih Kania, aku kemarin memikirkan ini, namun ternyata kamu mau."


Kania mengangguk. Mereka membahas lahiran di mana dan bagaimana.


Sebenarnya itu juga jadi pelajaran untuk Kania nanti nya.


Kania menghabis kan waktu di rumah Minhui, mereka bercerita, masak dan juga menonton bersama.


Sementara di tempat lain Jeki, Vincent dan Fadil janjian di luar.


Vincent dan Jeki kebingungan apa yang membuat Fadil ingin bertemu dengan mereka lagi.


Karena sama-sama penasaran akhirnya mereka pergi dan menunggu di tempat yang sudah di janjikan.

__ADS_1


__ADS_2