
"Minhui... Saska...." panggil nya namun tidak ada yang datang satu pun.
"Kemana mereka?" tanya Jeki. Sambil terus mencari ke arah dapur. Namun tetap tidak ada.
Dia membuka kamar karena mendengar suara Saska. Ternyata mereka di dalam kamar sambil bermain.
"Kamu sudah pulang?" tanya Minhui kaget karena Jeki tiba-tiba membuka pintu. "Aku pikir apa yang terjadi karena rumah sangat sepi, ternyata kalian ada di dalam sini," ucap Jeki.
Minhui menoleh ke arah Saska. "Dia tidak mengijinkan aku keluar," ucap Minhui.
Jeki menghela nafas panjang, dia menatap ke arah Saska.
"Apa yang kamu lakukan? Om sudah bilang jangan nakal di rumah." Saska langsung memeluk Jeki mengalihkan marah nya Jeki.
Karena belum makan, mereka makan malam bersama di meja makan.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai. Karena sangat lelah Jeki langsung ke kamar mau tidur karena sudah sangat lelah bekerja seharian.
Minhui masuk ke kamar dia melihat Jeki sudah tidur.
"Kenapa dia cepat tidur? Tidak biasanya," batin Minhui.
Jeki sadar kalau Minghui berdiri tidak jauh dari nya.
"Apa kamu belum ngantuk? Ayo. tidur di sini," ajak Jeki menepuk tempat tidur di samping nya.
Minhui naik ke tempat tidur.
Walaupun sedang mengantuk dia tetap mengoleskan salep ke perut Minhui. "Kenapa kamu sangat males mengoles kan ini? Kalau kamu tidak memakai nya perut kamu akan terlihat jelek," ucap Jeki.
Minhui tidak mengatakan apapun dia hanya bisa pasrah di omelin oleh Jeki.
"Oh iya mulai besok kamu sudah mulai olahraga tipis-tipis agar badan kamu tidak sering sakit," ucap Jeki.
"Aku akan melakukan nya besok," ucap Minhui.
Jeki tersenyum. Tidak beberapa lama akhirnya mereka memutuskan untuk tidur.
Berbeda dengan Kania yang lagi-lagi harus menunggu Vincent.
"Kenapa dia belum pulang juga?" batin Kania.
Kania menutup pintu karena sudah malam.
Namun dia malah ketiduran, untung nya Vincent membawa kunci cadangan agar tidak menggangu istri nya yang sedang tidur.
Beberapa hari kemudian...
Vincent sangat sibuk dengan pekerjaan nya, dia hampir melupakan Kania yang sedang mengandung anak nya.
Namun mau bagaimana lagi, pekerjaan nya sangat membutuhkan dia untuk saat ini.
Yang tadi nya mereka memiliki masalah, sekarang bahkan mereka sudah saling canggung, tidak ada pembicaraan layak nya suami istri.
"Kania!" tiba-tiba teman-teman nya datang membuat nya terkejut.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakuin di sini?" tanya Kania.
"Emang nya kita gak boleh ke sini? Kami merindukan kamu."
"Tapi kenapa kalian gak ngomong mau ke sini?"
"Kami ke sini ada kegiatan. Kamu kenapa di sini sendirian? Ulfa mana?"
"Ulfa bekerja."
"Suami kamu di mana? Kenapa kamu terlihat sangat Sedih.
"Aku sedang mencari tempat untuk sendiri, aku butuh waktu sendirian."
"Kebetulan sekali kita bertemu di sini, ayo ikut dengan kita."
Mereka pergi membawa Kania mengikuti kegiatan mereka agar Kania tidak sendirian.
"Sayang...." Panggil Yuda.
Ulfa menoleh ke arah Yuda.
"Kenapa?" tanya Ulfa karena Yuda datang ke usaha baru nya.
"Aku bawa minuman untuk kamu."
"Tumben-tumbenan banget, ada apa nih?" tanya Ulfa.
"Aku mau ngajakin kamu makan malam di luar," ucap Yuda. Ulfa tersenyum.
"Gak ada apa-apa sih, hanya saja kita akhir-akhir ini sangat sibuk, aku akan menutup Cafe malam ini."
"Sayang banget, bagaimana kalau banyak orang yang merencanakan untuk ke Cafe nanti malam?"
"Ya sudah kalau begitu, biarkan yang lain mengurus nya, kita tidak bisa menunda makan malam kita karena aku sudah memesan semua nya.
Ulfa hanya bisa tersenyum. "Oke baiklah kalau begitu," ucap Ulfa.
Di rumah Jeki...
Hari ini Jeki tidak berangkat bekerja. Dia sedang duduk di teras memerhatikan Minhui yang sangat asik berkebun akhir-akhir ini.
Namun saat sedang asik menikmati sore hari, tiba-tiba ada mobil yang berhenti di depan gerbang.
"Loh itu siapa?" batin Jeki.
Minhui juga penasaran siapa yang datang ke rumah mereka.
"Minhui!" Tiba-tiba Fikri memanggil nama Minhui.
"Fikri, kamu kenapa bisa sampai di sini? Kamu tau dari mana alamat aku?" tanya Minhui.
Jeki jelas masih ingat pria itu siapa. "Ayo masuk dulu," ucap Minhui.
"Aku mengkhawatirkan kamu, apa kamu baik-baik saja?"
__ADS_1
"Aku baik kok, kamu sendiri kenapa bisa tau alamat ini?"
"Cerita nya panjang, tapi aku sangat merindukan kamu."
Jeki mendekati mereka. Jeki hendak berbicara namun di tahan oleh Minhui.
"Ayo masuk dulu, pasti sangat lelah ke sini."
Minhui melupakan Jeki dan Saska karena kedatangan Fikri.
Malam ini Fikri juga akan menginap di rumah Jeki. Minhui mengijinkan nya.
"Minhui! Apa-apaan maksud kamu mengijinkan pria lain menginap di sini?" tanya Jeki.
"Dia sahabat aku, untuk satu malam tidak masalah, lagian dia juga sudah membantu ku sebelumnya.
"Tapi tidak menginap di sini juga, kamu tau kan kalau aku tidak ingin orang lain menginap di sini."
"Aku mohon sekali ini saja," ucap Minhui.
Jeki menghela nafas panjang. "Terserah kamu saja deh," ucap Jeki.
Jeki tampak kesal namun Minhui biasa saja.
Hari semakin malam..Jeki melihat Minhui yang asik bercanda gurau dengan Fikri dan Saska.
"Pria itu seperti nya ada niat lain," batin Jeki.
Rasa cemburu tentu nya ada, dia juga sangat takut kalau Minhui berpaling kepada Fikri, karena bisa di akui Fikri terlihat tampan dan juga tajir.
Waktunya tidur, Minhui dan Saska masuk ke dalam kamar. "Kenapa kamu belum tidur?" tanya Minhui sambil duduk di pinggir tempat tidur dan melihat Jeki yang duduk di sofa.
"Apakah menyenangkan bercanda dan bersenang-senang dengan pria itu?" tanya Jeki.
Minhui dengan polos nya mengangguk. "Fikri orang yang baik, berteman dengan nya sangat lah menyenangkan.
"Tapi dia tidak menganggap mu sekedar teman saja, dia menyukai mu dan berniat mau mendekati kamu."
"Tidak mungkin lah, aku sudah hamil seperti ini dia mau kepada ku," ucap Minhui.
"Jangan ngomong yang aneh-aneh deh, ayo tidur," ucap Minhui.
"Tapi yang aku katakan bener," ucap Jeki.
"Ayo tidur, ini sudah malam, Saska sudah ngantuk."
Minhui mengalihkan pembicaraan walaupun dia tau yang di katakan oleh Jeki benar.
"Aku mau kamu menjaga jarak dengan pria itu, pokoknya aku gak setuju kamu dengan dia."
"Waktu nya tidur..." ucap Minhui. Jeki sangat kesal dia tidak ingin tidur bahkan tidak mengantuk sama sekali.
Dia semalaman main handphone di sofa sampai akhir nya ketiduran.
Minhui melihat Jeki sudah tidur di sofa.
__ADS_1
"Aku minta maaf membuat kamu kefikiran dan marah seperti ini, tapi aku tidak mungkin mengusir Fikri," ucap Minghui.