Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 209


__ADS_3

"Dia benar-benar sangat menggemaskan, dia juga sangat pandai membuat orang suka kepada nya."


Sementara Arka di depan pintu kamar orang tua nya mondar-mandir, mau mengetuk pintu namun takut sekali.


"Apa yang kamu lakukan nak?" tanya Vincent baru saja mau masuk ke dalam kamar.


"Pah, bantuin aku ngomong sama Mamah."


Vincent menatap heran.


"Maksudnya?" tanya Vincent.


"Aku mau minta maaf, karena aku mamah sama papah jadi ribut."


"Sebaiknya besok saja yah, Mamah seperti nya kecapean dan lagi tidak mood."


Setelah itu Arka menunggu sampai besok.


Kebetulan hari Sabtu, mereka libur sekolah.


"Mamah," ucap Arka melihat Kania sedang duduk di sofa ruang TV. "Apa?" tanya Kania.


"Mamah marah yah sama aku?" tanya Arka.


"Aku minta maaf Mah, aku gak akan bangun kesiangan lagi."


"Aku minta maaf, aku jadi buat mamah sama Papah berantem." Arka sangat merasa bersalah.


"Mamah tidak marah, mamah hanya kesal karena kamu sangat susah di bilangin."


"Kamu bisa main game tapi ingat waktu, dan kalau di bangunin langsung bangun," ucap Kania.


"Iyah mah, aku minta maaf. Mamah jangan diam lagi."


Kania tersenyum dia langsung membawa Arka ke pelukan nya.


"Sudah jangan sedih lagi, lain kali jangan seperti itu karena mamah tidak suka."


Arka memeluk Mamah nya. "Kak Saska mana mah?" tanya Arka.


"Dia pergi sama Tina, katanya beli alat-alat di sekolah."


"Oohh. Aku juga boleh pergi kan mah?"


"Kemana? Mau jalan-jalan sama Shela?"


"Iyah Mah." Arka menjadikan Shela alasan agar dia di ijinkan pergi oleh mamah nya.


"Ya sudah kalau begitu, kamu boleh pergi." Arka langsung siap-siap.


Arka berangkat menggunakan motor Saska.


Tidak beberapa lama dia sampai di depan rumah Mita.


Mita sudah menunggu nya dari tadi di depan rumah nya.


"Maaf yah buat kamu lama nungguin di luar, ayo naik," ajak Arka.


"Tumben banget kamu di ijinkan keluar?" tanya Mita.


"Mamah ku lagi baik, jadi dia memberikan ijin."

__ADS_1


Mereka pergi nonton dan jajan ke mall.


Sementara di rumah Shela. Dia baru saja selesai bersih-bersih rumah. Karena mereka tidak memiliki Art, di tambah lagi mamah nya hamil Tua.


"Mah, ini jus untuk Mamah," ucap Shela.


"Kamu tidak perlu repot-repot nak, ini hari libur kamu, seharusnya kamu istirahat di kamar."


"Gak apa-apa Mah, minum dulu agar adik aku sehat."


Shela mengelus perut mamah nya.


"Aku gak sabar deh nungguin dia lahir," ucap Shela.


"Oh iya mah, Papah kapan ke sini sih? sudah dua bulan kita di sini tapi papah gak juga datang."


"Nanti kalau sudah ada waktu nya, papah pasti datang kok."


"Mah, tadi malam siapa yang gendong aku ke kamar?" tanya Shela.


"Saska, kamu sih kebiasaan banget kalau tidur kaya orang mati, gak sadar sama sekali."


"Aku sangat kelelahan mah, aku berteriak sekuat mungkin agar kak Saska menang."


Minhui tersenyum. "Humm kapan kamu mengajak Arka ketemu mamah? Mamah sangat ingin bertemu dengan nya."


"Dia susah banget mah, dia selalu menolak ajakan ku."


"Loh bukannya kamu bilang dia baik dan juga kalian sudah pacaran?"


"Awalnya sih aku berfikir seperti itu, namun akhir-akhir ini dia menyebalkan sekali."


"Hari ini aku ada latihan basket sama Kak Saska, boleh kan mah?" tanya Shela.


"Boleh dong," ucap Minhui. Shela tersenyum dan mengucapkan terimakasih.


Di sore hari nya..


"Kamu siap?" tanya Saska ketika sudah di lapangan basket sekolah.


Shela mengangguk. Mereka mulai latihan. Namun Saska salut karena Shela sudah sangat pintar, badan nya lincah.


"Wahh, aku yakin sih kamu menang melawan Arka besok," ucap Saska.


"Semoga saja, agar dia tidak sombong lagi," ucap Shela.


Shela melihat Saska berkeringat. Dia mengambil tisu dari tas nya hendak menyeka keringat Saska. Namun kedua nya saling bertatapan karena Saska kaget.


Begitu juga dengan Shela, dia jadi terdiam karena Saska menahan tangan nya.


"Humm, maaf kak," ucap Shela langsung menarik tangan nya.


Saska langsung mengeringkan wajah nya dengan tisu dari Shela.


Setelah selesai dari sana mereka berdua keluar bersama.


"Apa kamu mau makan bareng?" tanya Saska.


"Tenang saja, ini traktiran ku."


"Tapi ini sudah sore kak, aku harus pulang."

__ADS_1


"Oohh, ya udah deh kalau begitu."


Shela masuk ke dalam mobil nya dan meninggalkan Saska.


Shela memegang tangan nya yang di sentuh oleh Saska tadi.


"Kenapa jantung ku berdetak sangat kencang ketika bersentuhan dan di tatap oleh kak Saska yah?" batin Shela.


Sementara Saska mampir sebentar di toko kue kesukaan mamah dan adik nya. Dia membeli beberapa kota dan pulang ke rumah.


Kania sangat suka ketika Saska paham apa yang dia mau.


Terkadang dia melupakan suami nya karena sudah memiliki dua anak yang membuat nya bahagia.


Vincent sedang berkumpul-kumpul bersama teman-teman nya, namun Kania meminta nya cepat pulang.


Vincent yang takut istri, harus menuruti perintah istrinya.


Sampai di rumah dia kaget karena rumah sangat gelap, dan sangat sepi.


"Apa yang terjadi? Kenapa sangat gelap?"


"Sayang? Saska! Arka! Apa kalian di dalam?" tanya Vincent.


Dia memanggil nama mereka semua secara bergantian, namun tidak ada jawaban sama sekali.


Vincent menghidupkan lampu dan sangat kaget ternyata istri dan anak-anaknya ada di tengah-tengah rumah.


Lampu di nyalakan, lilin kue hidup dan Arka membuat letusan.


"Happy birthday Papah!!!!" ucap mereka dengan kompak.


Vincent baru ingat hari ini dia ulang tahun.


Arka langsung memasang kan topi ulang tahun kepada Vincent.


Vincent meniup lilin dan mencium istri bergantian dengan anak-anak nya.


"Bagaimana pah? apa Papah bahagia?" tanya Kania. Vincent terharu dia tidak menyangka sudah tua tapi tetap bersama perempuan yang sudah menemani nya dari kecil.


Dia memeluk Kania sambil menangis dan mengucapkan terimakasih.


Arka dan Saska juga sangat terharu. "Untuk merayakan ini, bagaimana kalau kita jalan-jalan?" tanya Vincent.


"Jalan-jalan?" tanya Arka sangat bersemangat.


"Kemana kalian mau?" tanya Vincent.


"Humm terserah papah sama Mamah saja," ucap Saska.


Mereka menetapkan untuk pergi ke Danau Toba, cukup jauh dari tempat mereka hanya saja tempat itu cukup terkenal.


Karena kalau keluar negeri tidak lah mungkin, mereka hanya mendapatkan libur satu Minggu saja.


Saska tidak boleh banyak libur karena dia sudah kelas tiga.


Sebenarnya dia tidak ingin ikut, tapi dia tidak mau membuat papah nya sedih.


"Humm boleh gak, Shela ikut mas?" tanya Kania.


"Tentu boleh dong, oh iya kamu ajak saja Tina Saska," ucap Vincent.

__ADS_1


__ADS_2