Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 135


__ADS_3

Di malam hari nya Kania sedang berbincang-bincang dengan Yuda di depan rumah nya, tidak hanya Yuda tapi teman-teman nya yang lain juga.


Jam delapan malam Vincent baru saja pulang. Dia tidak mau mengganggu istri nya terlebih dahulu itu sebabnya dia langsung ijin masuk ke dalam.


"Suami mu semakin tampan sekali Kania, apa yang sudah kamu berikan sehingga terlihat semakin besar seperti itu?" tanya teman nya.


"Mungkin sesuatu yang di miliki oleh Kania sangat Cocok pada pak Vincent," saut Teman nya lagi.


Kania dari tadi sangat malu karena mereka tidak berhenti menggoda Kania.. Kania juga tidak tau mereka paham hal seperti itu dari mana.


Vincent menunggu istri nya sambil main handphone di ruang tamu. Dia melihat ke arah luar di mana mereka masih sangat asik berbincang.


Vincent melihat masih ada sisa dua paper bad oleh-oleh yang belum di bagikan oleh Kania.


"Ini untuk Ulfa, yang satu nya untuk apa?" batin Vincent.


Vincent karena bosan dia melihat isi paper back itu.


Yang satu nya seperti biasa perintilan perempuan, sementara yang satunya lebih ke pakaian yang lebih besar, seperti daster yang cantik, dan juga beberapa barang-barang untuk ibu-ibu pada umumnya.


Vincent menghela nafas panjang. "Untuk apa Kania membeli barang-barang seperti ini jauh-jauh? Di sini sangat banyak seperti ini," batin Vincent.


"Mas..." Kania masuk karena teman-teman nya sudah pergi.


Vincent menoleh ke arah Kania. "Barang-barang yang ini untuk siapa? Emang nya kamu punya teman yang sudah memiliki anak?" tanya Vincent.


"Oohhhh itu, itu untuk istri salah satu rekan di kantor." jawab Kania.


"Kenapa bisa kamu membeli hadiah untuk nya? Apa kalian cukup dekat?" tanya Vincent lagi.


Kania mengangguk. "Cukup dekat, itu sebabnya aku membeli ini untuk nya," ucap Kania.


"Humm ya sudah kalau begitu, saya mau mandi," ucap Vincent.


Kania mengangguk. Setelah Vincent pergi Kania langsung mengambil barang-barang itu dan membawa nya ke dalam mobil nya.


"Mas Vincent terlalu kepo banget," ucap Kania.


Kania menyiapkan makan malam.

__ADS_1


"Hari ini kenapa mas pulang malam? Bukan kah sudah aku bilang untuk istirahat dulu?" tanya Kania.


Vincent tersenyum. "Di kantor aku tidak melakukan apapun, hanya berbicara tentang bisnis dengan Tomi dan beberapa Staf lainnya."


"Humm, ya sudah makan dulu," ucap Kania sambil memberikan nasi, lauk di piring.


"Istri ku..." panggil Vincent. Kania menoleh ke wajah Vincent.


"Iyah, Kenapa mas?" tanya Kania.


Vincent melihat ke arah badan nya. Kania kebingungan.


"Semua orang mengatakan aku semakin gemuk, aku juga terlihat lebih berbeda dari sebelumnya, apa yang sudah kamu lakukan kepada ku?" tanya Vincent.


Kania terdiam sejenak. "Kenapa kamu diam?" tanya Vincent.


"Aku tidak memberikan apapun, tidak mungkin aku meracuni suami ku sendiri," ucap Kania.


Tidak beberapa lama akhirnya selesai makan, Vincent dan Kania masuk ke dalam kamar, Kania langsung melompat ke tempat tidur.


Sementara Vincent memerhatikan bentuk badan nya di depan cermin.


"Seperti nya besok aku harus melakukan olahraga yang sangat esktra agar badan ku tidak gemuk," ucap Vincent.


"Tapi..."


"Sudah tidak ada tapi-tapian, kalau badan mas semakin berisi itu artinya aku melayani mas dengan baik, di tempat tidur mau pun di meja makan," ucap Kania.


Vincent langsung menatap Kania. "Apa benar yang mereka katakan kalau, Susu yang kamu berikan sangat cocok untuk ku," ucap Vincent.


"Husss pembicara apa itu? Bagaimana kalau ada yang mendengar, aku sendiri yang mendengar nya sangat malu," ucap Kania.


Vincent naik ke tempat tidur, dia langsung berbaring di lengan Kania, meminta Kania memeluk nya yang tidak mengenakan pakaian.


"Apakah besok kamu sudah masuk kuliah?" tanya Vincent. Kania mengangguk.


"Iyah, aku harus kembali kuliah seperti biasa," ucap Kania.


"Huff aku pasti tidak akan memiliki waktu lebih banyak dengan kamu," ucap Vincent.

__ADS_1


"Humm bagaimana kalau mas mengijinkan aku kembali bekerja seperti biasa?" tanya Kania.


Vincent langsung menatap wajah istri nya. "Apa kamu sangat ingin kembali bekerja? aku takut kamu kelelahan, karena setelah melayani suami mu, kamu harus mengurus skripsi mu," ucap Vincent.


"Humm aku bisa mengatur nya, lagian tidak terlalu lelah, asal kan aku bisa membagi waktu ku dengan baik, bukan kah ini adalah keinginan mas dan juga ibu? Aku harus menunjukkan kemampuan ku," ucap Kania.


"Itu dulu, sekarang semua nya sudah berbeda," ucap Vincent.


"Bagi ku semua nya sama, sekarang aku semakin ingin bekerja lebih giat, aku juga ingin mengasah kemampuan ku," ucap Kania.


"Karena aku juga ingin mengikuti jejak suami ku," ucap Kania.


Vincent tersenyum dia mengelus wajah Kania, dia mau mencium bibir Kania namun di tahan oleh Kania. "Aku sedang halangan, jadi jangan mencoba melakukan nya," ucap Kania.


"Halangan? Kenapa tiba-tiba? bukan kah biasa nya perut kamu sakit?" tanya Vincent.


"Aku juga gak tau kenapa perut ku tidak terasa sakit sama sekali, tapi aku gak tau besok nya seperti apa," ucap Kania.


"Apakah aku boleh memeriksa nya? Aku takut terjadi sesuatu!"


"Tidak perlu berlebihan seperti itu mas, ini sudah hal normal, tapi untuk satu Minggu aku mohon berhenti dulu yah," ucap Kania.


Wajah Vincent terlihat kurang bersemangat, tapi dia tetap mengiyakan. "Oke baiklah, mari kita tidur," ucap Vincent.


Mereka berdua akhirnya tidur. Sementara Yuda di cafe nya sedang melamun.


"Huff, baru satu hari aku sudah sangat merindukan dia, kenapa sampai sekarang dia tidak menjawab pesan ku," batin Yuda.


"Kak Yuda tidak pulang?" tanya karyawan nya karena Cafe sudah tutup.


"Kalian boleh pulang dulu, aku akan di sini sebentar lagi," ucap Yuda. "Oohh baiklah kak, kalau begitu kami permisi dulu yah kak," ucap mereka dan pergi.


"Hari ini Cafe sangat ramai dari biasanya, tapi kenapa kak Yuda murung banget sih?"


"Ya iyalah murung, dia pasti merindukan pacar nya,"


"Ulfa benar-benar ngeselin banget, masa karena dia pergi hari ini kita bisa bisa melihat kebahagiaan kak Yuda."


"Sudah-sudah, apa yang kita bicarakan, sebaik nya kita mencari bus untuk pulang," ucap Teman nya lagi.

__ADS_1


Yuda menghubungi Ulfa terus menerus, sampai pada akhirnya di jawab, namun ternyata yang menjawab bukan Ulfa melainkan Bibik nya, yang terganggu dengan suara handphone Ulfa yang ketinggalan di rumah Bibik nya.


"Huff apa dia sengaja meninggalkan handphone nya karena aku menelpon terus?" batin Yuda.


__ADS_2