
Vincent mengelus rambut istri nya. "Ya sudah kalau begitu kamu lanjut tidur saja, aku mandi dulu," ucap Vincent.
Sementara di rumah Jeki, dia baru saja pulang jam sembilan malam, dia sengaja pulang lama karena tidak ingin pulang mengingat masalah pagi tadi."
Sesampainya di rumah dia melihat rumah sangat berantakan, dia melihat ke arah meja makan ternyata handphone itu masih di tempat yang sama.
Jeki menghela nafas panjang. Dia mencari keberadaan Minhui dan Saska.
Namun setelah melihat ke kamar Minhui, ternyata Saska masih bangun, sementara Minhui sudah terlihat sangat ngantuk.
"Papah... papah..." Saska melihat Jeki datang dia sangat senang sekali.
"Aku sangat ngantuk, aku mau istirahat," ucap Minhui menarik selimut nya dan langsung tidur karena Jeki sudah menggendong Saska.
Jeki melihat Minhui tidur membelakangi nya.
"Aku harus sabar, aku harus maklum karena dia sedang hamil mood nya pasti sangat sulit di atur."
Jeki membawa Saska keluar karena seperti nya dia bosan di kamar saja.
Jeki menemani Saska yang bermain sampai larut malam. Dia sebenarnya sudah sangat lelah dan mengantuk namun tidak bisa membiarkan Saska sendirian.
Dia memberikan Saska makanan sesuatu agar perut nya kenyang dan memberi nya susu.
Saska sudah kenyang saat nya Jeki menimang-nimang Jeki untuk tidur. Namun Saska tidak mau tidur dengan nya.
Jekia membawa nya ke kamar dan berbaring di samping Minhui.
Dan benar saja tidak beberapa lama Saska ketiduran.
Jeki membenarkan tidur Minhui.
"Apa dia sudah mengoleskan salep ke perut nya?" batin Jeki. Melihat tempat salep tidak berubah akhirnya dia mengoleskan nya perlahan.
"Anak papah di sana baik-baik saja kan?" tanya Jeki. "Papah sangat tidak sabar menunggu kamu lahir nak, oh iya Papah janji akan membeli apa saja yang kamu mau nanti."
Keesokan paginya..
"Good morning sayang..." sapa Kania kepada suami nya yang ternyata sudah di dapur.
"Morning sayang, kamu sudah bangun?" tanya Vincent.
"Apa yang mas lakukan di sini?" tanya Kania.
__ADS_1
"Aku mau bikin sarapan untuk kita," ucap Vincent.
"Ya ampun mas, aku bisa bangun untuk memasak."
"Sesekali suami yang membuat tidak menjadi masalah nak, dia juga harus tau pekerjaan wanita." ucap Bu Mona.
"Eh mamah," ucap Kania. "Sudah, duduk saja di sana, kita tunggu masakan suami kamu."
Kania mengangguk sambil tersenyum. Dia melihat ke arah Vincent yang sangat fokus memasak tampa ragu.
"Masakan sudah selesai, ayo kita makan."
Vincent dan Kania serta Bu Mona sarapan sebelum melakukan aktifitas masing-masing.
"Apa kamu hari ini keluar kota?" tanya Bu Mona.
Vincent menoleh ke arah Kania dan menatap mami nya.
"Mami tidak sengaja mendengar kalau kamu memiliki pekerjaan di luar kota akhir-akhir ini," ucap Bu Mona.
"Iyah mih, tapi seperti nya aku harus di sini beberapa hari."
"Karena istri kamu?"
Vincent tersenyum sambil mengangguk. "Mau bagaimana pun kalian harus memiliki masa depan yang cerah ketika sudah memiliki anak, dan sudah tua nanti kalian sudah tidak pusing lagi seperti mami sekarang ini."
Vincent dan Kania mengangguk. "Oh iya Kania, apa kamu benar-benar tidak mau memiliki anak begitu cepat?" tanya Bu Mona.
Kania tersenyum. "Humm aku masih mau menyelesaikan kuliah ku mah."
"Ya sudah kalau begitu, Kalau kalian berdua setuju dengan keputusan itu, tidak menjadi masalah."
Vincent berangkat bekerja. Namun kali ini dia tidak ke kantor melainkan menemui Jeki yang sudah menunggu nya dari tadi di sesuatu tempat.
"Sudah lama menunggu?" tanya Vincent. "Sialan, Kenapa kau sangat lama?" tanya Jeki.
"Sorry Bro."
Vincent melihat troli Saska dan ada Saska di dalam nya sedang tidur.
"Hari ini aku serahkan dia kepada mu, aku memiliki masalah dengan Minhui, aku mengkhawatirkan Saska."
Vincent mengangguk. "Baiklah kalau begitu," ucap Vincent.
__ADS_1
Hari ini Vincent tidak mungkin membawa Saska ke kantor nya, dia juga sudah ijin kepada Tomi untuk mengurus perusahaan Tampa dia.
"Kemana aku harus membawa Saska?" batin Vincent.. Namun terlintas saja yang ada di pikiran nya. Angan-angan yang selama ini dia impikan ketika mempunyai anak.
Kalau laki-laki dia akan membawa nya ke semua aktifitas nya dan kalau perempuan dia akan membawa berbelanja.
Sekarang dia akan membawa Saska menonton bola, melihat beberapa olahraga lainnya setengah hari.
Dan Saska sama sekali tidak rewel. Dia juga menikmati hari libur yang tidak sengaja karena anak nya itu.
Sementara di tempat lain Minghui sudah sangat khawatir, dia panik, cemas karena bangun-bangun dia tidak melihat Jeki dan Saska.
dia hanya mendapatkan surat kalau Jeki membawa Saska dan mengurus nya satu hari ini, Minhui tidak perlu khawatir namun ternyata Minhui sudah sangat pusing memikirkan Saska dimana.
Mau menghubungi siapa dia tidak tau, dia bingung sehingga tidak makan sama sekali.
Di waktu jam makan. Saska terlihat sudah mulai gelisah, Vincent tidak tau apa yang di mau oleh Saska. Dia berfikir Saska kurang enak badan karena tidak berhenti merengek akhirnya dia membawa ke klinik terdekat dari tempat mereka sekarang.
Setelah di periksa oleh bidan, ternyata Saska sangat lapar. Vincent tidak tau mau di kasih makan apa dan susu apa, untung saja bidan baik dan membantu Vincent.
Setelah dia kenyang Vincent melihat Saska sangat bersemangat dan sudah ceria lagi.
Vincent tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu, dia membawa anak nya ke kolam berenang anak, dan Saska sama sekali tidak takut.
Selepas dari sana Vincent juga mengajak Saska melihat atraksi lumba-lumba.
Hari semakin malam..Jeki baru sampai di rumah.
"Dimana Saska? Kemana Kamu membuat nya?" tanya Minhui membuat Jeki terkejut, Minghui sudah sangat emosi melihat Jeki pulang sendirian.
"Dia.. dia ada."
"Di mana Saska? kenapa kamu membawa nya tidak ijin kepada ku? Bagaimana kalau terjadi sesuatu kepada nya?"
Jeki baru ingat kalau Saska sedang bersama Vincent, namun Vincent sudah bilang kalau dia akan mengantar kan nya."
"Dia lagi saya Ayah nya, dia sedang bersama orang tua nya kamu tidak perlu khawatir."
"Ayah nya tidak mungkin bisa menjaga saska yang masih bayi, pokoknya sekarang kamu jemput dia dan jangan kembali kalau belum bawa dia."
Minhui mengusir Jeki.. Jeki berangkat ke tempat Vincent dan Saska berada.
Tidak beberapa lama mereka bertemu, Jeki melihat Vincent terlihat sangat bahagia dan mereka sangat dekat satu sama lain."
__ADS_1
"Ini sudah malam, sebaiknya aku membawa Saska pulang, Minhui sudah marah-marah karena tidak membawa Saska pulang." ucap Jeki.